Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Perbedaan Sumber dan Dalil Hukum dalam Islam


sumber hukum islam
Al-Qur'an Karim


Sumber dan Dalil Hukum Islam

1. Pengertian Sumber Hukum dan Dalil Hukum
         Dalam buku-buku ushul fikih kontemporer, biasa dijumpai ungkapan yang menyatakan ‘’sumber hukum islam yang disepakati seluruh ulama ada empat, yaitu : Al-Qur’an (al-kitab), as-sunnah, al-ijma’, dan al-qiyas’’. Di dalam pernyataan ini terkandung makna bahwa kata sumber hukum, sebagai terjemahan dari kata mashadir al-ahkam, dikacaukan pengertiannya dengan kata dalil hukum, sebagai terjemahan dari kata adilah al-ahkam. Padahal kedua kata itu mengandung pengertian yang berbeda, khususnya ketika yang dimaksud adalah sumber hukum islam dan dalil hukum islam.
Pada hakikatnya, kata sumber mengandung arti sesuatu yang menjadi dasar lahirnya sesuatu. Sedangkan kata dalil mengandung arti, sesuatu yang memberi petunjuk dan mengantarkan orang untuk menemukan sesuatu. Dalam konteks dalil, terdapat upaya ijtihad untuk menemukan hukum islam dari sumber yang asli. Oleh karena itu, yang dapat disebut sebagai sumber hukum islam sebenarnya hanya dua, yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Sebab, keduanya merupakan dasar lahirnya ketentuan hukum islam dan merupakan teks-teks nashsh yang menjadi rujukan dalam menentukan hukum islam itu sendiri.
       Sementara itu, ijma’ dan qiyas sebenarnya bukan sumber hukum tetapi hanya dalil hukum. Sebab keduanya bukan merupakan dasar lahirnya hukum islam, tetapi merupakan penunjuk untuk menemuklan hukum islam yang terdapat di dalam Al-qu’an dan sunnah melalui upaya ijtihad. Demikian juga dengan istihsan, maslahah al-mursalah, ‘urf, syar’u man qablana, madzhab ash-shahabi dan lain-lain, yang jika dikumpul semuanya berjumlah 45 macam. Semua itu kecuali Al-qu’an dan sunnah, bukanlah sumber hukum islam melainkan merupakan dalil atau petunjuk untuk menemukan hukum islam yang terdapat dalam Al-qu’an dan sunnah, dimana Al-qur’an dan sunnah merupakan sumber dan dasar hukum islam.

2. Perbedaan Antara Sumber Hukum dan Dalil Hukum
         Secara sederhana dapat dijelaskan, perbedaan antar sumber hukum islam dan dalil hukum islam, yaitu: sumber hukum islam adalah dasar vutama dan asli yang malahirkan hukum islam, yaitu Al-qur’an dan sunnah. Sedangkan yang disebut dengan dalil hukum islam ialah cara-cara yang ditempuh melalui ijtihad untuk menemukan hukum islam itu sendiri. Cara-cara tersebut dapat berupa istihsan, maslahah al-mursalah, ‘urf, syar’u man qablana, madzhab ash-shahabi dan lain-lain.
Dalam pada itu, meskipun hanya Al-qur’an dan sunnah yang dapat disebut sebagai sumber hukum islam, hal itu tidak menghalangi keduanya disebut sebagai dalil hukum, apabila keduanya memberi petujukuntuk menemukan hukum islam itu sendiri. Dengan kata lain dapat dikatakan hubungan antara sumber dan dalil hukum islam bersifat umum dan khusus, yaitu: sumber hukum islam dapat disebut dalil hukum islam, tetapi tidak semua dalil hukum islam dapat disebut sumber hukum islam.

Al-Qur’an Sebagai Sumber dan Dalil Hukum Islam

1. Pengertian Al-qur’an
         Secara etimologis, Al-qur’an merupakan bentuk mashdar dari kata qara’a; timbangan kata (wazan)-nya adalah fu’lan, artinya: bacaan. Lebih lanjut, pengertian kebahasaan Al-qur’an ialah: yang dibaca, dilihat, dan ditelaah.
        Adapun dalam pengertian terminologi, terdapat beberapa definisi Al-qur’qn yang dikemukakan ulama. Pada umumnya ulama ushul fikih mendefinisikan Al-qur’an sebagai berikut :
‘’Al-qur’an ialah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Muhammad SAW, berbahasa Arab, diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, termaktub di dalam mushhaf, membacanya merupakan ibadah, dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas’
     Sememtara itu, menurut Muhammad Ali Ash-Shabuni : ‘’Al-qur’an ialah firman Allah yang merupakan mukjizat, yang diturunkan kepada ‘’penutup para nabi dan rasul’’ (Muhammad SAW) melalui malaikat Jibril, termaktub di dalam mushhaf, yang diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas’
    Sedangkan Ali Hasbullah mendefinisikan : ''Al-kitab atau Al-qur’an ialah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW berbahasa arab yang nyata, sebagai penjelasan untuk kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat’’
  Dari tiga definisi diatas dapat diketahui bahwa hakikatnya Al-qur’an itu adalah :

  1. Merupakan wahyu yang difirmankan Allah baik makna maupun lafalnya. Dengan demikian, wahyu yang diampaikan hanya dalam bentuk makna saja, sedangkan lafalnya berasal dari Nabi Muhammad tidk disebut Al-qur’an, melainkan hadist qudsi atau hadist pada umumnya.
  2. Diturunkan kepad Nabi Muhammad, artinya wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad, seperti Taurat, Zabur dan Injil, bukanlah Al-qur’an. Dalam pada itu Al-qur’an banyak menceritakan kembali dan menyitir wahyu yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul terdahulu.
  3. Bahasa Al-qur’an adalah bahasa Arab. Dengan demikian, terjemahan Al-quran kedalam bahasa lain atau tafsirnya tidak disebut Al-qur’an. Sebab, baik terjemahan maupun tafsiran Al-qur’an dapat mengandung kesalahan. Oleh karena itu pula, terjemahan Al-qur’an kedalam bahasa lain atau tafsirnya tidak dapat dijadikan rujukan dan digunakan sebagai dalil untuk menetapkan hukum (istinbath al-ahkam).
  4. Diriwayatkan secara mutawatir. Artinya, semua ayat Al-qur’an yang terdapat dalam mushhaf Utsmani dijamin kepastian keberadaannya sebagai wahyu Allah, dan tidak tidak satu ayatpun yang termaktub di dalam mushhaf itu yang bukan wahyu Allah SWT.

2. Kehujjahan Al-Qur’an
       Semua ulama sependapat bahwa Alque’an merupakan hujjah bagi setiap muslim, karena ia adalah wahyu dan kitab Allah yang sifat periwayatannya mutawatir. Periwayatan Al-quran sendiri, selain dilakukan oleh orang banyak dari satu generasi ke generasi yang lain sejak generasi sahabat Nabi SAW, juga dilakukan dalam bentuk lisan dan tulisan, dimana tidak seorangpun berbeda pendapat dalam periwayatannya.
      Adapun dari segi qira’ah (cara membacanya), para sahabat nabi yang terdiri dari berbagai suku, masing-masing suku memiliki dialek (pengucapan kata) bahasa arab yang khas, yang sebagian dialek bahasa sukunya berbeda dari dialek suku yang lain. Perbedaan inilah yang disebut dengan perbedaan qira’ah. Dalam hal ini dikenal ada tujuh qira’ah (qira’ah sab’ah) yang disepekati sebagai qira’ah mutawatirah.
     Jumhur ulama menegaskan, ketujuh qira’ah tersebut adalah : qira’ah Ibnu Katsir di Mekah, Nafi’ di Madinah, Ibnu Amir di Syam (Syria), Abu Amru di Basrah, dan qira’ah Ashim, Hamzah, dan Al-Kasa’I, ketiganya di Kufah. Sementara itu, sebagian ulama lain menambahkan tiga qira’ah lagi, yaitu qira’ah Ja’far, Ya’qub, dan qira’ah Khalaf. Dengan demikian, ulama kelompok terakhir ini mengatakan qira’ah mutawatirah itu jumlahnya sepuluh (al-qira’ah al-‘asyar).
     Berdasarkan hasil penelitian, di dalam membaca dan cara menyampaikan Al-qur’an dikenal empat tingkatan Qira;ah :

  1. Qira’ah mutawatirah, yaitu qira’ah yang diriwayatkan dari satu generasi ke generasi lainnya secara berkesinambungan, mulai sejak masa sahabat, oleh banyak orang, yang karena bayaknya mereka itu, secara logika, dijamin tidak terdapat kesalahan dalam periwayatannya.
  2. Qira’ah masyhurah yaitu qira’ah yang diriwayatkan secara shahih sejak masa sahabat, oleh sekumpulan orang yang jumlah perawinya tidak sebanyak perawi qira’ah mutawatirah, qira’ah ini sejalan dengan kaidah bahasa Arab atau Rasm Usmani. 
  3. Qira’ah ahad yaitu qira’ah yang diriwayatkan secara shahih yang jumlah perawinya tidak sebanyak qira’ah masyhurah tetapi tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab atau Rasm Usmani. 
  4. Qira’ah syadzdzah yaitu qira’ah yang dilihat dari jumlah perawinya tidak sebanyak jumlah perawi masyhurah apalagi mutawatirah. Jumhur ulama menolak qira’ah syadzdzah  dipandang sebagai Al-qur’an. Contohnya : qira’ah yang dinisbahlan kepada Imam Abu Hanifah yang dikumpulkan oleh Abu Al-Fadhl Muhammad bin Ja’far al-Khaza’i.

    Perlu ditegaskan, tinjauan peringkat qira’ah dari segi sedikit banyaknya para perawi qira’ah hany berlaku pada tiga generasi saja, yaitu masa Rasulullah, masa sahabat dan masa tabi’in. sedangkan pada generasi selanjutnya, banyak jumlah perawi tidak lagi mempengaruhi tingkat qira’ah tersebut. Hal ini mengingat pada generasi-generasi selanjutnya, telah banyak instrumen yang dapat digunakan, baik secara lisan maupun tulisan, untuk mengubah status riwayat yang bersifat ‘ahad menjadi mutawatir.

Daftar Pustaka
  • Dahlan, Abdul Rahman, Ushul Fiqh, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 113-114

1 komentar untuk "Perbedaan Sumber dan Dalil Hukum dalam Islam"

  1. Terima kasih abgda, sangat bermanfaat untuk materi kompre. doakan yaa bang hehe

    BalasHapus

SUBCRIBE VIA EMAIL