Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Akuntansi Syariah I Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah

Laporan Keuangan


      Ilmu akuntansi adalah termasuk ilmu yang bersifat terapan, yang mempunyai kaitan erat dengan ilmu atau peristiwa yang terjadi sebelumnya.
      Ilmu ekonomi (konsumsi, produksi, distribusi dan investasi) sangat mempengaruhi ilmu akuntansi di sektor-sektor tersebut. Ilmu ekonomi akan sangat dipengaruhi oleh sistem yang dianutnya dalam negara yang menerapkannya (kapitalis, sosialis, ekonomi syariah). untuk itu akuntansi dapat dikembangkan untuk mendukung  ekonomi dengan mengikuti paradigma dari sistem ekonominya.
      Karena akuntansi termasuk multi paradigm science maka mustahil akuntansi mempunyai general theory of accounting atau teori akuntansi yang general berlaku di segala sistem ekonomi yang berlainan paradigma.
       oleh karena itu akuntansi memerlukan yang dinamakan ‘kerangka dasar untuk akuntansi dan pelaporan keuangan (conceptual framework for financial accounting and reporting)

Tujuan Kerangka Dasar Syariah
Untuk membantu:
  1. Penyusun standar akuntansi keuangan syari’ah, dalam pelaksanaan tugasnya.
  2. Penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi syari’ah yang belum diatur dalam standar akuntansi keuangan syari’ah.
  3. Auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi syari’ah yang berlaku umum.
  4. Para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan syari’ah.
Pengguna & Kebutuhan Informasi
  1. Investor sekarang dan investor potensial 
  2. Pemilik dana qardh 
  3. Pemilik dana syirkah temporer 
  4. Pemilik dana titipan 
  5. Pembayar dan penerima zakat, infak, sedekah dan wakaf 
  6. Pengawas syari’ah 
  7. Karyawan 
  8. Pemasok dan mitra usaha lainnya 
  9. Pelanggan 
  10. Pemerintah serta lembaga-lembaganya 
  11. Masyarakat
Asas Transaksi Syariah
  1. Persaudaraan (ukhuwah
  2. Keadilan (‘adalah
  3. Kemaslahatan (maslahah
  4. Keseimbangan (tawazun
  5. Universalisme (syumuliyah)
Persaudaraan (Ukhuwah)
Prinsip ini didasarkan atas:
  1. Prinsip saling mengenal (ta’aruf) 
  2. Saling memahami (tafahum) 
  3. Saling menolong (ta’awun) 
  4. Saling menjamin (takaful) 
  5. Saling bersinergi
  6. Saling beraliansi (tahaluf)
Keadilan (‘Adalah)
Realisasi prinsip ini adalah melarang adanya unsur:
  1. Riba/bunga dalam segala bentuk dan jenis
  2. Kezhaliman, baik terhadap kepada diri sendiri, orang lain atau lingkungan
  3. Judi atau bersikap spekulatif (maysir) dan tidak berhubungan dengan produktivitas
  4. Unsur ketidakjelasan (gharar), manipulasi dan eksploitasi informasi serta tidak adanya kepastian pelaksanaan akad
  5. Haram/segala unsur yang dilarang tegas dalam al quran dan assunnah, baik dalam barang/jasa ataupun aktivitas operasional terkait
Kemaslahatan (maslahah)
  1. Kemaslahatan (maslahah) adalah segala bentuk kebaikan dan manfaat yang berdimensi duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan kolektif.
  2. Kemaslahatan harus memenuhi dua unsur yaitu: halal (patuh terhadap ketentuan syari’ah) dan thayyib (membawa kebaikan dan bermanfaat).
Keseimbangan (Tawazun)
      Yaitu keseimbangan antara aspek material dan spiritual, antara aspek privat dan publik, antara sektor keuangan dan sektor riil, antara bisnis dan sosial serta antara aspek pemanfaatan serta pelestarian.
       Transaksi syari’ah tidak hanya memperhatikan kepentingan pemilik semata tetapi memperhatikan kepentingan semua pihak sehingga dapat merasakan manfaat adanya suatu kegiatan ekonomi tersebut

Universalisme (Syumuliah)
     Universalisme (syumuliyah), dimana esensinya dapat dilakukan oleh, dengan dan untuk semua pihak yang berkepentingan tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan sesuai dengan semangat kerahmatan semesta (rahmatan lil alamin)

Karakteristik Transaksi Syariah
  1. Hanya dilakukan berdasarkan prinsip saling paham dan saling ridha;
  2. Prinsip kebebasan bertransaksi diakui sepanjang objeknya halal dan baik (thayyib);
  3. Uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai, bukan sebagai komoditas;
  4. Tidak mengandung unsur riba;
  5. Tidak mengandung unsur kezhaliman;
  6. Tidak mengandung unsur maysir;
  7. Tidak mengandung unsur gharar;
  8. Tidak mengandung unsur haram;
  9. Tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang (time value of money);
  10. Dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang jelas dan benar
  11. Tidak ada distorsi harga melalui rekayasa permintaan (najasy), maupun melalui rekayasa penawaran (ihtikar);dan
  12. Tidak mengandung unsur kolusi dengan suap menyuap (risywah).
Pengertian dan Tujuan Laporan Keuangan
      Pengertian Laporan Keuangan dapat dipahami sebagai hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan.
      Menurut Ikatan Akuntan Indonesia Laporan keuangan merupakan struktur yang menyajikan posisi keuangan dan kinerja keuangan dalam sebuah entitas.
      Menurut PSAK No. 1 Tahun 2015, Laporan Keuangan adalah penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Laporan ini menampilkan sejarah entitas yang dikuantifikasi dalam nilai moneter. Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan.
Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi:
  1. neraca,
  2. laporan laba rugi,
  3. laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana),
  4. catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Disamping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya, informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga.
      Pendapat lain menurut Baridwan (2004:17) dalam Intermediate Accounting, mendefinisikan laporan keuangan adalah ringkasan suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama satu tahun buku yang bersangkutan. 
Berdasarkan sejumlah defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah:
  1. Merupakan hasil dari proses akuntansi yang penting dan dapat digunakan untuk membuat keputusan-keputusan ekonomi. 
  2. Menggambarkan kinerja keuangan maupun kinerja manajemen perusahaan apakah dalam kondisi yang baik atau tidak. 
  3. Merupakan ringkasan dari suatu proses transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama periode yang bersangkutan.
    Tujuan umum dari laporan keuangan ini untuk kepentingan umum adalah penyajian informasi mengenai posisi keuangan (financial position), kinerja keuangan (financial performance), dan arus kas (cash flow) dari entitas yang sangat berguna untuk membuat keputusan ekonomis bagi para penggunanya
     Untuk dapat mencapai tujuan ini, laporan keuangan menyediakan informasi mengenai elemen dari entitas yang terdiri dari aset, kewajiban, networth, beban, dan pendapatan (termasuk gain dan loss), perubahan ekuitas dan arus kas. Informasi tersebut diikuti dengan catatan, akan membantu pengguna memprediksi arus kas masa depan.
Menurut Standar Akuntasi Keuangan tujuan laporan keuangan adalah sebagai berikut:
  1. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, seta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. 
  2. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dan kejadian di masa lalu.
  3. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship) atau pertanggunggjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Beberapa tujuan laporan keuangan dari berbagai sumber di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :
  • Informasi posisi laporan keuangan yang dihasilkan dari kinerja dan aset perusahaan sangat dibutuhkan oleh para pemakai laporan keuangan, sebagai bahan evaluasi dan perbandingan untuk melihat dampak keuangan yang timbul dari keputusan ekonomis yang diambilnya.
  • Informasi keuangan perusahaan diperlukan juga untuk menilai dan meramalkan apakah perusahaan di masa sekarang dan di masa yang akan datang sehingga akan menghasilkan keuntungan yang sama atau lebih menguntungkan. 
  • Informasi perubahan posisi keuangan perusahaan bermanfaat untuk menilai aktivitas investasi, pendanaan dan operasi perusahaan selama periode tertentu. Selain untuk menilai kemampuan perusahaan, laporan keuangan juga bertujuan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi. .
Bentuk Laporan Keuangan Syari’ah:
  1. Posisi Keuangan Entitas Syari’ah, disajikan sebagai neraca
  2. Informasi Kinerja Entitas Syari’ah, disajikan dalam laporan laba rugi
  3. Informasi Perubahan Posisi Keuangan Entitas Syari’ah
  4. Informasi Lain; seperti Laporan Penjelasan tentang Pemenuhan Fungsi Sosial Entitas Syari’ah
  5. Catatan dan Skedul Tambahan
Asumsi Dasar
Dasar Akrual
Pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan diungkapkan dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan.

Kelangsungan Usaha
Entitas syari’ah akan melanjutkan usahanya di masa depan (going concern) dan diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala usahanya.

Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
  1. Dapat dipahami (understandable) Kemudahan informasi untuk segera dapat dipahami oleh pemakai
  2. Relevan (relevance). Mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai; Membantu mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan; Menegaskan atau mengoreksi, hasil evaluasi di masa lalu.
  3. Keandalan (reliable) Bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (representation faithfulness) 
  4. Dapat dibandingkan (comparable) Pembandingan berupa pengukuran dan penyajian dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang serupa , antar periode entitas syari’ah yang sama, untuk entitas syari’ah yang berbeda, maupun dengan entitas lain.
Kendala Relevan & Keandalan
  • Tepat waktu Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya. 
  • Keseimbangan antara biaya dan manfaat Manfaat yang dihasilkan informasi seharusnya melebihi biaya penyusunannya.
Unsur Laporan Keuangan Syariah
  • Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan komersial yang terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan arus kas, serta laporan perubahan ekuitas. 
  • Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan sosial, meliputi laporan sumber dan penggunaan dana zakat serta laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan. 
  • Komponen laporan keuangan lainnya yang mencerminkan kegiatan dan tanggung jawab khusus entitas syari’ah tersebut.
Posisi Keuangan Syariah
  1. Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh entitas syari’ah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh entitas syari’ah.
  2. Kewajiban merupakan hutang entitas syari’ah masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas syari’ah yang mengandung manfaat ekonomi. 
  3. Dana Syirkah Temporer adalah dana yang diterima sebagai investasi dengan jangka waktu tertentu dari individu dan pihak lainnya dimana entitas syari’ah mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana tersebut dengan pembagian hasil investasi berdasarkan kesepakatan.
  4. Ekuitas adalah hak residual atas aktiva entitas syari’ah setelah dikurangi semua kewajiban dan dana syirkah temporer. Ekuitas dapat disubklasifikasikan menjadi setoran modal pemegang saham, saldo laba, penyisihan saldo laba dan penyisihan penyesuaian pemeliharaan modal.


Posting Komentar untuk "Akuntansi Syariah I Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah"

SUBCRIBE VIA EMAIL