Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Fikih Ibadah Lengkap Beserta Tata Cara dan Dalilnya -

fikih ibadah
Kaligrafi Arab


A. IBADAH 

1. Pengertian ibadah, ruang lingkup bahasan dan sistematikanya.
        Ibadah secara bahasa dan etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk.sedangkan menurut syara terminologi Ibadah adalah taat kepada allah denngan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasul-Nya.
       Menurut Ibnu Taimiyyah(661-778/1262-1327.M) yang dikemukakan oleh sebagian ulama ,bahwa ruang lingkup ibadah mencakup semua bentuk cinta dan kerelaan  kepada allah,baik dalam perkataan maupun perbuatan,lahir maupun batin.Termasuk dalam pengertian ini adalah shalat,zakat, haji,benar dalam pembicaraan ,menjalankan amanah, berbuat baik kepada orang tua, menjalin silaturrahmi, memenuhi janji, amar ma ruf nahi mungkar,berdoa, berzikir, membaca al-quran, rela menerima ketentuan allah dan lain sebagainya.
       Secara  garis besar  sisteamtika ibadah ini  sebaaiman dikemukakan  wabbah zuhayli sebagai berikut: Taharah, Salat, Penyelenggaraan jenazah, Zakat, Puasa, Haji dan Umrah, Nazar, Qurban dan Aqiqah, Sumpah dan kaffarah.
2. Tinjauan hakikat dan hikmah ibadah.
       Hakikat ibadah itu adalah  melaksanakan apa yang allah cintai dan ridhai dengan penuh ketundukan dan kerendahan diri kepada-Nya.
       Hikmah Ibadah adalah tidak Syirik, memiliki Ketakwaan, terhindar dar Kemaksiatan, berjiwa Sosial, tidah Kikir
3. Hubungan Ibadah  Dengan Iman
        Hubungan ibadah dengan iman adalah  sejauh mana keimanan  dapat mempengruhi  ibadah dan etik atau moral  dan sebaliknya.Keimanan atau moral adalah pondasi  dari semua ajaran islam , yaitu aqidah , syariah, dan akhlak.
4. Macam-macam ibadah ditinjau dari berbagai segi
1. Dari segi jenisnya (bentuk dan sifatnya berbeda)

  1. Ibadah Mahdah/ ibadah khusus. Ibadah mahdah atau ibadah khusus adalah ibadah yanng tata cara dan perinciannya telah ditentukan dan ditetapkan oleh allah .Contohnya adalah shalat,whudu, tayamum, haji, umrah, puasa dan mandi hadast.                                       
  2. Ibadah Ghairu Mahdah/ibadah umum. Ibadah Ghairu Mahdah adalah segala amalan yang diizinkan oleh allah .Contohnya adalah belajar,zikir,tolong-menolong ,dakwah dal lain lain

2. Dari segi kepentingan perorangan dan masyarakat

  1. Ibadah wajib, contohnya adalah shalat dan puasa
  2. Ibadah ijtima, contohnya adalah zakat dan haji.

3 Dari segi cara pelaksanaanya

  1. Ibadah jasmaniah dan rohaniah, contohnya  adalah shalat dan puasa
  2. Ibadah ruhiyah dan malliyah, contohnya  adalah zakat
  3. Ibadah jasmaniah ,ruhiyah,dan amaliah, contohnya adalah haji

4. Dari segi bentuk dan sifatnya

  1. Ibadah berupa pekerjaan  tertentu dengan perkataan dan perbuatan , contohnya adalah shalat, zakat, puasa , dan haji.
  2. Ibadah berupa  ucapan, contohnya adalah membaca al-quran                     
  3. Ibadah berupa perbuatan  yang tidak ditentukan bentuknya, contohnya membela diri, menolong orang, dll.   

B. THAHARAH

1. Pengertian, hakikat, dan fungsi thaharah.
        Thaharah menurut bahasa berarti bersih, suci terbebas dari kotoran. Seperti tersebut dalam  surat Al – Baqorah ayat 222 :

إنّ الله يحبّ التّوّابين و يحبّ المتطهّرين

Yang artinya : “ Sesungguhnya Allah menyukai orang – orang yang bertaubat dan orang – orang yang mensucikan diri
      Menurut syara’ adalah mengangkat,menghilangkan atau membersihkan diri, pakaian, tempat, dan benda-benda lain dari najis dan hadas menurut cara-cara yang ditentukan oleh syariat islam.
Fungsi thaharah dalam kehidupan :
1. Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal
Di antaranya adalah kebersihan lingkungan tempat tinggal kita bersama-sama ayah, ibu, kakak, adik, dan sebagainya.
2. Menjaga kebersihan lingkungan tempat ibadah
Kita mengetahui bahwa tempat ibadah – masjid, mushalla, atau langgar – adalah tempat yang suci. Oleh karena itu, Islam mengajarkan untuk merawatnya supaya orang yang melakukan ibadah mendapatkan ketenang-an, dan tidak terganggu dengan pemandangan yang kotor atau bau di sekelilingnya.
3. Menjaga kebersihan lingkungan tempat umum.

2. Kaifiat (cara-cara) dan sarana thaharah.
        Najis terbagi menjadi tiga macam: najis mughallazhah (berat), najis mutawassithah (sedang), dan najis mukhaffafah (ringan).
1. Najis Mughallazhah
         Najis mughallazhah adalah najis berat, yang termasuk dalam najis ini adalah anjing, babi, dan binatang yang lahir dari keduanya
        Cara mensucikan najis mughallazhah adalah disamak dengan membasuhnya dengan air sebanyak tujuh kali dan salah satu basuhannya dicampur dengan debu yang suci. Adapun cara lain bisa menggunakan lumpur atau pasir yang mengandung debu.
2. Najis Mutawassithah
       Najis mutawassithah adalah najis tingkat sedang. Najis ini ada dua bagian:

  1. Najis hikmiah yaitu yang kita yakini adanya tetapi tidak nyata zatnya,bau,rasa,dan warnanya.seperti kencing yang sifatnya sudah lama hilang sehingga sifatnya telah hilang,cara mensucikannya cukup dengan mengalirkan air diatasnya.
  2. Najis ‘ainiyah yaitu yang masih ada zat,warna,rasa,dan baunya cara mensucikannya hendaklah menhilangkan zat,bau,rasa, dan warnanya.

3. Najis Mukhaffafah
        Najis mukhaffafah adalah najis yang ringan. Yang masuk dalam katagori najis mukahaffafah hanyalah kencing bayi laki-laki yang belum makan apa-apa selain air susu ibu dan umur belum mencapai dua tahun. Adapun kencing bayi perempuan tidak masuk dalam katagori mukhaffafah, melainkan mutawassitha.Cara mensucikan najis mukhaffafah cukup dengan memercikkan air pada tempat yang terkena najis.
   
    Sarana thaharah
Ditinjau dari segi kegunaan sebagai sarana bersuci (thaharah), air dibagi menjadi empat macam:
1. Air suci yang bisa menyucikan . Yang bisa masuk dalam kategori ini adalah tujuh macam air yang keluar dari perut bumi atau yang turun dari langit (air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air sumber, air es atau salju, dan air embun).
2. Air suci dan tidak dapat mensucikan

  1. Air musta’mal, yaitu air yang sudah digunakan untuk menghilangan hadas atau najis. Air ini hanya digunakan untuk kebutuhan selain bersuci, seperti minum, memasak dan lain sebagainya. 
  2. Air buah-buahan atau tubuh-tumbuhan semacam air kelapa, dan air semangka.
  3. Air mutlak yang bercampur dengan benda suci yang larut, sehingga menyebabkan terjadinya perubahan mencolok pada sifat air. Contohnya, air teh 
  4. Air suci dan dapat mensucikan namun makruh digunakan, Air ini makruh digunakan karena ada efek negatif, yaitu air yang panas terkena sinar matahari. 
  5. Air yang bernajis

3. Hubungan thaharah dengan kebersihan, kesehatan dan keindahan lingkungan.
1. Hubungan dengan kebersihan

  • membersihkan badan dari hadas ‘’orang yang selalu menjaga wuduk akan dijada allah dari      mara bahaya’’
  • membersihkan anggota tubuh.
  • membersihkan hati dari segala ahlak yang tercela seperti uzub,ria,dengki,pemarah,dengan tujuan supaya bersifat dengan ihlas wara’tawaduk.
  • membersihkanruh yang ada dalam hati dari kesibukan yang hina,tapi hiasilah dengan zikir dan asma allah semata2 hanya ingat kepada allah.

2. Hubungan dengan kesehatan.
       Fakultas kedokteran di iskandariah mesir mengatakan bahwa tudung bagian dalam yang tidak dibasuh air pada umum berwarna pucat,berminyak serta berdebu dan penuh dengan kotoran,sedangkan orang yang disiplin shalat dan berwuduk tidak didapatkan kumpulan bakteri  maupun mikroba.
3. Hubungan dengan keindahan lingkungan.
      Tugas menjaga lingkungan adalah amanah allah mewajibakan kepada hambanya menjaga lingkungan dan allah berfirman (Q,S al-a’raf 5)

Dan janganlah kamu membuat kerusakan dmuka bumi sesudah allah memperbaikinya

4. Wudhu’, mandi dan tayamum
1. Wudhu’
       Syarat wuduk adalah : Islam, Sudah balig, Tidak berhadas besar, Memakai air mutlak, Tidak ada yang menghalangi air wuduk
        Rukun wudhu’ adalah :  Niat ,  Membasuh muka, Membasuh tangan hingga siku, Menyapu kepala, Membasuh kaki hingga mata kaki dan Tertib.
       Hal-hal yang membatalkan wudhu’ adalah : Tidur baring dan tidur mengiring. Hilang ingatan disebabkan gila, mabuk, atau pengsan. Keluar benda pejal, cecair atau angin dari dubur atau qubul. Bersentuh kulit yang bukan muhrim  tanpa berlapik, Menyentuh kemaluan atau dubur dengan tapak tangan atau perut anak jari.
2. Mandi
       Mandi berarti menuangkan air keseluruh tubuh sesuai dengan firman allah dalam Q,S al-maidah:6

واب كنتم جنبا فاطهرا. . .    . . .

Dan jika kamu junub maka mandilah
     Perkara yang mewajibkan mandi : Keluar mani yang disertai syahwat, Setelah haid bagi perempuan, Selesai melahirkan (nifas), Meninggalnya seseorang.
Rukun mandi adalah : Niat, Menyiram air keseluruh tubuh secara merata, Membersihkan kotoran yang masih melekat.
3. Tayamum
        Rukun tayamum adalah : Niat, Tasmiah (Membaca Basmalah), Menepuk Debu Tanah Yang Suci, Menyapu Muka Kedua-dua Belah Tangan Hingga Ke Pergelangan dan siku
.Syarat tayammum adalah :Telah masuk waktu shalat, Sudah berusaha mencari air tetapi tidak ditemukan, Berhalangan menggunakan air seperti sakit.

C. SHALAT

1. Arti, kewajiban, hikmah, dan kaifiat sholat
        Secara etimologi shalat berarti do’a dan secara terminology (istilah), para ahli Fiqih mengartikan secara lahir dan hakiki. Secara lahiriah Shalat berarti ‘Beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah menurut syarat-syarat yang telah ditentukan’
      Solat merupakan salah satu kewajiban yang menduduki kedua setelah syahadat dalam rukun islam. Sehingga di dalam Al-Qur’an dan hadits banyak sekali dijelaskan mengenai kewajiban untuk mengerjakan solat. Diantara dalil Al-Qur’an yang menjelaskan mengenai kewaiban salat adalah:




Artinya:“Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS.Al-Baqarah :105)

 Hikmah shalat dalam kehidupan dapat ditinjau dari berbagai aspek :
1. Tinjauan dari segi moral, Shalat merupakan benteng hidup kita agar jangan                                   sampai terjerumus ke dalam perbuatan keji dan munkar.
2. Tinjauan dari segi fisik (kesehatan)

  1. Bersedekap, meletakkan telapak tangan kanan diatas pergelangan tangan kiri merupakan istirahat yang paling sempurna bagi kedua tangan sebab sendi-sendi, otot-otot kedua tangan berada dalam posisi istirahat penuh. 
  2. Ruku’, yaitu membungkukkan badan dan meletakkan telapak tangan diatas lutut sehingga punggung sejajar merupakan suatu garis lurus. Sikap yang demikian ini akan mencegah timbulnya penyakit yang berhubungan dengan ruas tulang belakang, ruas tulang pungung, ruas tulang leher, ruas tulang pinggang, dsb.
  3. Sujud, sikap ini menyebabkan semua otot-otot bagian atas akan bergerak. Hal ini bukan saja menyebabkan otot-otot menjadi besar dan kuat, tetapi peredaran urat-urat darah sebagai pembuluh nadi dan pembuluh darah serta limpa akan menjadi lancar di tubuh kita. 
  4. Duduk Iftrasy (duduk antara dua sujud & tahiyat awal), posisi duduk seperti ini menyebabkan tumit menekan otot-otot pangkal paha , hal ini mengakibatkan pangkal paha terpijit. Pijitan tersebut dapat menghindarkan atau menyembuhkan penyakit saraf pangkal paha (neuralgia) yang menyebabkan tidak dapat berjalan.
  5.  Duduk tawaruk (tahiyat akhir), duduk seperti ini dapat menghindarkan penyakit bawasir yang sering dialami wanita yang hamil. 
  6. Salam, diakhiri dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal ini sangat berguna untuk memperkuat otot-otot leher dan kuduk, selain itu dapat pula untuk menghindarkan penyakit kepala dan kuduk kaku.


KAIFIAT SHOLAT RASULULLAH
       Salah satu ibadah wajib dan paling utama dalam Islam adalah sholat. Sholat bahkan dalam suatu hadits disebutkan sebagai pembedan antara orang yang muslim dan diluar Islam. Begitu pentingnya sholat dalam Islam sehingga dikatakan oleh Rasulullah salallahu alaihi wasalam sebagai tiang agama.
      Oleh karena itu tentunya dalam mendirikan sholat kita harus bersungguh-sungguh, tidak main-main. Dalam artian bahwa dalam mendirikan sholat kita harus bersungguh-sungguh jangan sampai sholat kita jadi tidak syah atau tidak diterima tuhan.
2. Pembagian sholat ditinjau dari berbagai aspek
Shalat dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
1. Shalat Fardhu, yaitu shalat yang apabila ditinggalkan dengan sengaja, maka pelakunya telah bermaksiat kepada Allah. Dan shalat fardhu ini terbagi menjadi dua macam:

  • Fardhu ‘Ain, yang wajib dilakukan oleh setiap orang yang baligh dan berakal, baik laki-laki maupun perempuan, seperti shalat lima waktu.
  • Fardhu Kifayah, yaitu jika sebagian kaum muslimin ada yang melaksa-nakannya, maka kewajiban tersebut telah gugur dari sebagian yang lain seperti shalat mayit.

2. Shalat Sunnah, yaitu shalat yang apabila ditinggalkan dengan sengaja, maka pelakunya tidak berarti melakukan kemaksiatan kepada Allah, seperti shalat sunnah rawatib, shalat witir, dan shalat-shalat lainnya. Tetapi shalat sunnah ini dianjurkan untuk dilaksanakannya, dan dimakruhkan untuk ditinggalkan
Macam-Macam Shalat Sunnah
    1. Shalat sunnah yang disunnahkan dilakukan secara berjamaah, seperti: Shalat Idul Fitri, Shalat Idul Adha, Shalat Kusuf (Gerhana Matahari),  Shalat Khusuf (Gerhana Bulan), Shalat Istisqo’, Shalat Tarawih,  Shalat Witir yang mengiringi Shalat Tarawih
     2. Shalat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah

  1. Shalat Rawatib (Shalat yang mengiringi Shalat Fardlu)
  2. Shalat Tahajjud (Qiyamullail)
  3. Shalat Witir di luar Ramadhan
  4. Shalat Dhuha
  5. Shalat Tahiyyatul Masjid
  6. Shalat Taubat
  7. Shalat Tasbih
  8. Shalat Istikharah
  9. Shalat Hajat
  10. Shalat 2 rakaat di masjid sebelum pulang ke rumah
  11. Shalat Awwabiin
  12. Shalat Sunnah Wudhu’
  13. Shalat Sunnah Mutlaq.

3. Rukun dan syarat sholat
a. Rukun Shalat

  1. Berdiri tegak
  2. Takbiiratul-ihraam,
  3. Membaca Al-Fatihah
  4. Ruku’
  5. I’tidal atau Berdiri tegak setelah ruku’
  6. Sujud dengan tujuh anggota tubuh
  7. Duduk di antara dua sujud
  8. Thuma’ninah dalam semua amalan shalat
  9. Tertib urutan untuk tiap rukun yang dikerjakan
  10. Tasyahhud Akhir
  11. Duduk Tasyahhud Akhir
  12. Shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  13. Dua Kali Salam

b. Syarat wajib salat adalah sebagai berikut:

  1. Islam
  2. Baligh, 
  3. Berakal. 
  4. Suci dari hadats
  5. Suci seluruh anggota badan pakaian dan tempat
  6. Menutup aurat
  7. Masuk waktu yang telah ditentukan
  8. Menghadap kiblat
  9. Mengetahui mana rukun wajib dan sunah.

c. Syarat sah sholat adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui masuk waktu. 
  2. Suci dari hadas kecil dan hadas besar
  3. Suci badan, pakaian dan tempat dari na’jis hakiki. 
  4. Menutup aurat. 
  5. Menghadap kiblat. 
  6. Niat. Golongan hanafiyah dan Hanabilah memandang niat sebagai syarat sah shalat, demikian juga pendapat yang lebih kuat dari kalangan Malikiyah.

4. Keutamaan sholat dan hikmah sholat berjamaah.
Keutamaan sholat berjamaah adalah :

  1. Mendapatkan pahala 27 kali lebih besar dibandingkan dengan shalat sendirian
  2. Diangkat kedudukannya dan dihapuskan dosanya
  3. Didoakan oleh Malaikat
  4. Diselamatkan dari neraka dan terbebas dari sifat munafik
  5. Mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat

Hikmah sholat berjamaah adalah :

  1. Sebagai bentuk ibadah kepada Allah melalui pertemuan ini dalam rangka memperoleh pahala dari-Nya dan takut akan adzab-Nya.
  2. Menanamkan rasa saling mencintai. Melalui pelaksanaan shalat berjamaah, akan saling mengetahui keadaan sesamanya. 
  3. Ta'aruf (saling mengenal). 
  4. Memperlihatkan salah satu syi'ar Islam terbesar. Jika seluruh umat Islam shalat di rumah mereka masing-masing, maka tidak mungkin diketahui adanya ibadah shalat di sana.
  5. Memperlihatkan kemuliaan kaum muslimin. Yaitu jika mereka masuk ke masjid-masjid dan keluar secara bersamaan, maka orang kafir dan munafik akan menjadi ciut nyalinya 
  6. Memberi tahu orang yang bodoh terhadap syariat agamanya
  7. Memberikan motifasi bagi orang yang belum bisa rutin menjalankan shalat berjamaah, 
  8. Membiasakan umat Islam untuk senantiasa bersatu dan tidak berpecah belah
  9. Membiasakan seseorang untuk bisa menahan diri dari menuruti kemauan egonya. 
  10. Membangkitkan perasaan orang muslim dalam barisan jihad, .
  11. Menumbuhkan perasaan sama dan sederajat dan menghilang status sosial yang terkadang menjadi sekat pembatas di antara mereka.
  12. Akan mendapatkan pahala dan kebaikan yang berlipat ganda.
  13. Menjadi sarana untuk berdakwah, baik dengan lisan maupun perbuatan. Berkumpulnya kaum muslimin pada waktu-waktu tertentu akan mendidik mereka untuk senantiasa mengatur dan menjaga waktu.

D. JENAZAH

1. Memandikan dan Mengafani jenazah.
1. Memandikan jenazah
      Hukum memandikan jenazah orang muslim menurut jumhur ulama adalah fardhu kifayah, artinya kewajiban ini dibebankan kepada seluruh mukallaf ditempat itu, tetapi jika sudah dilakaukan oleh sebagian orang maka gugurlah kewajiban seluruh mukallaf
a. Orang yang utama memandikan jenazah

  • Untuk mayat laki-laki, orang yang diutamakan adalah yang diwasiatkan kemudian bapak, kakek, saudara terdekat, muhrimnya dan istri.
  • Untuk mayat perempuan, orang yang diutamakan adalah ibunya, neneknya, keluarga terdekat dari pihak wanita serta suaminya.
  • Untuk mayat anak laki-laki dan anak perempuan, untuk anak laki-laki boleh perempuan yang memandikannya maupun sebaliknya.

b. Syarat bagi orang yang memndikan jenazah

  • Muslim, beralkal, dan baligh
  • Berniat memandilkan jenazah
  • Jujur dan sholeh
  • Terpercaya, amanah, mengetahuihukum memandikan mayat dan memandikannya sebagaimana yang dianjurkan sunnah serta mampu menutupi aib si mayat.

Tata cara memandikan jenazah :

  1. Siapkan terlebih dahulu segala sesuatu yang dibutuhkan untuk keperluan mandi, seperti : tempat pemandian yang tertutup, air yang cukup, sabun, air kapur barus, sarung tangan, gulungan kain kecil-kecil, kain basahan, handuk, dll.
  2. Ambil kain penutup dan ganti kain basahan agar aurat utamanya tidak kelihatan.
  3. Pakailah sarung tangan dan bersihkan jenazah dari segala kotoran.
  4. Bersihkan seluruh badannya, dan tekan perutnya berlahan-lahan.
  5. Tinggikan kepala jenazah agar air tidak mengalair kearah kepala.
  6. Bersihkan rongga mulut jenazah menggunakan kain basah.
  7. Memandikan jenazah dengan air sabun dan air mandinya yang terakhir dicampur dengan wangi-wangian.
  8. Perlakukan jenazah dengan lembut ketika membalik dan menggosok anggota tubuhnya.
  9. Keringkan tubuh jenazah setelah dimandikan dengan kain sehingga tidak membasahi kain kafannya.
  10. Selesai mandi, sebelum dikafani berilah wangi-wangian yang tidak mengandung alcohol.

2. Mengkafani jenazah
       Mengkafani jenazah adalah menutupi atau membungkus jenazah dengan sesuatu yang dapat menutupi tubuhnya walau hanya sehelai kain. Hokum mengafani jenazah muslim yang bukan mati syahid adalah fardhu kifayah.
Hal-hal yang disunnahkan dalam mengkafani jenazah :

  1. Kain kafan yang digunakan hendaknya kain kafan yang bagus, bersih dan menutupi seluruh tubuh si mayit.
  2. Kain kafan hendaknya berwarna putih.
  3. Jumlah kain kafan untuk laki-laki 3 lapis, dan perempuan 5 lapis.
  4. Kain kafan hendaknya diberi wangi-wangian twerlebih dahulu.
  5. Tidak berlebih-lebihan dalam mengafani jenazah.

Adapun tata cara mengkafani jenazah adalah :

  1. Bentangkan kain kafan sehelai demi sehelai, yang paling bawah lebih lebar dan luas, serta setiap lapisan diberi kapur barus.
  2. Angkatlah jenazah dalam keadaan tertutup dengan kain dan letakkan diatas kain kafan memanjang lalu ditaburi wangi-wangian.
  3. Tutuplah lubang-lubang (hidung,telinga,mulut,kubul dan dubur) dengan kapas
  4. Selimutkan kain kafan sebelah kanan yang paling atas, kemudian ujung lebar sebelah kiri, selanjutnya lakukan seperti ini selembar demi selembar dengan cara yang lembut.
  5. Ikatlah dengan tali yang sudah disiapkan sebelumnya dibawah kain kafan tiga atau lima ikatan.
  6. Jika kain kafan tidak cukup untuk menutupi seluruh badan mayat maka tutuplah bagian kepalanya dan bagian kakinya yang terbuka boleh ditutup dengan daun kayu, rumput atau kertas.
  7. Kain kafan untuk mayat perempuan terdiri dari 5 lapis, yang terdiri :


  • Lembar 1 untuk menutupi seluruh badan
  • Lembar 2 sebagai kerudung kepala
  • Lembar 3 sebagai baju kurung
  • Lembar 4 untuk menutupi pinggang hingga kaki
  • Lembar 5 untuk menutupi pinggul dan paha.

2. Sholat jenazah dan ziarah kubur.
1. Sholat jenazah
       Menurut ijma’ ulama hukum penyelenggaraan sholat jenazah adalah fardhu kifayah.
Orang yang paling uatama untuk melaksanakan sholat jenazah adalah :

  1. Orang yang diwasiatkan simayat dengan syarat tidak fasik/tidak ahli bid’ah.
  2. Ulama atau pemimpin terkemuka ditempat itu.
  3. Orang tua si mayat dan seterusnya keatas.
  4. Anak-anak si mayat dan seterusnya kebawah.
  5. Keluarga terdekat.
  6. Kaum muslimin seluruhnya.

Rukun sholat jenazah :

  • Berniat mensholatkan jenazah.
  • Takbir empat kali.
  • Berdiri bagi yang kuasa.

Tata cara melakukan sholat jenazah adalah :

  1. Niat sholat jenazah 
  2. Takbir pertama dimulai dengan mengangkat tangan dan membaca Al- Fatihah.
  3. Takbir kedua dan membaca sholawat.
  4. Takbir ketiga dan membaca do’a untuk si mayit.
  5. Takbir keempat lalu diam sejenak dan membaca do’a.

2. Ziarah kubur.
        Ziarah kubur adalah berkunjung ke makam orang islam yang sudah wafat, baik orang muslim biasa, orang shalih, ulama, wali atau nabi. Ulama ahlussunnah sepakat bahwa hukum ziarah bagi kaum laki-laki adalah sunnah secara mutlak, sedangkan bagi kaum perempuan yang telah mendapat izin dari suaminya jika ziarahnya tidak menimbulkan hal yang terlarang maka hukumnya sunnah,dan jika ziarahnya menimbulkan hal yang terlarang maka hukumnya haram.
Hikmah ziarah kubur :

  • Mengingatkan orang yang masih hidup akan datangnya kematian.
  • Mempertebal keimanan terhadap adanya alam akhiarat.
  • Memperbaiki hati yang butuk atau mental yang rusak.
  • Memberi manfa’at kepada mayit secara khusus dan ahli kubur secara umum berupa pahala dari bacaan Al-Qur’an.

Adap kesopanan ziarah kubur :

  • Pilihlah sa’at-sa’at yang afdhol, seperti hari jum’at, hari raya dll.
  • Bacalah salam ketika masuk pintu pekuburan untuk para ahli kubur.
  • Bacalah surat yasin atau ayat Al-Qur’an lainnya.
  • Mengambil pelajaran bahwa kita akan mengalami seperti yang dialami mayit yang kita ziarahi.

E. ZAKAT 

1. Pengertian zakat dan perbedaannya dengan pajak (usyur, jizyah dan kharaj)
        Zakat menurut lughot artinya suci dan subur. Menurut istilah syara’ ialah mengeluarkan sebahagian harta benda atas perintah Allah, sebagai shadaqah wajib kepada mereka yang telah ditetapkan menurut syarat-syarat yang telah ditentukan oleh hukum islam. Defenisi pajak menurut Prof. Dr. PJA. Adriani seorang sarjana diahli bidang perpajakan menyatakan bahwa pajak adalah iuran wajib pada negara yang dapat dipaksakan yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan yang berlaku yang langsung dapat ditunjuk dan gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum yang berhubungan dengan tugas pemerintah.
Pajak dalam syariat islam terbagi 3, yaitu:

  • Al-jizyah (upeti) yaitu pungutan atas jiwa yang dikenakan atas ahlul kitab yang berdomisili di negri islam.
  • Al-kharaj (pajak bumi) yaitu dikenakan atas ahlul kitab yang menggarap tanah atau lahan milik negara islam.
  • Al-usyur yaitu pungutan atas para pedagang ahlul zimmah (orang kafir yang menghuni negri islam).

2. Wajib zakat, mustahik zakat dan harta yang wajib dizakati.
1. Hukum mengeluarkan zakat
Mengeluarkan zakat hukumnya wajib bagi tiap-tiap muslim yang mempunyai harta benda menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh hukum islam. Orang yang mengingkari wajibnya zakat dihukum kafir.
Qs. Al-bayyinah: 5

وَمَااُمِرُوْااِلاَّلِيَعْبُدُوااللهَ مُخلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَوَيُقِيْمُواالصَّلوةَوَيؤْتُواالزَّكوةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”.

2. Mustahik zakat
Sesuai dengan keterangan Qs. At-taubah ayat 60 yang berhak menerima zakat , yaitu:

  1. Fakir, yaitu orang yang sangat miskin, tidak memiliki harta, tidak sanggup untuk bekerja.
  2. Miskin, yaitu orang yang tidak dapat mencukupi hajat nafkahnya meskipun ia mempunyai pekerjaan
  3. Amil, (orang yang mengurusi zakat) 
  4. Mu’allaf, dapat dikategorikan menjadi 2 golongan: a. Orang yang berpengaruh atau pemimpin-pemimpin golongan yang masih lemah iman karena baru masuk islam. Zakat diberikan dengan tujuan supaya imannya bertambah kuat sehingga tidak ditinggalkan dan bertambah pengikutnya. b. Orang yang memasuki agama islam tetapi masih lemah kemauannya. Zakat diberikan dengan tujuan agar hatinya bertambah mantap dalam memeluk islam.
  5. Hamba sahaya (orang yang belum merdeka
  6. Gharim, orang yang memiliki hutang bukan untuk kepentingan maksiat.
  7. Fisabilillah, dikategorikan menjadi 2 golongan: a. Orang yang berperang guna meninggikan agama Allah. b. Orang yang berusaha dan sedang mengerjakan segala aktifitas dengan maksud memelihara, menegakkan dan mengembangkan ajaran Allah SWT.
  8. Ibnu sabil, yaitu orang yang kehabisan bekal dalam bepergian dengan maksud baik. Seperti, sedang menuntut ilmu, berdakwah dan menyiarkan agama islam.

3. Harta yang wajib dizakati
Harta yang wajib dizakati diantaranya:
1. Zakat perdagangan
        Setiap harta hasil berniaga atau berdagang wajib dizakatkan meliputi barang dagang, ditambah uang kontan, dan piutang yang masih mungkin kembali. Besar zakatnya 2,5 persen dikeluarkan setelah dikurangi utang, telah mencapai nisab (85 gram emas) dan telah berusia satu tahun haul.
2. Zakat pertanian dan buah-buahan
        Hasil pertanian dan panen buah-buahan juga wajib untuk dizakatkan. Nisab zakat pertanian dan buah-buahan seperti nisab makanan pokok yaitu 930 liter bersih, zakat yang dikeluarkan bila diairi dengan air hujan atau air sungai 10 persen dan bila diairi dengan air yang memakan biaya lain seperti diangkut kendaraan, menggunakan pompa dan sebagainya, zakat yang dikeluarkan 5 persen dan dizakati setiap panen.
3. Zakat hewan ternak
Zakat hewan ternak unta,

  • 5 sampai 9 ekor unta, zakatnya 1 ekor kambing.
  • 10 sampai14 ekor unta, zakatnya 2 ekor kambing.
  • 15 sampai 19 ekor unta, zakatnya 3 ekor kambing.
  • 20 sampai 24 ekor unta, zakatnya 4 ekor kambing.

Zakat hewan ternak sapi atau kerbau,

  • 30 – 39 ekor sapi/kerbau,  zakatnya 1ekor sapi jantan/betina usia 1 tahun.
  • 40 – 59 ekor sapi/kerbau, zakatya 2 ekor anak-anak sapi betina usia 2 tahun.
  • 60 – 69 ekor sapi/kerbau, zakatnya 2 ekor anak sapi jantan.
  • 70 – 79 ekor sapi/kerbau, zakatnya 2 ekor anak sapi betina usia 2 tahun ditambah 1 ekor anak sapi jantan 1 tahun dan seterusnya.

Zakat hewan ternak kambing atau domba,

  • 0 – 120 ekor, zakatnya 1 ekor kambing.
  • 120 – 200 ekor, zakatnya 2 ekor kambing.
  • 201 – 399 ekor, zakatnya 3 ekor kambing.
  • 400 – 499 ekor, zakatnya 4 ekor kambing dan seterusnya setiap 100 ekor zakatnya ditambah 1 ekor kambing.

4. Zakat rikaz
      Setiap penemuan harta terpendam dalam tanah selama bertahun-tahun atau rikaz, berupa emas atau perak yang tidak diketahui lagi pemiliknya maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 20 persen.
5. Zakat profesi
       Zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi jika sudah mencapai nilai tertentu (nisab) profesi yang dimaksud mencakup profesi pegawai negri atau swasta. Seorang pegawai dengan penghasilan minimal 520 kilogram beras wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5 persen.
6.  Zakat investasi
        Zakat investasi dikenakan terhadap harta yang diperoleh dari hasil investasi. Contohnya, bangunan atau kendaraan yang disewakan. Zakat investasi dikeluarkan pada saat menghasilkan, sedangkan modal tidak dikenai zakat. Besar zakat yang dikeluarkan 5 persen untuk penghasilan kotor dan 10 persen untuk penghasilan bersih.
7. Zakat tabungan
        Setiap muslim yang memiliki uang dan telah disimpan terhitung mencapai satu tahun dan nilainya setara 85 gr emas wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 persen.
8. Zakat emas atau perak.
        Setiap muslim yang memiliki simpanan emas atau perak selama satu tahun dan nilai minimalnya mencapai 85 gr emas wajib mengeluarkan zakat sebanyak 2,5 persen.

3  Hikmah dan fungsi social zakat  
      Hikmah zakat adalah : Menyucikan jiwa dari sifat kikir, Mendidik untuk selalu memberi., Mendekatkan diri kepada allah. Sebagai ungkapan rasa syukur nikmat. Sebagai terapi hati dan  memperkaya batin. Sebagai pembersih dan pemberi berkah pada harta yang dimiliki.
       Fungsi sosial zakat adalah : Zakat bisa membantu fakir miskin dalam memenuhi kebutuhannya. Zakat mampu memperkuat tali persaudaraan dan ukhuwah islamiyah. Menunaikan zakat bisa menghilangkan rasa iri hati dan dengki yang bersemayam di dada fakir miskin. Menunaikan zakat bisa menambah harta dan maningkatkan keberkahan harta.

F. PUASA

1. Pengertian, Rukun, Syarat, dan yang Membatalkan Puasa
        Menurut bahasa puasa berarti “menahan diri”. Sedangkan menurut syara’ puasa adalah “menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya dari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.” karena perintah Allah semata, dengan disertai niat dan syarat-syarat tertentu”.
       Rukun puasa adalah : Niat, yaitu menyegaja puasa Ramadhan setelah terbenam matahari hingga sebelum fajar shadiq. Artinya pada malam harinya, dalam hati telah tergerak (berniat), bahawa pada esok harinya akan mengerjakan puasa wajib ramadhan. Meniggalkan segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Syarat-syarat puasa

  • Syarat wajib puasa adalah : Beragama islam, Baligh dan berakal, Suci dari haidh dan nifas (bagi wanita), Kuasa (ada kekuatan). Kuasa disini diartikan sebagai tidak sakit dan bukan yang sudah tua. Orang yang sakit dan orang yang sudah tua boleh untuk tidak melakukan puasa. Tetapi wajib membayar fidiah.
  • Syarat sah puasa adalah : Islam, Tamyiz ( orang yang dapat membedakan antara baik dan buruk.), Suci dari haidh dan nifas, Tidak didalam hari yang dilarang untuk  berpuasa.

Hal-hal yang membatalkan puasa

  • Memasukan sesuatu ke dalam rongga badan dengan sengaja, seperti makanan, minum, merokok, dll. 
  • Muntah dengan sengaja( memasukkan apa saja kedalam kerongkongan)
  • Haidh dan nifas, wanita yang haidh dan nifas haram mengerjakan puasa, tetapi wajib mengqadha sebanyak hari yang ditinggalkan.
  • Jima’ pada siang hari atau pada fajar telah nampak.
  • Gila walaupun sebentar
  • Mabuk atau pingsan sepanjang hari
  • Murtad (keluar dari agam islam) baik dengan perkataan, perbuatan ataupun dengan kepercayaan.

2. Cara melaksanakan puasa 

  1. Niat. Awali berpuasa dengan niat sebelum terbitnya fajar dari dalam hati. 
  2. Makan Sahur. Makan sahur adalah sunah dan terdapat keberkahan didalamnya (HR. Bukhari).
  3. Mengetahui Imsak. Batas waktu berhentinya seseorang dari makan sahur, beberapa menit sebelum tibanya waktu adzan shubuh.
  4. Bersegera Untuk Berbuka. Kapan saja matahari telah terbenam, ,maka dianjurkan untuk segera berbuka. Berbuka dapat terwujud dengan apa saja baik itu dengan makan atau minum, sedikit ataupun banyak.

3. Macam-macam puasa sunnah.

  1. Puasa Arafah, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah (bagi orang yang tidak melaksanakan haji). 
  2. Puasa ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Puasa pada hari asyura’ 
  3. Puasa enam hari dibulan Syawal, yaitu hari-hari sesudah hari raya fithrah. Puasa ini boleh dilakukan secara berturut-turut ataupun tidak. Akan tetapi, lebih utama jika dilakukan secar berturut-turut. 
  4. Puasa pada hari Senin dan Kamis. Disunnatkan puasa pada hari Senin dan Kamis didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw menganjurka puasa pada hari Senin dan Kamis.” Pada suatu hari Rasulullah saw ditanyai mengenai puasa Senin dan Kamis, maka beliau menjawab, “sesungguhnya amal perbuatan manusia diangkat menuju Allah pada setiap hari Senin dan Kamis.”
  5. Puasa tiga hari setiap bulan. Dari Abu Dzar ra, ia berkata : “Rasulullah saw menyuruh kami berpuasa tiga hari dalam sebulan yaitu tanggal 13,14 dan 15. “ (Diriwayatkan oleh Nasa’i, Tirmidzi dan disahkan oleh Ibnu Hibban).
  6. Puasa pada bulan Sya’ban. Dikerjakan mulai tanggal 1 sampai 15 Sya’ban. 
  7. Puasa bulan Dzulhijjah. Puasa bulan Dzulhijjah dikerjakan mulai tanggal 1 sampai 10 Dzulhijjah, 
  8. Puasa Bulan Muharram. Yaitu puasa pada bulan Muharram terutama pada hari Assyuro’. 
  9. Puasa Dawud. Yaitu puasa sehari dan tidak puasa sehari. Keutamaannya adalah karena puasa ini adalah puasa yang paling disukai oleh Allah swt (HR.Bukhori – Muslim).


4. Hikmah dan Tingkatan Puasa
Hikmah Puasa

  1. Mendidik mu’min agar berperilaku luhur dan dapat mengontrol seluruh nafsu dalam keinginan manusia biasa.
  2. Mendidik jiwa agar biasa dan dapat mengusai diri, sehingga mudah menjalankan semua kebaikan dan meninggalkan segala larangan.
  3. Membisakan orang yang berpuasa bersabar dan tahan uji.
  4. Menanamkan sifat sabar
  5. Mendidik jiwa agar dapat memegang amanat sebaik-baiknya, 
  6. Mendidik sifat shidiq (benar), 
  7. Untuk mendidik mannusia agar jangan mudah dipengaruhi oleh benda sekalipun dalam keadaan sengsara/kelaparan dapat mempertahankan pribadinya dan pribadi islam hingga tidak lekas terjerumus ke jurang maksiat dan sebagainya.
  8. Menanamkan rasa cinta kasih sesama manusia, 
  9. Menambah kesehatan

Tingkatan puasa

  1. Shaumul umum (puasa kelas awam).  artinya puasa cuma menahan lapar, haus dan syahwat, menjaga mulut dan alat kelamin dari hal-hal yang membatalkan puasa. 
  2. Shaumul khushus (puasa kelas istimewa). yaitu puasa yang menahan pendengaran yang tidak perlu didengar, penglihatan, lisan ini sumber hilangnya pahala puasa serta mengajak puasa tangan, kaki dan segala anggota badan dari dosa dan maksiat. 
  3. Shaumul khushusil khushus (puasa kelas sangat istimewa). merupakan puasanya para nabi, shiddiqin, dan muqarrabin. Selain menahan haus,lapar dan syahwat serta anggota tubuh, puasa ini menahan hati dari keraguan mengenai hal-hal keakhiratan. Juga menahan pikiran untuk tidak memikirkan masalah dunia, serta menjaga diri dari berpikir selain Allah SWT.

G. HAJI DAN UMRAH

1. Pengertian haji dan umrah
      Haji menurut bahasa berarti menuju, sedangkan menurut syara’, haji adalah berziarah ke baitullah (ka’bah) untuk beribadah kepada Allah SWT dengan mengerjakan manasik tertentu seperti wukuf, tawaf, sa’I, melontar jumrah dan amalan lainnya pada waktu dan tempat tertentu demi memnuhi panggilan Allah SWT dan mengharap ridhoNya.
      Umrah menurut bahasa berarti berkunjung atau ziarah, sedangkan menurut istilah (terminology) umrah adalah mengunjungi baitullah pada waktu kapan saja dalam rangka melaksanakan amalan-amalan tertentu. Adapun dalam kutipan buku lain pengertian umrah secara terminology adalah berkunjung ke baitullah malakukan ibadah kepada Allah SWT dengan melakukan tawaf dan sa’I lalu diakhiri dengan mencukur rambut atau sekedar memendekkannya (tahallul).
2  Syarat, rukun, wajib dan yang membatalkan haji
      Syarat wajib haji, ibadah haji diwajibkan bagi setiap muslim yang baligh, berakal serta punya kemampuan (istitha’ah) untuk melaksanakan haji. Yang dimaksud dengan istha’ah disini adalah kemampuan dari segi fisik, materi,dan amalan dalam perjalanan.

Rukun haji
1. Ihram adalah niat mulai ibadah haji, dinamakan ihram karena apabila niat telah terucap maka seseorang telah mengharamkan bagi dirinya apa yang sebelumnya halal, seperti nikah, harum-haruman dll.
Etika berihram :

  • Kebersihan, seperti mandi, memotong kuku, mencukur bulu ketiak, serta mencukur bulu kumis dan menyela-nyela rambut kepala dengan air.
  • Tidak memakai pakaian yang berjahit .
  • Memakai parfum dan wangi-wangian .
  • Mengerjakan sholat sunnah dua raka’at.

Larangan ketika berihram :

  • Memakai pakaian yang berjahit bagi laki-laki.
  • Menutup seluruh kepala atau sebagiannya dengan tutup yang menempel langsung ke kepala.
  • Memakai harum-haruman setelah berihram.
  • Meminyaki rambut dan jenggot.
  • Memotong rambut dan kuku.
  • Malaksanakan akad nikah.
  • Berhubungan suami istri (jima’)
  • Membunuh binatang baik yang lepas/liar maupun hewan peliharaan.

2. Wukuf di arafah, yaitu berhenti di padang arafah sejak tergelincir matahari tanggal 9 zulhijjah sampai terbit fajar tanggal 10 zulhijjah.
3. Tawaf ifadah, yaitu mengelilingi kakbah sebanyak 7 kali dengan syarat :

  • Suci dari hadas dan najis baik badan maupun pakaian.
  • Menutup aurat.
  • Ka’bah berada di sebelah kiri orang yang mengelilinginya.
  • Memulai tawaf dari arah hajar aswad (batu hitam)

4. Sa’I, yaitu lari-lari kecil atau jalan cepat antara safa dan marwa. Syarat sa’i adalah :

  • Dimulai dari bukit safa dan berakhir dari bukit marwa.
  • Dilakukan sebanyak 7 kali.
  • Melakukan sa’I setelah tawaf qudum

5. Mencukur/memendekkan rambut (tahallul), sedikitnya 3 helai.
6. Tertib, maksudnya melaksanakan rukun haji secara berurutan.

Wajib haji.

  1. Memulai ihram dari miqad.
  2. Melontar jumrah.
  3. Mabit di muzdalifah.
  4. Mabit di mina.
  5. Thawaf wada’.

3. larangan dan denda pada haji dan umrah.

  1. Denda karena meninggalkan kelakuan yang diperintahkan di dalam haji, yaitu seekor domba atau puasa 10 hari (3 hari di waktu haji, 7 hari di tanah air)
  2. Denda karena mencukur rambut dan memakai wangi-wangian yaitu seekor domba/ berpuasa 3 hari/ bersedekah 3 sha’/ makanan pokok 6 orang miskin.
  3. Denda karna membunuh binatang buruan, yaitu denda seharga hewan buruan kepada orang miskin.
  4. Denda karena hubungan intim, yaitu seekor unta/ seekor lembu/ 7 ekor kambing.





Posting Komentar untuk "Fikih Ibadah Lengkap Beserta Tata Cara dan Dalilnya -"

SUBCRIBE VIA EMAIL