Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

[Lengkap] Fikih Muamalah serta Hubungan dengan Hukum Perdata Barat

muamalah
Muamalah Maliyah

Pengertian Muamalah

1. Muamalah secara bahasa
        Menurut bahasa muamalah berasal dari kata ‘aamala-yu’aamilu-mu’aamalah, artinya saling bertindak, saling berbuat, dan saling mengamalkan.
2. Muamalah secara istilah
   a) Dalam arti luas

  1. Menurut Al Dimyati muamalah adalah ‘’menghasilkan duniawi, supaya menjadi sebab suksesnya masalah ukhrawi’’
  2. Muhammad Yusuf Putra berpendapat bahwa muamalah adalah peraturan-peraturan ALLAH SWT yang harus diikuti dan ditaati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia.
  3. Muamalah adalah segala peraturan yang diciptakan ALLAH SWT untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam hidup dan kehidupan.

     Dari pengertian dalam arti luas diatas, kiranya dapat diketahui bahwa muamalah adalah aturan-aturan (hukum) ALLAH untuk mengatur manusia dalam kaitannya dengan urusan duniawi dalam pergaulan sosial.
 b) Dalam arti sempit (khas)

  1. Menurut Huldari Byk, muamalah adalah semua akad yang membolehkan manusia saling menukar manfaatnya.
  2. Menurut Idris Ahmad, muamalah adalah aturan-aturan ALLAH SWT yang mengatur hubungan mannusia dengan manusia dalam usahanya untuk mendapatkan alat-alat keperluan jasmaninya dengan cara yang paling baik.
  3. Menurut Rasyid Ridha, muamlah adalah tukar-menukar barang atau sesuatu yang bermanfaat dengan cara-cara yang telah ditentukan.

     Dari pandangan diatas kiranya dipahami bahwa yang dimaksud fikih muamalah dalam arti sempit adalah aturan-aturan ALLAH yang wajib ditaati yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam kaitannya dengan cara memperoleh dan mengembangkan harta benda.
      Persamaan pengertian muamalah dalam arti sempit dengan muamalah dalam arti luas ialah sama-sama mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam kaitan dengan pemutaran harta.

Pembagian Muamalah
1. Menurut Ibn ‘Abidin

  • Mu’amalah Maliyah (hukum kebendaan)
  • Munakahat (hukum perkawinan)
  • Muhasanat (hukum acara)
  • Amanat dan ‘Aryah (pinjaman)
  • Tirkah (harta peninggalan)

2. Menurut Al-Fikri dalm kitabnya ‘’Al-Muamalah Al-Madiyah Wa Al-Adabiyah’’

  • Al-Muamalah Al-Madiyah adalah muamalah yang mengkaji objeknya sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa muamalah Al-Madiyah adalah muamalah bersifat kebendaan karena objek fikih muamalah adala benda yang halal, haram dan syubhat untuk diperjualbelikan, benda-benda yang memudaratkan dan benda yang mendatangkan kemaslahatan bagi manusia, serta segi-segi lainnya.
  • Al-Muamalah Al-Adabiyah ialah muamalah yang ditinjau dari segi cara tukar menukar benda yang bersumber dari panca indra manusia, yang unsur penegaknya adalah hak-hak dan kewajiban, misalnya jujur, hasud, dengki, dendam.

    Pembagian muamalah diatas dilakukan atas dasar kepentingan teoretis semata-mata sebab dalam praktiknya, kedua bagian muamalah tersebut tidak dapat dipisahkan.

Ruang Lingkup Fikih Muamalah
       Ruang lingkup fiqih muamalah terbagi dua yaitu ruang lingkup muamalah yang bersifat adabiyah iyalah ijab dan qabul, saling meridhai, tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak, hak dan kewajiban, kejujuran pedangan, penipuan, pemalsuan,penimbunan,dan segala sesuatu yang ebrsumber dari indra manusia yang ada kaitannya dengan peredaran harta dalam hidup masyarakat.
Ruang lingkup yang bersifat madiyahyaitu mencakup segala aspek kegiatan ekonomi manusia sebagai berikut:

  1. Harta, hak milik, fungsi uang, dan ‘uqud (akad-akad).
  2. Buyu’ (tentang jual beli).
  3. Ar-rahn (tentang pengadaain).
  4. Hiwalah (pengalihan utang).
  5. Ash-shulhu (perdamain bisnis)
  6. Adh-dhaman ( jaminan,asuransi).
  7. Syirkah (tentang pengkongsian).
  8. Wakalah (tentang perwakilan).
  9. Wadi’ah (tentang penitipan)
  10. ‘ariyah (tentang peminjaman)
  11. Ghasab (rampasan harta orang lain dengan tidak sah )
  12. Syuf’ah ( hak yang diutamakan dalam syirkah atau sepadan tanah)
  13. Mudarabah (syirkah modal dan tenaga)
  14. Musaqat (syirkah dalam pengairan kebun)
  15. Muzara’ah (kerja sama pertanian)
  16. Kafalah (penjaminan utang) 


Objek Pembahasan Fiqih Muamalat
        Objek pembahasan fiqih muamalah adalah hubungan antara manusia dengan manusia lain yang berkaitan dengan benda atau mal. Hakikat dari kegiatan tersebut adalah berkaitan dengan hak dan kewajiban antara manusia satu dengan manusia lainnya. Contohnya seperti hak penjual untuk menerima uang bayaran atas barang yang dijualnya, hak pembeli untuk menerima barang yang dibelinya, dan hak orang yang menyewakan untuk menerima uang pembayaran sewa tanah atau rumah yang disewakannya kepada orang lain, dan hak penyewa untuk menerima manfaat atas tanah atau rumah yang disewanya.

Prinsip-prinsip Muamalat 

A. Muamalat adalah Urusan Duniawi
        Muamalat berbeda dengan ibadah. Dalam muamalat semuanya boleh kecuali yang dilarang. Muamalat atau hubungan dan pergaulan antar sesama manusia dibidang harta dan benda merupakan urusan duniawi,pengaturannya diserahkan kepada manusia itu sendiri. Oleh karena itu, semua bentuk akad dan berbagai cara transaksi yang dibuat manusia hukumnya sah dan dibolehkan, asal tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan umum yang ada didalam syara’. Hal tersebut sesuai dengan kaidah “pada dasarnya semua akad dan muamalat hukumnya sah sehingga ada dalil yang membatalkan dan mengharamkannya.”

B. Muamalat Harus Didasarkan kepada Persetujuan dan Kerelaan Kedua Belah Pihak
       Persetujuan dan kerelaan dari kedua belah pihak yang melakukan transaksi merupakan asas yang sangat penting untuk kebsahan setiap akad. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat An Nisa ayat 29. Dari ayat ini kemudian diambil sebuah kesimpulan yang mirip suatu kaidah yang berlaku dalam bidang muamalah yang berbunyi “ kerelaan merupakan dasar semua hukum(muamalat).” Untuk menunjukan adanya kerelaan dalam setiap akad dilakukan ijab dan qabul atau serah terima antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi.

C. Adat Kebiasan Dijadikan Dasar Hukum
       Dalam masalam muamalat, adat kebiasan bisa dijadikan dasar hukum,dengan syarat adat tersebut diakui dan tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan umun yang ada dalam syara’. Hal ini seusai dengan kaidah “adat kebiasaan digunakan sebagai dasar hukum”.

D. Tidak Boleh Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain
       Setiap transaksi dan hubungan muamalat dalam islam tidak boleh menimbulkan kerugian kepada diri senidri dan orang lain. Hal ini didasarkan pada hadis nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ad-Daruquthni dan lain-lain dari Abi sai’d al khudri bhwa Rasulullah bersabda:”janganlah merugikan diri sendiri dan janganlah merugikan orang lain.” Muhammad Daud Ali mengemukakan 18 prinsip asas yang menjadi asas-asas hukum islam di bidang muamalat.
 Asas-asas tersebut,diantaranya :

  1. Asas Kebolehan atau Mubah, Asas ini menunjukan kebolehan melakukan semua hubungan muamalat,sepanjang hubungan itu tidak dilarang oleh Al Qur’an dan sunnah. Dengan demikian, pada dasarnya segala bentuk hubungan muamalat boleh dilakukan, selama tidak ditentukan lain dalam al quran dan sunnah.
  2. Asas Kemaslahatan Hidup, Asas kemaslahatan hidup adalah suatu asas yang mengandung bahwa hubungan muamalat apapun dapat dilakukan, asal hubungan itu mendatangkan kebaikan, berguna dan berfaedah bagi kehidupan pribadi dan masyarakt, meskipun tidak ada ketentuan dalam al quran dan sunnah.
  3. Asas Kebebasan dan Kesukarelaan, Asas ini mengandung makna bahwa setiap hubungan muamalat harus dilakukan secara bebas dan sukarela. Asas ini juga mengandung arti bahwa selama al quran dan sunnah tidak mengatur secara rinci tentang hubungan muamalat, maka selama itu pula para pihak yang bertransaksi mempunyai kebebasan untuk mengaturnya atas kesukarelaan masing-masing.
  4. Asas Menolak Mudharat dan Mengambil Manfaat, Asas ini mengandung makna bahwa segala bentuk hubungan muamalat yang mendatangkan kerugian (mudharat) harus dihindari, sedangkan hubungan perdata yang mendatangkan manfaat bagi diri sendiiri dan masyarakat harus dikembangkan.
  5. Asas Kebajikan (Kebaikan), Asas ini mengandung arti bahwa setiap hubungan maumalat seyogianya mendatangkan kebaikan kepada kedua belah pihak dan pihak ketga dalam masyarakat. Kebajikan yang akna diperoleh seseorang haruslah didasarkan kepada pengembangan kebaikan dalam rangka kekeluargaan.
  6. Asas Kekeluargaan atau Kebersamaan yang Sederajat, Asas kekeluargaan atau kebersamaan yang sederajat adalah asas hubungan muamalat yang disandarkan pada sikap saling menghormati, mengasihi, dan tolong-menolong dalam mencapai tujuan bersama. Asas ini menunjukan suatu hubnag muamalat anatar pihak yang menganggap diri masing-masing sebagai anggota keluarga, meskipun pada hakikatnya bukan keluarga. Asas ini diambil dari al quran surat al maidah ayat 5.
  7. Asas Adil dan Berimbang, Asas keadilan bermakna bahwa hubungan perdata tidak boleh mengandung unsur-unsur penipuan, penindasan, pengaambilan kesempatan. Juga mengandung arti bahwa hasil yang diperoleh harus berimbang dengan usaha atau ikhtiar yang dilakukan seseorang.
  8. Asas Mendahulukan Kewajiban dari Hak, Asas ini mengandung arti dalam pelaksanaan hubungan perdata, para pihak harus mengutamakan penunaian kewajiban terlebih dahulu daripada menuntut hak. Dalam islam, seseorang baru memperoleh haknya, missal, mendapat imbalan (pahala) setelah menunaikan kewajibannya.
  9. Asas Larangan Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain, Asas ini mengandung arti para pihak yang mengadakan  hubungan perdata tidak boleh merugikan diri sendiri dan orang lain. Merusak harta, meski tidak merugikan diri sendiri, tapi merugikan orang lain, dalam hukum islam tidak dibenarkan, ini berarti menghancurkan atau memusnahkan barang untuk mencapai kematangan harga atau keseimbangan pasar.
  10. Asas Kemampuan Berbuat Atau Bertindak, Dalam hukum Islam, manusia yang dipandang mampu berbuat atau bertindak melakukan hubungan perdata adalah orang yang mukallaf, yaitu orang yang mampu memikul kewajiban dan hak, sehat ruhani dan jasmani. Hubungan perdata yang dibuat oleh orang yang tidak mampu memikul kewajiban dan hak dianggap melanggar asas ini, dan dianggap batal hubungan perdatanya, karena dipandang bertentangan dengan salah satu asas hukum islam.
  11. Asas Kebebasan Berusaha, Asas ini mengandung makna pada prinsipnya setiap orang bebas berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang baik bagi dirinya dan keluarganya.
  12. Asas Mendapatkan Hak karena Usaha dan Jasa, Asas ini mengandung makna seseorang akan memperoleh hak, missal, berdasarkan usaha dan jasa, baik dilakukannya sendiri maupun yang diusahakannya bersama-sama. Usaha dan jasa tidak boleh yang mengandung unsur kejahatan, keji dan kotor.
  13. Asas Perlindungan Hak, Asas ini mengandung arti semua hak yang diperoleh seseorang dengan jalan yang halal dan sah harus dilindungi. 
  14. Asas Hak Milik Berfungsi Sosial, Asas ini menyangkut pemanfaatan hak milik yang dimiliki oleh seseorang. Menurut hukum Islam, hak milik tidak boleh dipergunakan untuk kepentingan pribadi pemiliknya, tapi harus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Agama islam mengajarkan untuk mengeluarkan zakat bagi yang memiliki harta yang mencapai nishab, untuk fakir miskin (mustahik zakat), sebagaimana yang tercantum dalam Surah At-Taubah (9) ayat 60:


إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ

ٱللَّهِ وَٱssللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ.

''Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.''

Fungsi sosial hak milik disebut dalam Surah Al-Hasyr (59) ayat 7:

... كَىْ لَا يَكُونَ دُولَةًۢ بَيْنٱلْأَغْنِيَآءِ مِنكُمْ ....

''Supaya harta itu jangan beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu.''

Juga dalam surah adz-Dzariyat (51) ayat 19:

وَالْمَحْرُومِلِلسَّائِلِحَقٌّأَمْوَالِهِمْوَفِي

''Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.''
15. Asas yang Beriktikad Baik Harus Dilindungi, Asas ini berkaitan dengan asas lain yang menyatakan bahwa orang yang melakukan perbuatan tertentu bertanggung jawab atas risiko perbuatannya.Namun, jika ada yang melakukan hubungan perdata tidak mengetahui cacat yang tersembunyi dan mempunyai iktikad baik dalam hubungan perdata, maka kepentingannya harus dilindungi dan ia berhak menuntut sesuatu jika ia dirugikan karena iktikad baiknya itu.
16. Asas Risiko Dibebankan pada Harta, Tidak pada Pekerja, Asas ini mengandung penilaian yang tinggi terhadap kerja dan pekerjaan, yang berlaku terutama di perusahaan yang merupakan persekutuan antara pemilik modal (harta) dan tenaga (kerja). Jika perusahaan merugi, maka dalam asas ini kerugian dibebankan kepada pemilik modal saja, sedangkan pekerja tetap mendapat upah, sekurang-kurangnya untuk jangka waktu tertentu.
17. Asas Mengatur Dan Memberi Petunjuk, sesuai dengan sifat hukum keperdataan pada umumnya, dalam hukum islam berlaku asas yang menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan hukum perdata, kecualiu yang bersifat ijbari, karena ketentuannya telah qath’I, hanyalah bersifat mengatur dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang akan memanfaatkannya dalam mengadakan hubungan perdata.
18. Asas Tertulis atau Diucapkan di Depan Saksi, Asas ini mengandung makna hubungan perdata selayaknya dituangkan dalam perjanjian tertulis di hadapan para saksi. Sesuai dengan Surah Al-Baqarah (2) ayat 282:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ .........

''Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalat tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.''
………..dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (diantaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhoi, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya………
Dalam keadaan tertentu, perjanjian dapat saja dilakukan secara lisan di hadapan saksi-saksi asalkan memenuhi syarat, baik jumlah maupun kualitas orangnya.

E. Prinsip tauidi (unity)
        Adalah dasar utama dari setiap bentuk bangunan yang ada dalam syariat islam. Setiap bangunan dan aktifitas kehidupan manusia harus didasarkan pada nilai-nilai tauhudi. Artinya bahwa dalam setiap gerak langka dan bangunan hukum harus mencerminkan nilai-nilai  ketuhanan.

F. Prinsip halal 
      Dr. M.Ndratuzzaman husen mengemukakan bahwa alasan mencari rezeki berinvestasi dengan cara halal yaitu:

  1. Karna Allah memerintahkan untuk mencari rezeki dengan cara yang halal.
  2. Pada harta yang halal mengandung keberkahan
  3. Pada harta halal mengandung manfaat dan mashalah yang agung bagi manusia
  4. Pada harta halal akan membawa pengaruh positif bagi perilaku manusia 
  5. Pada harta halal melahirkan pribadi yang istiqomah, yakni yang selalu berada dalam kebaikan, keshalehan, ketaqwaan,keikhlasan,dan keadilan.
  6. Pada harta halal akan membentuk pribadi yang zahid wira’ih qonaa, santun dan suci dalam segala tindakan 
  7. Pada harta halal akan melahirkan pribadi yang tasamuh,berani menegakkan keadilan dan membela yang benar.

G. Prinsip mashlahah
        Mashlahah adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh dalil hukum tertentu yang membenarkan atau membatalkannya atas segala tindakan manusia dalam rangka mencapai tujuan syara’ yaitu memelihara agama, jiwa,akal,harta benda, dan keturunan.Mashlahah meninvestasikan harta pada usaha yang tidak mendatangkan mashlahah kepada masyarakat harus ditinggalkan, karena tidak sesuai dengan kehendak syariat islam.

H. Prinsip ibahah (boleh)
       Bahwa berbagai jenis muamalah, hukum dasarnya adalah boleh sampai ditemukan dalil yang melarangnya. Namun demikian kaidah-kaidah umum yang berkaitan dengan muamalah tersebut harus diperhatikan dan dilaksakan. Kaidah-kaidah umum yang di tetapkan syara’ yang dimaksud diantara:

  1. Muamalah yang dilakukan oleh seorang muslim harus dalam rangka mengabdi kepada Allag SWT dan senantiasa berprinsip bahwa Allah SWT selalu ,mengontrol dan mengawasi tindakannya.
  2. Seluruh tindakan muamalah tidak terlepas dari nilai-nilai kemanusiaan dan dilakukan dengan menetengahkan akhlak terpuji ,sesusai dengan kedudukan manusia sebagai khalifah Allah dibumi.
  3. Melakukan pertimbangan atas kemashlahatan pribadi  dan kemashlahatan masyarakat.


I. Prinsip kebebasan bertransaksi
        Prinsip muamalah selanjutnya yaitu prinsip kebebasan bertransaksi, namun harus didasari prinsip suka sama suka (an taradhinminkum) dan tidak ada pihak yang dizalimi dengan didasari oleh akad yang sah. Di samping itu, transaksi tidak boleh dilakukan pada produk-produk yang haram seperti babi, organ tubuh manusia,fornografi,dll.

J. Prinsip kerja sama (coorporatioen)
       Prinsip transaksi didasarkan pada kerja sama yang saling menguntungkan dan solidaritas ( persaudaraan dan saling membantu).

K. Prinsip membayar zakat
      Mengimpelementasikan zakat merupakan kewajiban seorang muslim yang mampu secara ekonomi, sebagai wujud kepeduliaan sosial.

L. Prinsip keadilan (juctice)
       Prinsip keadilan dalam bermuamalah adalah terpenuhinya nilai-nilai keadilan (juctice) antara para pihak yang melakukan akad muamalah.

M. Prinsip amanah ( trusworthy)
       Prinsip kepercayaan, kejujuran, tanggung jawab.

N. Prinsip komitmen terhadap akhlaqul karimah
       Seorang pembisnis tulen harus memiliki komitmen untuk mengamalkan akhlak mulia. Tekun dalam bekerja,jujur,dan dapat dipercaya, Menghindari penipuan, kolusi dan manipulasi.

O. Prinsip terhindar dari jual beli dan investasi yang dilarang
        Terhindar dari ikhtikaar. Arti ikhtikaar adalah upaya dari seseorang untuk menimbun barang pada saat barang itu langka atau diperkirakan harga akan naik

Fiqih Muamalat dan Hukum Perdata Barat
       Muhammad Yusuf Musa mengemukakan pendapat Amos, seorang orientalis yang mengatakan bahwa hukum Islam itu tidak lain kecuali undang-undang Romawi untuk Imperium Timur, dengan sedikit perubahan menyesuaikan terhadap kondisi politik dalam kerajaan-kerajaan Barat.
Selanjutnya Muhammad Yusuf Musa membantah pendapat Amos tersebut dengan mengatakan pendukung pendapat tersebut hanyamenyandarkan pendapatnya kepada apa yang mereka lihat, berupa kemiripan antara sebagian Hukum Islam dengan undang-undang Romawi. Dan mereka mengambil kesimpulan dari apa yang terjadi berupa persinggungan kebudayaan dan adat kebiasaan antara negara penguasa, yaitu Islam dengan wilayah yang dikuasai, yaitu bekas kekuasaan Romawi. Namun, pendapat itu dapat dibantah karena menurut tradisi,apabila terjadi pertemuan dua kebudayaan antara negara yang menguasai dan yang dikuasai makayang mempengaruhi itu adalah negara yang menguasai, dan yang dipengaruhi adalah negara yang dikuasai, bukan sebaliknya.
Muhammad Yusuf Musa juga mengemukakan pendapat ahli hukum Mesir yang menolak pengaruh hukum Romawi terhadap hukum Islam. Diantaranya, Dr. Ali Badawi mengatakan hukum Islamtelah mencapai puncak pembahasan dan kedalaman pemikiran, sehingga meskipun terjadi persinggungan peradaban antara keduanya dalam wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Pemerintah Islam dan sepintas terlihat adanya kemiripan, namun hukum islam tidak akan terpengaruh oleh hukum Romawi, sebagai bukti seperti berikut:

  1. Adanya beberapa sistm hukum dalam hukum Romawi yang tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap hukum Islam, seperti sistem pengangkatan anak (adopsi).
  2. Adanya sistem hukum dalam fiqh (hukum) Islam yang tidak ada landasannya dalam hukum Romawi, seperti wakaf, syuf’ah, dan larangan perkawinan antara saudara sesususn
  3. Banyak ketentuan-ketentuan yang sama antara hukum Islam dan Romawi, tetapi kaidah dan tata caranya berbeda. Misalnya, aturan tentang kewarisan,  bagi rata antara anak laki-laki dan perempuan menurut Romawi, dan dua berbanding satu menurut Islam.

    Pendapat yang lainnya, Dr. Syafiq Syuhatah mengatakan,apabila kita ingin membandingkan dari aspek kualitas sistem perundang-undangan, maka akan kita temukan, hukum Islam telah mendahului hukum Romawi dalam menetapkan beberapa prinsip dan asas yang penting, seperti asas perpindahan hak milik atas kesepakatan semata. Dan  Dr. Abdurrazzaq As-Samhuri dan Dr. Hisymat Abu State Mengatakan,hukum Islam dalam pertumbuhan dan perkembangannya tidak menempuh jalan yang ditempuh hukum 

Posting Komentar untuk "[Lengkap] Fikih Muamalah serta Hubungan dengan Hukum Perdata Barat"

SUBCRIBE VIA EMAIL