Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Asuransi Islam dan Konvensional di Indonesia




A. Pengertian Asuransi
1.Asal usul asuransi
          Asal dari asuransi konvensional itu berasal dari masyarakat Babylonia, yang dikenal dengan perjanjian Hammurabi, perjanjian ini kemudian berkembang menjadi praktik perjanjian Bottomry yang dipraktikkan di negara Yunani. Dan kemudian meneyebar kenegara-negara lain.
Perjanjian asuransi modern berasal dari Eropa dalam bentuk perjanjian laut. Dimana yang isi dari perjanjian itu adalah uang diberikan kepada kapal atau kargo yang akan dibayar kembali dengan bunga yang banyak, jika berhasil dalam pelayaran, dan sebaliknya. Perjanjian asuransi laut pada masa itu diberikan kepada pedagang laut, supaya dapat digunakan sebagai pengganti kerugian yang mungkin dihadapi oleh kapal atau kargo, yaitu premi untuk pembayaran ganti rugi karena kegunaan modal dan resiko kerugian.

Kemudian tradisi ini diadobsi oleh Islam, seperti dalam penerapan hukuman diyat (denda) dalam pembunuhan menyerupai kesengajaan dan pembunuhan karena kesalahan. Karena menurut Islam ada banyak keuntunganya, yaitu:

  1. Mengurangi beban individu dalam masalah membayar ganti rugi
  2. Adat ini dapat menghindarkan pertumpahan darah,[1]
  3. Memberikan sumbangan yang besar bagi keselamatan masyarakat dan kabilah, bila terjadi suatu perang atau pertikaian.

2. Pengertian asuransi
       Kata Asuransi berasal dari bahasa Belanda Assurantie, yang dalam hukum Belanda disebut Verzekering yang artinya Pertanggungan.  Menurut C.Athur William Jr, asuransi adalah perlindungan terhadap resiko finansial oleh penanggung terhadap tertanggung. Di Indonesia Asuransi telah ditetapkan dalam Undang-Undang RI No.2 Tahun 1992, yang menyebutkan bahwa Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih dimana pihak penanggung mengikatkan diri terhadap tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan peruntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti atau untuk memberikan satu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

      Menurut Wirdjono Prodjodikoro, di Indonesia sebelum asuransi ditetapkan dalam Undang-Undang RI No.2 Tahun 1992, telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang pasal 246 yang berbunyi bahwa Asuransi pada umunya adalah suatu persetujuan dimana pihak yang menjamin berjanji kepada pihak yang dijamin untuk menerima sejumlah uang premi sebagai pengganti kerugian yang mungkin akan diderita oleh yang dijamin, karena akibat dari suatu peristiwa yang belum jelas akan terjadi.
      Definisi lain dari Asuransi adalah sebuah akad yang mengharuskan perusahaan asuransi (muammin) untuk memberikan kepada nasabah atau clien nya (muamman) sejumlah harta sebagai konsekuensi daripada akad itu, baik itu berbentuk imbalan, gaji, atau ganti rugi barang dalam bentuk apapun ketika terjadi bencana maupun kecelakaan atau terbuktinya sebuah bahaya sebagaimana tertera dalam sebuah akad (transaksi), sebagai imbalan uang yang dibayarkan secara rutin dan berkala atau secara kontan dari nasabah tersebut kepada perusahaan asuransi disaat hidupnya.
Dalam bahasa Arab asuransi disebut at-Ta’min yang memiliki arti memberi perlindungan, rasa aman, dan bebas dari rasa takut. Hal ini tercantum dalam surat al-Quraisy ayat 4.

ٱلَّذِيٓ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٖ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۢ ٤

Artinya :
Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan

       Jadi dari beberapa pengertian diatas dapat dikatakan bahwa yang namanya Asuransi adalah sejumlah jasa baik berupa uang, ganti rugi yang dibayarkan oleh suatu instalasi kepada para pekerjanya atau clienya, dengan kata lain asuransi juga memberi perlindungan kepada masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian akibat dari suatu peristiwa yang belum diketahui terjadinya. Jadi yang namanya asuransi itu melibatkan dua pihak yaitu penanggung dan tertanggung.
Baca Juga:


B. Macam-Macam Asuransi
       Semakin maju suatu negara semakin banyak pula macam-macam asuransi disana. Hal ini terjadi karena pada negara yang telah maju banyak ativitas-aktivitas yang menanggung resiko, dan agar aktivitas ini berhasil maka diperlukan adanya asuransi, sehingga orang atau pekerja yang melakukan aktivitas atau pekerjaan tersebut akan merasa sedikit nyaman.
Di Indonesia ada lima macam Asuransi, yaitu:
1. Asuransi Dwiguna
        Asuransi dwiguna adalah asuransi yang memiliki dua guna atau dua keperluan. Adapun dua guna asuransi ini adalah:

  • Perlindungan bagi keluarga, bila mana tertanggung meninggal dunia dalam jangka waktu pertanggungan.
  • Menjadi tabungan bagi tertanggung, bilamana tertanggung tetap hidup sampai pada akhir jangka masa pertanggungan.

      Asuransi ini dapat ditempuh dalam jangka waktu sepuluh tahun, lima belas, dua puluh sampai tiga puluh tahun.
2. Asuransi Jiwa
      Asuransi jiwa adalah asuransi yang bertujuan menanggung orang terhadap kerugian finansial yang tidak terduga yang disebabkan oleh seseorang yang meniggal terlalu cepat atau hidupnya terlalu panjang.
3. Asuransi Kebakaran
       Asuransi kebakaran bertujuan untuk mengganti kerugian yang disebabkan oleh adanya kebakaran. Dimana pola kerjanya adalah tertanggung membayar premi, sedangkan pihak asuransi akan memberikan jaminan atas resiko akibat dari kebakaran.
4. Asuransi atas bahaya yang menimpa anggota tubuh
      Asuransi ini ialah asuransi dengan sebab-sebab tertentu yang mengakibatkan kerusakan pada tubuh seseorang, seperti rusaknya mata, telinga, putusnya tangan dan patahnya kaki. Asuransi ini biasanya diterapkan kepada para pekerja industri yang menghadapi berbagai macam jenis kecelakaan yang terjadi padanya.
5.  Asuransi terhadap pertanggungan sipil
        Jenis asuransi ini adalah asuransi yang diadakan untuk perlindungan terhadap benda-benda penting dan berharga, seperti kendaraan, rumah, perhiasaan dan alat-alat perusahaan.

Berdasarkan Bab III pasal 3 UU No.2 Tahun 1992 yang dimana membagi jenis asuransi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Asuransi kerugian, Yaitu perjanjian asuransi yang memberikan jasa dalam penanggulangan resiko atas kerugian kehilangan manfaat dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti.
  2. Asuransi jiwa, Yaitu perjanjian asuransi yang memberikan jasa dalam penanggulagan resiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan.
  3. Reasuransi, Yaitu perjanjian asuransi yang memberikan jasa dan pertanggungan ulang terhadap resiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi kerugian dan perusahaan asuransi jiwa.

C. Hukum Asuransi dalam Islam
     Dalam suatu masalah pasti akan ada yang namanya suatu perbedaan pendapat, itu hal yang sangat wajar sekali. Apalagi dalam hal menentukan hukum dibolehkan atau tidaknya suatu hukum. Pembahasaan yang masuk bab ketiga ini akan disampaikan tentang pendapat-pendapat tentang Asuransi dalam agama Islam, disini ada empat bagian kelompok, yaitu Pertama, kelompok ulama fiqh yang mengharamkan asuransi. Kedua, kelompok yang memperbolehkan asuransi. Ketiga, kelompok yang memperbolehkan asuransi yang bersifat sosial dan mengharamkan yang bersifat semata-mata komersial. Keempat, yaitu kelompok yang memberikan status subhat kepada asuransi.
1. Kelompok pertama, yaitu kelompok ulama fiqih yang mengharamkan asuransi. Alasan mereka adalah:

  • Asuransi itu hakikatnya sama dengan judi, karena pihak tertanggung mengharapkan sejumlah harta tertentu seperti halnya judi,
  • Asuransi mengandung unsur ketidakjelasan atau ketidakpastian, karena tertanggung diwajibkan membayar sejumlah premi yang sudah ditentukan sedangkan berapa yang akan dibayarkan tidak jelas. Selain itu belum ada kepastian apakah jumlah premi yang dibayarkan itu akan diberikan kepada pihak tertanggung atau tidak,
  • Asuransi mengandung unsur riba, karena tertanggung akan memperoleh sejumlah uang yang lebih besar dari premi yang dibayarnya.

     Ulama-ulama yang masuk dalam kelompok ini adalah Syaikh Ibnu Abidin dari mahdzab Hanafi, Syaikh Muhammad Yusuf al-Qardhawi guru besar Universitas Qatar, dan Dr.Muhammad Mushlihudin Guru Besar Hukum Islam di Univ.London serta Prof.Dr.Wahbah al-Zuhaili Guru Besar Univ.Damaskus.
2. Kelompok kedua, yaitu kelompok yang memperbolehkan akitivitas asuansi. Kelompok ini terdiri dari tokoh-tokoh seperti Mustofa Ahmad Zarqa’ Guru Besar Fak.Syariah di Univ.Siria, Muhammad Yusuf Musa Guru besar Hukum Islam di Univ.Kairo, dan Abdul Rahman Isya’. Mereka memperbolehkan asuransi karena alasan berikut:

  • Tidak ada Nash Al-Qur’an dan Hadist yang melarang Asuransi,
  • Dalam asuransi terdapat kesepakatan dan kerelaan anatara kedua belah pihak,
  • Asuransi saling mneguntungkan anatara kedua belah pihak,
  • Asuransi merupakan akad mudharabah antara pemegang premis dan pihak perusahaan asuransi,
  •  Asuransi merupakan Syirkah ta’ Wuniah yang merupakan usaha bersama yang didasarkan atas asa tolong menolong

3. Kelompok ketiga, ulama fiqih kelompok ketiga ini seperti Muhammad Abu Zahro Guru Besar              Hukum Islam di Univ.Kairo, menurut beliau asuransi yang berunsurkan tolong menolong itu diperbolehkan dan dihalalkan. Namun yang semata-mata untuk komersial atau non sosial hukumnya haram.
4. Kelompok keempat, yaitu kelompok yang mengganggap bahwa asuransi adalah syuhbat (Samar atau tidak jelas hukumnya). Alasan asuransi dikatakan syuhbat karena perjanjian asuransi tidak dinyatakan secara jelas tentang kebolehan maupun ketidakbolehanya didalam al-Qur’an dan Hadist.
Baca Juga:



D. Contoh-Contoh Asuransi Dan Penerapanya Dikehidupan Sehari-Hari
     Contoh asuransi berarti merupakan bentuk-bentuk praktik asuransi yang ada. Disini diambilkan beberapa contoh yang masuk dalam kategori praktik asuransi:
1. Taspen
       Taspen merupakan suatu bentuk praktik asuransi dimana objeknya adalah para pegawai negeri, seperti guru, PNS (Pegawai Negeri Sipil). Taspen ini dimaksudkan untuk memberikan bekal bagi pegawai negeri sipil dan keluarganya yang telah mengakhiri masa pengabdianya (purna bakti) kepada negara. Dan biasanya taspen ini diberikan ketika para pegawai sipil sudah pensiun, dan saat pegawai negeri sipil meninggal dunia sebelum masa pensiun.
2. Asabri
        Asabri (Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yaitu merupakan salah satu dari contoh asuransi yang ada di Indonesia, dan asabri ini hanya diperuntukkan bagi Anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, baik anggota laut, udara maupun darat. Contoh asuransi ini juga diperuntukkan bagi kepolisian serta para pegawai negeri sipil yang ada di lingkungan Departemen Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia.
3. Astek
        Adapun asuransi sosial tenaga kerja diperuntukkan bagi setiap tenaga kerja yang ikut serta atau dipertanggungkan kedalam program Astek. Namun tidak semua tenaga kerja akan memperoleh perlindungan dari asuransi ini, yang mendapatkan hanya tenaga kerja yang didaftarkan oleh industrinya untuk dipertanggungkan kedalam program Astek. Untuk lebih menjamin terlaksananya perlindungan tenaga kerja, maka pemerintah telah mengeluarkan PP No.33 Tahun 1977, pasal 3, dikemukakan bahwa perusahaan wajib menyelenggarakan program Astek baik dengan mempertanggungkan tenaga kerjanya yang bekerja dalam suatu ikatan kerjadengan perusahaan dalam program Asuransi kecelakaan kerja dan asuransi kematian, maupun dengan memenuhi kewajiban dalam program tabungan hari tua kepada badan penyelenggara.
      Tidak semua perusahaan wajib mengikuti Astek, hanya saja perusahaan yang karyawanya sebanyak 100 pekerja atau lebih dan membayar upah para perkerjanya dengan upah minimal Rp.5.000.000,- dalam setiap bulanya.
4. Askes
       Askes ini merupakan contoh asuransi keempat, dimana bentuk asuransinya itu berupa penanggulangan biaya perobatan bagi yang namanya tercantum dalam syarat penerima Askes. Dimana syarat pesertanya adalah sebagai berikut:

  • Pegawai negeri yang masih aktif bertugas,
  • Pensiunan pegawai negeri dan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia,
  • Anggota keluarga dari nomor 1 dan 2, yaitu suami atau istri, anak-anak sah ataupun anak-anak angkat yang masih berumur dibawah 18 tahun dan belum menikah.

5. Pertanggungan kecelakaan penumpang
       Asuransi yang ini merupakan bantuan berupa jaminan kepada setiap penumpang kendaraan umum (setiap alat angkutan yang digunakan oleh masyarakat banyak), yang sewaktu pembelian tiket kendaraan tersebut lazimnya terus membayar iuran wajib.
Asuransi kecelakaan lalu lintas
      Yang menjadi peserta asuransi kecelakaan lalu lintas adalah setiap orang yang mengalami kecelakaan, dan pada waktu terjadi kecelakaan berada diluar kendaraan. Yang membayar iuran bentuk ini adalah para pemilik kendaraan, dimana iuranya itu dibayarkan ketika pengurusan surat tanda kendaraan bermotor (STNK), yaitu pos sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas jalan (SWKLJ)
E. Pengertian asuransi konvensional
      Asuransi yang ada di negara kita, Indonesia, ada dua macam asuransi yang dikenal luas, yaitu asuransi konvensional dan asuransi syariah. Asuransi konvensional merupakan asuransi yang didasarkan pada jual beli sehingga sudah pasti berbeda dengan jenis asuransi syariah. Asuransi konvensional akan mengembangkan misi perusahaan, yaitu sosial dan ekonomi.
      Asuransi konvensional selalu merujuk pada investasi dana yang bebas tapi dengan prinsip dan aturan-aturan tertentu. Tiap perusahaan penyedia asuransi juga memiliki kebijakan yang berbeda menyangkut kesejahteraan para peserta asuransi yang wajib disepakati dan ditaati bersama.
    Ada banyak hal yang bisa diasuransikan, seperti kesehatan, jiwa, kepemilikan, sampai anggota tubuh kita. Tiap peserta atau nasabah asuransi harus membayar premi asuransi tiap jangka waktu yang sudah ditentukan sebelumnya. Premi yang harus dibayar ada yang ditagih oleh langsung oleh petugas yang datang ke rumah atau bisa juga dibayarkan ke kantor asuransi atau ada juga yang memudahkan nasabahnya dengan transfer melalui atm.
F. Prinsip-prinsip asuransi konvensional.
        Ada beberapa prinsip yang membedakan antara asuransi konvensional dengan lainnya, termasuk asuransi syariah.

1. Insurable Interest
     Prinsip yang pertama ini berhubungan dengan hukum, yaitu hak hukum dalam hal mempertanggung jawabkan risiko yang berkaitan dengan keuangan karena perusahaan penyedia asuransi sudah pasti bergelut di dunia atau bidang keuangan. Karena itulah sebelum memutuskan memilih perusahaan asuransi lihatlah dulu reputasi dan kredibilitas perusahaan asuransi tersebut.
2. Perusahaan asuransi harus beritikad baik
       Walaupun asuransi konvensional berhubungand engan jual beli dan perusahaan penyedia asuransi bebas memakai dana investasi, perusahaan asuransi harus memiliki itikad baik. Petugas asuransi wajib menjelaskan sejelas-jelasnya tentang produk asuransi dan aturan yang berlaku kepada para calon nasabah sehingga mereka bisa mengerti hak dan kewajiban mereka.
      Selain prinsip-prinsip di atas, masih ada beberapa prinsip lainnya yang membedakan asuransi konvensional dengan asuransi syariah atau asuransi lainnya, yaitu proximae cause, idemity, subrogation dan kontribusi. Idemity adalah mekanisme penganggung dalam memberi kompensasi satu hal yang menimpa tertanggung dengan memakai ganti rugi secara keuangan (financial). Prinsip ini dilakukan secara tunai, penggantian, perbaikan dan membangun kembali.
      Lalu proximate cause yang merupakan peristiwa berantai yang disebabkan oleh satu peristiwa. ada lagi subrogation yang berhubungan dengan ganti rugi. Terakhir, kontribusi yang artinya sebuah kerjasama antara pihak penanggung (perusahaan asuransi) dan pihak tertanggung (nasabah).
     Agar kita bisa mengerti dan lebih jelas tentang perbedaan asuransi konvensional dengan asuransi lain, seperti asuransi syariah, berikut adalah sedikit info dan penjelasan tentang asuransi syariah. Asuransi syariah menurut Dewan Syariah Nasional merupakan sebuah usaha untuk saling melindungi dan saling tolong menolong di antara sejumlah orang yang  dilakukan melalui investasi dalam bentuk tabarru (aset) yang akan memberi pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui perikatan (akad) yang sesuai dengan syariah agama Islam.
     Asuransi syariah memberlakukan sebuah sistem yang menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang bakal dipakai untuk membayar klaim jika ada nasabah yang mengalami musibah. Dengan kata lain, peranan dari sebuah perusahaan asuransi syariah cuma pada pengelolaan operasional dan investasi dari sejumlah dana yang diterima saja.
     Pengelolaan dana yang diberlakukan dalam asuransi syariah memiliki sifat transparan dan dipakai sebesar-besarnya untuk mendatangkan keuntungan untuk para nasabah atau pemegang polis asuransi syariah.
       Sedangkan di dalam asuransi konvensional, selain berusaha mendatangkan keuntungan untuk nasabahnya, perusahaan asuransi juga berhak menentukan jumlah besaran premi dan berbagai biaya lainnya yang ditujukan untuk menghasilkan pendapatan.

Daftar Pustaka:

  • Ahmad Wardi Muslich,Fiqh Muamalah,(Jakarta:Amzah.2010).
  • KH.Ali Yafie, Asuransi dalam pandangan syariat islam,(Bandung:Mizan:1994).
  • Abdul Rahman Ghazali,dkk,Fiqh Muamalah,(Jakarta:kencana prenada media group.2010).

Baca Juga:

SUBCRIBE VIA EMAIL