Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Mengenal Metode Value Investing bagi Pemula serta Perbedaannya dengan Trading Saham


value investing

Penemu Metode Value Investing 

        Value Investing adalah salah satu metode investasi yang cukup populer dalam dunia investasi di pasar saham. Konsep Value Investing berasal dari Professor Benjamin Graham. Benjamin Graham adalah seorang investor, pakar ekonomi, dan seorang professor. Dia juga dikenal sebagai “The Father of Value Investing”. 

Benjamin Graham (1894 – 1976) 
menulis dua buah buku yang dianggap menjadi “Kitab Suci” dalam investasi yaitu “The Intelligent Investor (1949)” dan “Security Analysis (1934)”. Filosofi investasi nya antara lain lebih menekankan pada psikologi seorang investor, investasi dengan gaya buy and hold dengan analisa fundamental, diversifikasi secara terkonsentrasi (concentrated diversification), margin of safety, serta contrarian mindset.
Setelah lulus dari Columbia University pada usia 20, dia memulai karirnya di Wall Street, yang pada akhirnya mendirikan Graham – Newman Partnership. Setelah mempekerjakan mantan muridnya dan Manajer Berkshire Hathaway di masa depan (Warren Buffett), dia mengambil posisi manajer di almamaternya (Columbia University), kemudian di Andersen School of Management, dan University of California di Los Angeles. 
 Sepanjang karirnya, Graham melahirkan banyak murid terkenal yang kemudian mendapatkan kesuksesan besar dalam dunia investasi, termasuk Warren Buffett. Murid lainnya yang sukses di dunia investasi karena Value Investing ini adalah William J. Ruane, Irving Kahn dan Walter J. Schloss. Selain itu, pemikiran Graham mengenai investasi telah mempengaruhi orang-orang seperti Seth Klarman dan Bill Ackman.

Perbedaan Investing dengan Trading 

Dalam berinvestasi di saham, banyak orang memiliki salah persepsi antara investasi dan trading. Ada banyak perbedaan antara investing dan trading, berikut ini adalah perbedaan yang paling dasar:
Trading adalah membeli saham dan menjualnya kembali dalam hitungan menit, jam, hari, atau minggu (jangka pendek).
Investasi adalah membeli saham dan menjualnya kembali dalam waktu minimal 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun, atau tidak pernah sama sekali.
Dalam trading (atau menjurus ke speculating), seseorang sama sekali tidak memperhatikan fundamental sebuah perusahaan. Bahkan seringkali seorang trader (sebutan untuk orang yang melakukan trading) tergoda untuk menaruh uangnya di saham gorengan (istilah saham yang memiliki fundamental jelek) hanya karena mendengar bahwa harga sahamnya akan naik dalam waktu dekat. 
Sedangkan dalam investasi, seseorang hanya akan menaruh uangnya di perusahaan yang memiliki track record yang bagus, kinerja keuangan yang bagus, manajemen yang professional. Dengan berinvestasi di perusahaan seperti ini, Anda akan terhindar untuk menjadi 85% orang yang kehilangan uang di pasar saham.

 Apa Itu Value Investing 

Dalam berinvestasi di pasar saham, metode yang sudah sangat terbukti adalah Value Investing. Seperti diceritakan pada bagian sebelumnya, Benjamin Graham (The Father of Value Investing) telah melahirkan banyak murid terkenal yang kemudian mendapatkan kesuksesan besar dalam dunia investasi, termasuk Warren Buffett. Di Indonesia, kita mengenal seorang investor yang sangat terkenal, yaitu Lo Kheng Hong, yang meraih kesuksesan besar di pasar saham dengan metode Value Investing.
Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Value Investing?

Value Investing is finding a stock that is selling at a discount to its intrinsic value or companies that the market has undervalued for some reason unrelated to its economic fundamentals” 

Dari definisi di atas, ada tiga kata kunci yang perlu diperhatikan secara lebih detail. Pertama, istilah yang disebut dengan intrinsic value. Kedua, istilah yang disebut undervalued, dan Ketiga, istilah yang disebut fundamentals. 
Karena ketidak-efisienan pasar saham, maka diperlukan sebuah indikator bagi investor sebagai pembanding bagi si market price. Indikator inilah yang disebut dengan intrinsic value atau nilai intrinsik. Secara sederhana, nilai intrinsik inilah yang merupakan harga wajar sebuah saham.
Setelah kita mengetahui bahwa ada yang namanya Market Price dan ada yang namanya Intrinsic Value, barulah kita bisa melakukan evaluasi terhadap harga saham saat ini (ingat bahwa Market Price saja tidak memberikan informasi bisnis apapun). Apabila Market Price berada di bawah Intrinsic Value, maka harga saham tersebut bisa kita katakan di bawah harga wajarnya alias masih murah. Sementara ketika Market Price berada di atas Intrinsic Value, maka harga saham tersebut bisa kita katakan di atas harga wajarnya alias mahal.
Dalam konsep Value Investing, kita sebagai investor berinvestasi di perusahaan yang memiliki fundamental yang bagus, namun harga sahamnya sedang dihargai murah oleh market (karena faktor non-economic fundamental), sehingga harga sahamnya berada jauh di bawah intrinsic value nya. Gap antara Market Value dan Intrinsic Value disebut dengan Margin of Safety. Semakin besar Margin of 
Safety, maka semakin kecil resiko untuk berinvestasi di saham tersebut. 

Jadi, itu dia penjelasan singkat tentang Value Investing. Jika ingin penjelasan lebh lanjut dapat merujuk ke situs rivankurniawan.com/

Baca Lagi:

Posting Komentar untuk "Mengenal Metode Value Investing bagi Pemula serta Perbedaannya dengan Trading Saham"

SUBCRIBE VIA EMAIL