Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Ketahui 3 Jenis Laporan Kuangan Senjata Utama Value Investor

Sebelumnya kita telah membahas tentang Metode Value Investing yang dikonsep oleh Professor Benjamin Graham. Nah, sekarang kita akan lanjutkan pada laporan keuangan yang menjadi senjata utama dalam metode value investing ini. Selain untuk metode value investing, laporan keuangan juga tentu bermanfaat bagi seorang investor dalam menilai kondisi sebuah perusahaan.

laporan keuangan


 A. Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan 

       Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan ini dirilis oleh perusahaan dan dapat kita peroleh di website www.idx.co.id (Website ini dapat diakses untuk umum, baik investor saham maupun yang belum menjadi investor saham). Cara mendapatkan Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan adalah:
  1.  Masuk ke www.idx.co.id, kemudian pilih Perusahaan Tercatat

Laporan keuangan


   2. Pilih Laporan Keuangan dan Tahunan, kemudian masukan kode emiten yang dicari

laporan keuangan

   3. Maka akan muncul laporan keuangan yang anda maksud dengan menscroll ke bawah

laporan keuangan


Apa perbedaan Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan?
       Laporan Keuangan terbit setiap 3 bulan sekali (per kuartal). Laporan Keuangan ini lebih banyak berisikan angka-angka yang merupakan ukuran kinerja keuangan sebuah perusahaan. Untuk Laporan Keuangan Kuartal 1 (kinerja 3 bulan) biasanya rilis di sekitar bulan April, Laporan Keuangan Kuartal II (kinerja 6 bulan) biasanya rilis di sekitar bulan Juli, Laporan Keuangan Kuartal III (kinerja 9 bulan) biasanya rilis di sekitar bulan Oktober. Nah khusus untuk Laporan Keuangan Kuartal IV (kinerja Full 1 tahun) biasanya rilis di bulan Maret tahun berikutnya, agak lama dikarenakan harus melalui proses audit
       Kedua, adalah Laporan Tahunan. Laporan Tahunan ini terbit setiap 1 tahun sekali. Dalam Laporan Tahunan, tidak hanya berisi angka-angka, melainkan juga penjelasan secara kualitatif dari manajemen mengenai kondisi dan apa saja yang dialami oleh perusahaan selama 1 tahun ke belakang, dan bagaimana prospek perusahaan ke depannya. Oleh karena itu, Laporan Tahunan ini biasanya memang lebih tebal dibandingkan dengan Laporan Keuangan. Namun, jika sudah terbiasa kita akan bisa merangkum intisari dari Laporan Tahunan dalam waktu yang lebih singkat.

1. Laporan Neraca 

      Dalam Laporan Keuangan, ada 3 jenis Laporan yang penting untuk kita perhatikan. Laporan Pertama yang perlu diperhatikan adalah Laporan Neraca (Balance Sheet). Apa yang dapat kita peroleh dari Laporan Neraca (Balance Sheet)? Dalam Laporan Neraca, kita akan mendapatkan informasi mengenai nilai kekayaan sebuah perusahaan dan dari mana kekayaan tersebut diperoleh. Dalam Neraca terdapat tiga komponen utama, yaitu: Aset, Liabilitas, dan Ekuitas. Secara sederhana, hubungan antara Aset, Liabilitas, dan Ekuitas adalah sebagai berikut:

ASET = LIABILITAS + EKUITAS 

Pengertian persamaan di atas adalah: Aset sebuah perusahaan didanai oleh pemilik (investasi awal dan laba ditahan / saldo laba) atau oleh kreditur (liabilitas / hutang).
       Sebagai ilustrasi katakanlah Anda ingin membuka sebuah warung kopi. Anda (dan rekan) sebagai pemilik katakanlah memiliki modal Rp 150 juta, kemudian Anda memperoleh pinjaman dari pihak ketiga sebesar Rp 50 juta. Artinya sekarang warung kopi Anda memiliki nilai kekayaan sebesar Rp 200 juta, yang didanai oleh pemilik sebesar Rp 150 juta, dan kreditur Rp 50 juta.

ASET = LIABILITAS + EKUITAS 
Rp 200 juta = Rp 50 juta + Rp 150 juta 

Pada persamaan di atas, Aset berada di sisi kiri, sementara Liabilitas dan Ekuitas berada di sisi kanan. Kedua bagian Neraca selalu bergerak bersama. Apabila salah satu sisi bertambah atau berkurang, begitu juga sisi satunya. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat beberapa skenario.
Apabila sebuah perusahaan mengambil kredit dari Bank, maka perusahaan akan memiliki lebih banyak kas. Sisi sebelah kiri akan meningkat karena kas merupakan aset. Namun, sisi sebelah kanan (liabilitas) juga akan meningkat. Misal, perusahaan mengambil kredit sebesar Rp 50 juta, maka Aset dalam bentuk Kas akan naik Rp 50 juta. Jumlah aset yang tadinya Rp 200 juta akan naik menjadi Rp 250 juta. Sementara itu, Liabilitas juga akan meningkat dari Rp 50 juta menjadi Rp 100 juta.

ASET = LIABILITAS + EKUITAS
Rp 250 juta = Rp 100 juta + Rp 150 juta 

Selanjutnya, setelah satu tahun berlalu, warung kopi Anda ternyata menghasilkan profit Rp 50 juta, dan Anda memutuskan untuk menahan laba / profit. Dalam kasus ini, kedua sisi neraca akan bertambah. Warung kopi Anda sekarang memiliki lebih banyak aset di sisi kiri, dan lebih banyak ekuitas di sisi kanan. Maka, sekarang kondisi Neraca warung kopi Anda menjadi:

ASET = LIABILITAS + EKUITAS 
Rp 300 juta = Rp 100 juta + Rp 200 juta 

Aset sendiri terbagi atas Aset Lancar dan Aset Tidak Lancar. Aset Lancar adalah Aset yang likuid dan dapat dicairkan dalam jangka waktu di bawah 1 tahun. Aset tidak lancar adalah Aset yang dapat dicairkan dalam jangka waktu di atas 1 tahun. Contoh daripada Aset Lancar adalah Kas dan setara Kas, Piutang Usaha, serta Persediaan.
      Liabilitas juga terbagi atas Liabilitas Jangka Pendek dan Liabilitas Jangka Panjang. Liabilitas Jangka Pendek adalah Liabilitas yang jatuh tempo dalam jangka waktu di bawah 1 tahun. Liabilitas Jangka Panjang adalah Liabilitas yang jatuh tempo dalam jangka waktu di atas 1 tahun. 
      Ekuitas terdiri dari setoran awal pemilik, serta penambahan saldo laba yang ditahan.
Untuk melihat lebih jelas apa saja yang termasuk dalam Aset, Liabilitas, dan Ekuitas, Anda bisa mendownload Laporan Keuangan melalui website www.idx.co.id

2. Laporan Laba Rugi (Income Statement

      Jika dalam Laporan Neraca kita dapat melihat Nilai Kekayaan sebuah perusahaan, maka dalam Laporan Laba Rugi, kita mendapatkan informasi berharga mengenai kinerja sebuah perusahaan. Dalam Laporan Laba Rugi ada beberapa komponen yang perlu untuk diperhatikan.
      Pendapatan, atau biasa disebut Revenue, merupakan total penjualan barang dan jasa yang diakui oleh suatu perusahaan dalam periode tertentu. Selain penjualan barang dan jasa, ada sumber pendapatan lain seperti bunga dari investasi, atau pendapatan dari Royalti yang juga dapat diakui sebagai penjualan. Beberapa perusahaan mengakui Pendapatan ketika pelanggan telah membayar sejumlah uang, beberapa perusahaan baru mengakui ketika suatu barang atau jasa telah diterima oleh pelanggan. Suatu penjualan belum tentu otomatis dikonversi menjadi dana. Beberapa perusahaan sangat cepat dalam mengubah pendapatan menjadi kas (misal: toko ritel). Namun, untuk penjualan B2B, hal ini mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama.
       Beban Pokok Penjualan, atau biasa disebut juga Cost of Goods Sold, merupakan biaya yang timbul dari proses produksi barang dan jasa. Beban pokok penjualan ini biasanya bersifat variable cost. Seiring dengan kenaikan pendapatan, maka beban pokok penjualan akan semakin meningkat juga. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah, mana yang lebih besar antara kenaikan pendapatan dengan beban pokok penjualan. Misal dalam analogi warung kopi di atas, apabila ternyata warung kopi Anda sekarang menjual lebih banyak daripada sebelumnya, maka Anda membutuhkan lebih banyak kopi, gula, dan bahan-bahan lainnya yang dibutuhkan untuk menghasilkan secangkir kopi. Pendapatan setelah dikurangi dengan Beban Pokok Penjualan, akan menghasilkan yang disebut dengan Laba Bruto.
       Laba bruto, atau biasa disebut juga Gross Profit, merupakan perbedaan antara Pendapatan dengan Beban Pokok Penjualan. Laba Bruto mengukur tingkat keuntungan sebuah perusahaan sebelum mempertimbangkan biaya lain seperti biaya operasional, beban bunga, beban pajak, dll. Apabila laba bruto perusahaan berkurang dari tahun ke tahun, hal ini mungkin mengindikasikan bahwa terdapat: penurunan volume penjualan, perusahaan tidak menetapkan harga yang sesuai untuk produknya, biaya dari bahan mentah meningkat, atau proses produksi yang tidak efisien.
      Beban Operasional, atau biasa disebut juga Operating Expenses, merupakan beban yang ditimbulkan dari aktivitas operasional perusahaan, namun di luar dari biaya produksi barang dan jasa. Kembali lagi pada analogi warung kopi, supaya warung kopi Anda dikenal dan diketahui oleh lebih banyak orang, maka Anda melakukan aktivitas pemasaran. Selain itu, Anda mungkin mempekerjakan lebih banyak karyawan seiring dengan peningkatan usaha warung kopi tersebut. Biaya yang ditimbulkan dari aktivitas pemasaran dan gaji karyawan adalah contoh dari beban operasional atau operating expenses. Perlu untuk diketahui juga, beban operasional tidak memiliki korelasi positif dengan peningkatan jumlah penjualan kopi tersebut seperti hal nya beban pokok penjualan.
Laba Operasional, atau biasa disebut juga Operating Profit, merupakan perbedaan antara Laba Bruto yang telah dikurangi dengan Beban Operasional. Laba Operasional ini sudah mempertimbangkan beban pokok penjualan dan beban operasional, namun belum mempertimbangkan beban bunga dan beban pajak. Apabila laba operasional perusahaan mengalami penurunan dari tahun ke tahun, hal ini mungkin mengindikasikan bahwa terdapat : biaya operasional yang kurang efisien, aktivitas pemasaran yang kurang tepat sasaran, beban gaji yang terlalu besar.
        Beban Bunga, atau biasa disebut juga Interest Expense, merupakan biaya yang dibebankan kreditor (bank) pada suatu bisnis untuk keuntungan penggunaan uang mereka. Sementara itu, Beban Pajak, atau biasa disebut juga Tax Expense, merupakan jumlah yang harus dibayarkan kepada pemerintah.
       Laba Bersih, atau biasa disebut juga Net Profit, merupakan laba bersih suatu perusahaan setelah dikurangi seluruh biaya, termasuk beban bunga dan beban pajak. Laba bersih ini biasanya yang menjadi salah satu indikator utama yang sangat diperhatikan oleh investor. Apabila laba bersih mengalami penurunan, maka biasanya investor akan bereaksi secara negatif,  dan apabila laba bersih mengalami kenaikan, maka biasanya investor akan bereaksi secara positif.

3. Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement

      Laporan Arus Kas adalah apa yang menghubungkan antara Neraca dan Laporan Laba Rugi, serta apa yang mendorong berjalannya perusahaan. Kas mengalir dari pelanggan setelah penjualan, dan kas ini digunakan untuk membayar supplier serta upah karyawan. Laba dan kas merupakan hal yang penting untuk kesuksesan bisnis. Apabila suatu perusahaan tidak mendapatkan keuntungan, maka investor akan bereaksi negatif. Meskipun demikian, apabila perusahaan memiliki kas yang cukup, maka perusahaan dapat bertahan, dan pada akhirnya akan sukses. Contoh: salah satu perusahaan di Amerika, Amazon, mengalami kerugian selama 8 tahun sebelum kemudian mendapatkan keuntungan.
        Kas menjadi hal yang sangat penting bagi kelangsungan perusahaan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa Cash is King. Ketika sebuah perusahaan kehabisan kas, perusahaan tidak mampu membayarkan biaya pengeluaran, upah menjadi tertahan, dan pemasok telat mendapat pelunasan, sampai pada akhirnya perusahaan menyatakan kebangkrutan. Beberapa opsi yang dapat dilakukan perusahaan ketika perusahaan mulai kehabisan kas adalah menjual aset, meminjam lebih banyak uang, atau menagih piutang pelanggan lebih cepat. Namun, ketiga hal tersebut memiliki resiko yang cukup tinggi. Ketika perusahaan menjual aset, maka perusahaan memang mendapatkan tambahan kas yang cukup, akan tetapi hal ini mengurangi kapasitas perusahaan untuk berproduksi di masa yang akan datang. Begitu pula dengan meminjam lebih banyak uang, apabila tidak diikuti dengan kemampuan perusahaan melunasi pinjaman tersebut (apalagi tidak mampu membayar bunganya) malah justru akan memperparah kondisi perusahaan. Opsi yang ketiga, menagih piutang pelanggan lebih cepat juga beresiko, karena pelanggan yang tidak bersedia untuk bekerjasama dengan cepat akan merasa perusahaan tidak memiliki fleksibilitas yang cukup dalam hal pembayaran.
       Investor yang cerdas lebih memusatkan perhatian mereka kepada kas ketimbang laba karena beberapa alasan. Pertama, Keuntungan dapat diperbaiki dalam beberapa periode terutama jika perusahaan memiliki fondasi yang kuat, sebaliknya kas yang bermasalah hampir dapat dipastikan perusahaan akan segera berakhir. Kedua, kas lebih sulit untuk dimanipulasi (baik disengaja maupun tidak disengaja) karena kas dapat lebih mudah diukur dengan menggunakan rekening bank. Seperti dikemukakan pada bagian Laporan Laba Rugi di atas, pencatatan penjualan (dan juga pencatatan laba) dapat bervariasi tergantung sistem keuangan yang dipakai. Sementara arus kas masuk dan keluar jelas tercatat dalam rekening Bank.
        Dalam laporan arus kas, ada 3 bagian utama yang perlu diperhatikan, yaitu : operating cash flow, investing cash flow, dan financing cash flow. 
        Operating cash flow, atau arus kas dari aktivitas operasi, menunjukkan arus kas yang dihasilkan atau digunakan perusahaan ketika memproduksi suatu produk barang atau jasa. Contoh arus kas masuk dalam aktivitas operasi: penjualan barang atau jasa kepada pelanggan, penjualan surat-surat berharga. Sementara itu contoh arus kas keluar dalam aktivitas operasi: pembayaran kepada supplier, pembayaran bunga, pengeluaran untuk riset dan pemasaran, membeli persediaan.
        Investing cash flow, atau arus kas dari aktivitas investasi, membahas perolehan aset jangka panjang seperti perlengkapan mesin atau property. Contoh arus kas masuk dalam aktivitas investasi: menjual investasi jangka pendek atau jangka panjang, menjual properti atau peralatan, mendivestasi aset. Sementara itu, contoh arus kas keluar dalam aktivitas investasi: pembelian mesin, investasi pada pabrik baru, akuisisi perusahaan baru.
        Financing cash flow, atau arus kas dari aktivitas pendanaan, termasuk peminjaman uang yang dilakukan perusahaan, perubahan dalam hutang, dividen, atau bunga yang dibayarkan. Contoh arus kas masuk pada aktivitas pendanaan: melakukan peminjaman kepada pihak ketiga atau bank, penerbitan surat obligasi, menjual saham treasury. Sementara itu, contoh arus kas keluar dalam aktivitas pendanaan: membayar hutang kepada pihak ketiga atau bank, membayarkan dividend, buyback saham treasury.
        Laporan arus kas ditujukan untuk memberikan informasi tentang posisi kas perusahaan, atau jumlah kas yang dimiliki perusahaan pada akhir periode dalam seluruh rekening bank yang dimiliki. Selain itu, Laporan arus kas juga memberikan informasi perbedaan antara jumlah kas di awal dengan jumlah kas di akhir periode akuntansi. Apabila jumlah kas di akhir periode lebih sedikit dibandingkan dengan di awal periode, artinya arus kas masuk lebih sedikit dibandingkan dengan arus kas keluar (arus kas negatif). Sebaliknya, apabila jumlah kas di akhir periode lebih banyak dibandingkan dengan di awal periode, artinya arus kas masuk lebih besar dibandingkan dengan arus kas keluar (arus kas positif). 

Sumber Rujukan: http://rivankurniawan.com/https://www.idx.co.id

Baca Lagi:



Posting Komentar untuk "Ketahui 3 Jenis Laporan Kuangan Senjata Utama Value Investor"

SUBCRIBE VIA EMAIL