Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Transaksi Salam Serta Teknis Penerapannya dalam Perbankan


pesan online (salam)

A. Pengertian Salam
            Bai’ as-salam atau disingkat salam disebut juga dengan salaf secara bahasa berarti pesanan atau jual beli dengan melakukan pesanan terlebih dahulu.Salam ialah pembeli memesan barang dengan memberitahukan sifat-sifat serta kualitasnya  kepadaa penjual dan setelah ada kesepakatan. Dengan kata lain , pembelian barang dengan membayar uang lebih dahulu dan barang yang beli diserahkan kemudian (Dow Payment) artinya penyetoran harga baik lunas maupun sebagian harga pembelian sebagai bukti kepercayaan, sehubungan dengan transaksi yang telah dilakukan.
          Akad salam atau pesanan erat kaitannya dengan akad jual beli.bahkan menurut imam alauddin al-kasani.”salam itu adalah jual beli”dalam pembahasan mengenai macam-macam jual beli.ditinjau dari segi hubungan dengan objeknya,jual beli terbagi kepada empat bagian,yaitu:

  • Jual beli mutlaq
  • Jual beli muqayadhah
  • Jual beli sharf
  • Jual beli salam 

        Misalnya kata penjual: “saya jual kepadamu saatu box (box mobil) dengan harga Rp. 1.500.000,. setelah transaksi disetujui, pembeli membayarnya waktu itu juga walaupun boxnya belum ada. Jadi salam ini jual beli utang dari pihak penjual dengan kontan dari pihak pembeli, karena uangnya sudah dibayar sewaktu akad atau dengan perkataan lain: salam adalah jual beli berupa pesanan (in front payment sale) juga disebut dow payment, artinya penyetoran sebagian harga pemebelian sebagai bukti kepercayaan. Namun hal ini perlu bukti pembayaran yang sah berupa kwitansi atau catatan yang ditandatanagani penerima uang.

B. Landasan Syari’ah
  Landasan syari’ah transaksi ba’i as-salam terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

a. Al-Qur’an

يَأَ يُّهَا الَّذِ يْن اَمَنُوْا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلَى اَجَلٍ مُّسَمَّى فَاكْتُبُوْهُ...........

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu  bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya...(QS. Al-Baqarah:282).

     Dalam kaitan ayat tersebut, Ibnu Abbas menjelaskan keterkaitan ayar tersebut dengan transaksi ba’i as-salam. Hali ini tampak jelas dari ungkapan beliau, “Saya bersaksi bahwa salaf (salam) yang dijamin untuk jangka waktu tertentu telah dihalalakan oleh Allah pada kitab-Nya dan diizinkan-Nya.”Ia lalu membaca ayat tersebut diatas.

b. Al-Hadits
       Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rassulullaah ssaw. Datang ke madinah dimana penduduknya melakukan salaf (salam) dalam buah-buahan (untuk jangka waktu) satu, dua, dan tiga tahun. Beliau berkata:

مَنْ اَسْلَفَ فِيْ شَيْئٍ فَفِيْ كَيْلٍ مَعْلُوْمٍ وَوَزْنٍ مَعْلُوْمٍ اِلَى اَجَلٍ مَعْلُوْمٍ

Barang siapa yang melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang diketahui.” (HR. Bukhari)

Baca Juga:



C. Rukun dan Syarat Salam
       Rukun salam menurut hanafiyah adalah ijab dan Kabul,sedangkan menurut jumhur ulama,seperti halnya jual beli,rukun salam itu meliputi:

  1. ‘aqid, yaitu pembeli atau al-muslim atau rabbus-salam,dan penjual atau a-muslam ilaih.
  2. Maqum alaih,yaitu muslam fih,(barang yang dipesan) dan harga atau modal salam (ras al-mal as-salam).
  3. Sighat yaitu ijab dan qabul. 

      Disamping segenap rukun harus terpenuhi, ba’i as-salam juga mengharuskan tercukupinya segenap syarat-syarat pada masing-masing  rukun. Dibawah ini akan diuraikan dua diantara syarat-syarat terpenting, yaitu modal dan barang.
a) Modal transaksi ba’i as-salam

  • Modal harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang ataupun manfaat.
  • Penerimaan pembayaran salam, Kebanyakan ulama mengharuskan pembayaran salam dilakukan di tempat kontrak.
  • Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang. 

b) Al-Muslam Fiihi (Barang)
Diantara syarat-syarat yang harus terpenuhi dalam al-muslam fiihi sebagai berikut:

  • Harus spesifik dan dapat diakui sebagai utang
  • Harus bisa diidentifikasikan secara jelas untuk mengurangi kesalahan akibat kurangnya pengetahuan tentang macam barang tersebut.
  • Penyerahan barang dilakukan di kemudian hari
  • Kebanyakan ulama masyarakat penyerahan barang harus ditunda suatu waktu kemudian, tetapi mazhab syafi’i membolehkan penyerahan segera.
  • Bolehnya menentukan tanggal waktu di masa yang akan datang untuk penyerahan barang.
  • Tempat penyerahan. Pihak-pihak yang berkontrak harus menunjuk tempat yang disepakati dimana barang harus diserahkan.
  • Tidak boleh menukar barang kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.

Didalam kitab muamalat terdapat beberapa syarat-syarat salam yaitu:

  1. Uang hendaknya dibayar ditempat akad.berarti pembayaran dilakukan terlebih dulu.
  2. Barangnya menjadi utang bagi sipenjual.
  3. Barangnya dapat diberikan sesuai waktu yang dijanjikan.berarti pada waktu yang dijanjikan barang itu sudah harus ada,oleh karena itu,mensalamkan buah-buahan yang waktunya bukan ditentukan pada musimnya tidak sah.
  4. Barangnya hendaklah jelas ukurannya,baik takaran,timbangan ukuran,ataupun bilangannya,menurut kebiasaan menjual barang semacam itu.
  5. Diketahui dan disebutkan sifat-sifat barangnnya
  6. Disebutkan tempat menerimanya,kalau tempat akad tidak layak buat menerima barang tersebut,akad salam mesti terus,artinya tidak ada khiyar syarat. 

D. Teknis dalam Perbankan

Penerapan salam pada Bank Syariah dapat dilihat dari skema dibawah ini ;

Skema Transaksi Salam

Selain itu skim salam juga bisa dilakukan oleh bank syariah secara paralel. Contoh jual beli hasil pertanian, misalnya nasabah memesan kepada bank selaku penjual atas hasil panen tertentu sebelum masa panen tiba yang disertai pembayaran secara tunai. Mengingat bank tidak memiliki kemampuan untuk pengadaan barang sebagaimana pesanan nasabah, maka bank akan melakukan pemesanan kepada pihak lain, yakni pemasok. Skema penerapan salam paralel tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini :


Skema Transaksi Salam Paralel

Gambar tersebut dapat dijelaskan :

  1. Nasabah pemesan (misalnya bulog) sebagai badan yang bertanggung jawab untuk pemenuhan kebutuhan pangan memesan barang (misalnya INTANI-2 kadar air 12% kualitas A sebanyak 10 ton) kepada Bank Syariah kepada produsen (alur 1 a). untuk itu dilakukan negosiasi antara nasabah pemesan dengan bank syariah sebagai produsen, khususnya yang berkaitan dengan barang dan cara pembayaran. Setelah diperoleh kesepakatan nasabah sebbagai pemesan harus segera melakukan pembayaran harga barang yang disepakati.
  2. Karena Bank Syariah tidak memiliki lahan, maka Bank Syariah melaukan pemesanan barang yang sama kepada pemasok sebagai pihak yang memiliki lahan yang cukup (alur 1 b). untuk itu Bank Syariah melakuakan negosiasi dan kesepakatan antara lain tentang spesifikasi barang yang dipesan (sama dengan yang dipesan nasabah) dan pembayaran yang dilakukan. Setelah disepakati Bank Syariah segera melakukan pembayaran harga barang sebagai modal salam (alur 2 b).
  3. Tahab akhir pemasok  sebagai produsen menyerahkan barang pesanan kepada bank syariah sebagai pemesan (alur 3 a). dan entitas syariah sebagai produsen menyerahkan barang pesanan kepada nasabah sebagai pemesan (alur 3 b). hutang bank syariah ke nasabah adalah ‘’barang sesuai pesanan’’ (bukan hutang uang seharga barang) dan jika dilakukan penyerahan barang sesuai pesanan dalam akad maka selesai kewajiban bank syariah kepada bulog terlepas harga saat penyerahan. Begitu juga hutang pemasok kepada bank syariah.

       Sekilas transaksi salam hampir mirip dengan jual beli ijon yang diterapkan tengkulak di pedesaan. Perbedaanya terletak pada kejelasan kualitas dan kuantitas barang yang dipesan. Pada sistem ijon, pembeli tidak menetapkan kualitas dan kuantitas barang, namun hanya harga setelah panen. Sistem ijon pembeli cukup  menyatakan harga seluas lahan atau kebiasaan jumlah panen lahan tersebut. Bentuk ini jelas tergolong kedalam gharar yang sudah jelas keharamannya. Sedangkan pada salam, pembeli dan penjual menyepakati kualitas, kuantitas dan harga saat panen. Jika harga setelah panen turun, maka total harga penjual juga turun, dan begitu juga sebaliknya.

Posting Komentar untuk "Transaksi Salam Serta Teknis Penerapannya dalam Perbankan "

SUBCRIBE VIA EMAIL