Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Argumentasi Kehujjahan Hadits

Kaligrafi

      Untuk membuktikan kebenaran hadits sebagai sumber ajaran islam, para ulama hadits mengemukakan beberapa argumentasi baik dilihat dari segi rasional dan teologis, Al- Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’.
1. Argumentasi Rasional atau Teologis
        Kehujjahan hadist dapat diketahui melalui argumentasi rasional dan teologis sekaligus. Beriman kepada Rasulullah merupakan salah satu rukun iman yang harus diyakini oleh setiap muslim. Keimanan ini diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an agar manusia beriman dan menaati Nabi. Menurut Muhammad ‘Ajjaj Al Khatib, bila seseorang mengaku beriman kepada Rasulullah, maka konsekuensi logisnya menerima segala sesuatu yang datang darinya yang berkaitan dengan urusan agama, karena Allah telah memilihnya untuk menyampaikan syariat-Nya kepada umat manusia. Allah juga memerintahkan untuk beriman dan menaati Nabi. Dengan demikian, menerima hadist sbagai hujjah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keimanan seseorang. Apabila tidak menerima hadist sebagai hujjah, maka sama halnya ia tidak beriman kepada Rasulullah. Jika tidak beriman kepada Rasulullah maka ia kafir karena tidak memenuhi salah satu dari enam rukun iman. 
       Kerasulan Nabi Muhammad SAW telah diakui dan dibenarkan oleh umat islam. Di dalam pengembangan misinya itu kadangkala beliau menyampaikan apa yang diterimanya dari Allah SWT, baik isi maupun formulasinya dan kadangkala atas inisiatif sendiri dengan bimbingan wahyu dari Allah. Namun, juga tidak jarang beliau menawarkan hasil ijtihad semata-mata mengenai suatu masalah yang tidak dibimbing oleh wahyu. Hasil ijtihad beliau ini tetap berlaku sampai ada nash yang menasakhkan. 
     Jika sesorang telah beriman bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka sudah tentu wajib baginya menerima segala sesuatu yang datang dari beliau. Adapun yang mengingkari apa yang datang dari Rasulullah disebut ingkar al-Sunnah. 
2. Argumentasi Al-Qur’an
        Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Nabi Muhammad memiliki peran yang sangat penting dalam kaitannya dengan agama. 
1) Nabi diberi tugas untuk menjelaskan Al-Quran sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 44
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُون
‘’Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.’’
2) Nabi sebagai suru tauladan (uswah hasanah) yang wajib diikti oleh umat islam. Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
‘’Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah’’
3) Nabi wajib ditaati oleh segenap umat islam sebagaimana dijelaskan pada surat Al-Anfal ayat 20
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ
‘’Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya),’’ 
Disamping itu, terdapat beberapa ayat Al-qur’an yang memerintahkan manusia untuk taat kepada Nabi. Diantarnya adalah surat An-nisa’ ayat 59, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
‘’Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya’’.
Demikian pula pada ayat 7 surat Al-Hasyr, Allah berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
‘’Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.’’
  Selain ayat-ayat diatas, masih banyak lagi ayat-ayat yang sejenis yang menjelaskan tentang keta’atan kepada Allah dan Rasul-Nya seperti surat Al-Maidah ayat 92, dan An-Nur ayat 54. Beberapa ayat al-Qur’an diatas menunjukkan bahwa ketaatan kepada Rasulullah bersifat mutlak, sebagaimana ketaatan kepada Allah. Demikian halnya ancaman atau peringatan bagi yang durhaka. Ancaman Allah sering disejajarkan dengan ancaman karena durhaka kepada Rasul-Nya.  
    Ketaatan kepada Rasulullah hanya dapat diwujudkan melalui ketaatan terhadap segala yang dibawanya, yaitu ajaran-ajaran islam yang terdapat dalam A-Qur’an dan hadist Nabi. Dengan demikian, ketaatan kepada ketentuan-ketentuan hadits merupakan suatu keniscayaan.
3. Argumentasi Sunnah 
    Kehujjahan hadits dapat diketahui pula melalui pernyataan Rasulullah sendiri melalui hadits-haditsnya. Banyak hadits yang menggambarkan tentang perlunya taat kepada Nabi Muhammad. Diantaranya, pesan tentang keharusan menjadikan hadits sebagai pedoman hidup disamping Al-Qur’an agar manusia tidak tersesat. Nabi bersabda: 
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَ هُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mendatangiku di Telaga (di Surga).”(H.R al-Hakim al-Naysaburi)
      Hadits ini dengan tegas menyatakan bahwa Al-Qur’an dan sunnah Nabi merupakan pedoman hidup yang dapat menuntun manusia menjalani kehidupan yang lurus dan benar, bukan jalan yang salah dan sesat. Keduanya merupakan peninggalan Rasulullah yang diperuntukkan bagi umat islam agar mempedomaninya.
Demikian pula dalam hadits-hadits yang senada yang menjelaskan tentang keharusan umat islam mengikuti hadist Nabi baik dalam urusan ibadah kepada Allah maupun dalam persoalan hokum dan kemasyarakatan, sebagaimana terlihat pada dialog antara Rasulullah dan Mu’adz ibn Jabal menjelang keberangkatannya ke Yaman bahwa Mu’adz akan berlandaskan antara lain pada sunnah Nabi ketika menetapkan hokum suatu perkara yang dihadapinya dan Nabi menyetujui serta membenarkan pendapat Mu’adz itu. 
     Dengan petunjuk ayat-ayat dan sunnah Nabi saw di atas, maka jelaslah bahwa sunnah Nabi Muhammad saw merupakan sumber atau hujjah hokum Islam, selain Alquran. Orang yang menolak sunnah sebagai salah satu hujjah hukum Islam berarti orang itu menolak petunjuk Alquran.
4. Argumentasi Ijma’ Ulama
     Mengamalkan sunnah Rasulullah wajib menurut Ijma’ para sahabat. Tidak seorangpun diantara mereka yang menolak tentang wajibnya taat kepada Rasulullah. Bahkan umat islam telah bersepakat mengenai kewajiban mengikuti sunnah. Kewajiban mengikuti sunnah ini dikuatkan dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana telah dijelaskan diatas.
    Memang diantara umat islam, ada yang mengingkari sunnah yang disebut dengan kelompok ingkar al-Sunnah yang cikal bakalnya muncul sejak zaman iman Syafi’I, tetapi jumlah mereka sangat sedikit dan argumentasi mereka sudah dipatahkan oleh para ulama hadits, sehingga pendapat mereka tidak bernilai. 
    Mereka (ingkar al-sunnah) berpendapat bahwa sumber ajaran islam itu hanya satu yaitu Al-Qur’an. Paham ini telah ada sejak tahun 204H/820M. argumentasi-argumentasi mereka, bahkan telah dibantah Asy-Syafi’I dengan membuktikan keabsahan sunnah sebagai salah satu sumber ajaran islam. Atas kegigihannya itulah, Asy-Syafi’I diberi gelar ‘’Pembela Hadits’’ atau ‘’ Pembela Sunnah’’ oleh ulama-ulama generasi sesudahnya.
  Factor pendorong munculnya ingkar as-sunnah banyak sekali, tetapi diantaranya yang paling mendasar adalah kertidakpahaman mereka atas berbagai hal yang berkaitan dengan ilmu hadits. Tidak hanya dimasa Asy-Syafi’I, factor inipun hingga kini masih menjadi pendorong munculnya kalangan tersebut. Hal ini tampak dalam kelompok ingkar as-sunnah di Indonesia dan Malaysia, dengan Kasim Ahmad salah satu tokohnya, yang banyak membantah pandangan Imam Syafi’I tentang kehujjahan Sunnah. 
   Ijma’ umat islam untuk menerima dan mengamalkan sunnah sudah ada sejak zaman Nabi, para Khulafaur Rasyidin dan para pengikut pengikut mereka. Banyak contoh yang bisa menjelaskan betapa para sahabat sangat mengagumi Rasulullah dan melakukan apa yang dilakukannya. Diantaranya: 
1) Abu Bakar pernah berkata: ‘’aku tidak meninggalkan sesuatupun yang dilakukan Rasulullah, maka pasti aku melakukannya…’’
2) Umar bin Khatab ketika di depan Hajar Aswad berkata ‘’saya tahu engkau adalah batu, andaikata aku tidak melihat Rasulullah menciummu, tentu aku tidak akan menciummu’
3) Utsman bin Affan berkata ‘’saya duduk sebagaimana duduknya Rasulullah, saya makan sebagaimana makannya dan saya sholat sebagaimana sholatnya’’
4) Ali bin Abi Thalib berkata ‘’kami melihat Rasulullah berdiri, lalu kami berdiri, dan beliau duduk, kamipun duduk.’’ 

Pendapat Imam Mazhab Empat Tentang Kriteria Kehujjahan Hadits
1. Pendapat Imam Abu Hanifah
   Imam Abu Hanifah dalam mengambil sumber atau dalil hokum dalam menghadapi tuntutan ketetapan hukum terhadap masalah-masalah yang dihadapinya atau yang timbul di tengah-tengah masyarakat, ia menempatkan hadis sebagai sumber penetapan hukum yang kedua sesudah al-Qur`an. Hal ini diketahui melalui ulasan yang diberikan al-Baghdadi dalam buku tarikhnya, di mana Abu Hanifah berkata: Saya terlebih dahulu mengambil pada kitab Allah, tetapi kalau saya tidak menemukan di dalamnya, maka saya mengambil pada sunnah Rasulullah saw.
Banyak ulama yang menududh Abu Hanifah mendahulukan qiyas dari pada hadis. Namun tuduhan itu hanyalah didorong oleh perasaan apriori belaka. Al-Sya’rani dalam kitabnya, al-Mizan al-Kubra menulis, bahwa Abu Hanifah berkata: Demi Allah, telah berdusta dan telah mengada-ada terhadap saya, orang yang mengatakan, sesungguhnya saya mendahulukan qiyas atas nash. Apakah diperlukan qiyas sesudah ada nash.
    Jumhur ulama telah menegaskan, Abu Hanifah ber-hujjah dengan hadis mutawatir. Sebagian ulama Hanafiyah menyamakan hadis masyhur dengan hadis mutawatir; dan sebagian dari mereka menegaskan, hadis masyhur tidak menyangkut soal yang bersifat keyakinan, melainkan hanya yang bersifat zhanni (di luar keyakinan atau akidah). Dengan kata lain, hadis masyhur dapat diamalkan dan di bawah peringkat hadis mutawatir.
   Dari keterangan di atas, Nampak ada perbedaan di kalangan ulama pengikut Abu Hanifah dalam mendudukkan hadis sebagai hujjah. Ada yang menyamakan derajat hadis masyhur dengan hadis mutawair; dan ada yang berpandangan peringkat hadis masyhur berada di bawah hadis mutawatir. Ada dualism persepsi, namun pada hakikatnya, keduanya menyetujui hadis mutawatir sebagai hadis yang dapat dijadikan hujjah dalam menetap-kan hukum. Abu Hanifah menerima hadis ahad dengan menetapkan syarat-syarat sebagai berikut:
  1. Periwayatnya tidak menyalahi riwayatnya
  2. Riwayatnya tidak menyangkut soal yang umum
  3. Riwayatnya tidak menyalahi qiyas.

Hadis ahad didahukukan atas qiyas, jika:
  • Qiyas yang ‘illat-nya mustanbath dari sesuatu yang zhanni
  • Istinbath zhanni walau dari asal yang qath’i
  • Di-istinbath-kan dari yang qath’i, tapi penerapannya pada furu’ adalah zhanni.

   Berdasarkan penjelasan tersebut, ternyata Abu Hanifah menggunakan qiyas untuk menilai hadis ahad sebagai alat untuk memproduk hukum Islam.
Dengan demikian dapat dikatakan, posisi hadis ahad bagi Abu Hanifah berada di bawah qiyas. Abu Hanifah dapat menerima hadis mursal dalam membina hukum Islam, selama tidak bertentangan dengan alQur`an, hadis masyhur dan keterangan syara’.
   Pada prinsipnya Abu Hanifah menetapkan al-Qur`an sebagai sumber hukum Islam yang pertama, menerima sunnah jika datang dari orang yang terpercaya, menerima hadis ahad sesudah al-Qur`an, jika hadis ahad tidak bertentangan dengan kaedah yang telah di-ijma’-i oleh ulama, tidak termasuk soal yang umum dan tidak menyalahi qiyas’. Abu Hanifah menerima juga hadis mursal sebagai  hujjah jika tidak bertentangan dengan al-Qur`an, serta menggunakan hadis mutawatir sebagai hujjah. Sedangakan terhadap ke-hujjah-an hadis masyhur, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama Hanafiyah.
2. Pendapat Imam Malik bin Anas
    Imam Malik adalah imam dalam bidang fikih dan hadis. Hal ini terlihat padal kitabnya, al-Muwaththa`. AlQadhi ‘Iyadh menyebutkan dalam kitab al-Madari, bahwa dasar pengangan dalam menetapkan hukum Islam ada empat, yaitu al-Kitab, al-sunnah, ‘amal ahli Madinah dan qiyas. Menurut Imam Malik, dididukkan al-sunnah terhadap al-Qur`an dalam
tiga hal, yaitu:
  1. Mentaqrir-kan hukum hukum dalam al-Qur`an
  2. Menerangkan apa yang dfikehendaki al-Qur`an
  3. Mendatangkan hukum baru yang tidak disebutkan dalam al-Qur`an.

   Mencermati pendapat Imam Malik tersebut, dapat ditegaskan bahwa Imam Malik dalam membina hukum Islam, ia menempatkan al-sunnah sebagai sumber pengambilan hukum yang kedua sesudah al-Qur`an. Imam Malik memandang keberadaan al-sunnah sekaligus sebagai sumber bagi timbulnya hukuim-hukum baru di luar alQur`an. Imam Malik menegaskan, dirinya menrima hadis mursal, hadis munqathi’ dan hadis-hadis yang disampaikan periwayat kepadanya yang (dalam kitab al-Muwaththa`) dita’bir-kan dengan ‘ibarat balaghani (sampai kepadaku), walaupun ia tidak terangkan sebab-sebab ia menerima hadis-hadis tersebut, mengingat pada masa itu, belum dipersoalkan ulama tentang kedudukan hadis mursal; dan ia sendiri tidak menerima hadis melainkan dari orang yang dipercayainya.
  Imam Malik menegaskan pula, dirinya berpegang kepada ‘amal penduduk Madinah dan menggunakan qiyas dalam membina dan menetapkan masalah hukum yang dihadapinya. Adapun hadis ahad, ulama-ulama Malikiyah tidak mengamalkannya bila bertentangan dengan amalan-amalan atau ‘urf ulama-ulama Madinah, menginat ada pandangan yang mengatakan, amalan-amalan ulama Madinah sama dengan riwayatnya. Pada intinya, Imam Malik membina hukum-hukum Islam dengan berdasarkan al-Qur`an sebagai sebagai sumber pembinaan yang pertama, kemudian sunnah sebagai sumber pembinaan yang kedua. Dalam hal hadis, Imam Malik menerima hadis masyhur, hadis mursal dan hadis mutawatir serta hadis ahad. Sementara khusus hadis ahad, Imam Malik memberi syarat, yaitu tidak bertentangan dengan amalan-amalan ulama Madinah.
3. Imam Syafi’i
     Imam al-Syafi’i membagi prosedural ilmiah penetapan dalil-dalil hukum dalam lima tingktan dengan urutan sebagai beriukut:
  1. Al-Kitab dan al-Sunnah. Ditempatkannya al-sunnah sejajar dengan alKitab karena al-sunnah merupakan penjelas bagi al-Kitab, walau hadis ahad tidak senilai dengan al-Kitab. 
  2. Ijma’ ditempuh dalam berbagai masalah yang tidak diperoleh dalilnya dari al-Kitab dan alsunnah. Ijma’ dalam hal ini, ialah ijma’-nya para fuqaha yang memiliki ilmu khusus.
  3. Qawl (pendapat) sebagian sahabat yang diketahui, tidak ada qawl lain yang menyelisihinya.
  4. Qawl-Qawl sahabat yang bertentangan dengan qawl-qawl sahabat juga; dalam hal ini, mengambil qawl yang paling kuat.
  5. Qiyas, yaitu menetapkan hokum suatu masalah dengan menyamakan (mengkias) hukum yang sudah dietapkan oleh dalil di atas.

   Menyimak pembagian procedural ilmiah tersebut, dapat diketahui, bahwa Imam Syafi’I dalam membina hukujm Islam, ia menemaptkan al-Qur`an dan hadis sebagai termpat bersandarnya ijma’, qawl sahabat dan qiyas. Dengan kata lain, bahwa sumber yang digunakan Imam Syafi’I dalam membina hokum, hanyalah dua, yaitu al-Qur`an dan hadis. Adapun dalildalil lain dalam urutan tingkatan di atas, hanyalah merujuk kepada alQur`an dan hadis. Dalam kitabnya, al-Risalah, Imam Syafi’i mengajukan sejumlah dalil yang membuktikan ke-hujjah-an al-sunnah. 
Hadis ahad, Imam Syafi’i menerimanya, namun dengan syarat sebagai berikut:
  • Periwayatnya adalah orang yang dipercaya
  • Periwayatnya berakal atau memahami apa yang diriwayatkan
  • Periwayatnya dhabith
  • Periwayatnya benar-benar mendengar hadis itu dari orang yang meriwayatkannya
  • Periwayatnya tidak menyalahi ahli ilmu yang juga meriwayatkan hadis yang sama.

    Sedangkan hadis mursal, Imam Syafi’I tidak menerima secara mutlak dan tidak menolaknya secara mutlak. Hadis mursal dapat diterima Imam Syafi’i dengan dua syarat; pertama, hadis mursal itu disampaikan oleh tabi’in yang banyak berjumpa dengan sahabar; kedua, ada petunjuk yang menguatkan sanad hadis ahad itu. Walaupun hadis mursal diterima Imam Syafi’i sebagai hujjah, namun menurutnya tidaklah sederajat dengan hadsi ahad; dan demikian juga hadis ahad, dapat diterima, tetapi tidak sejajar dengan al-Qur`an dan hadis mutawatir. Adapun kedudukan hadis terhadap al-Qur`an, menurut Imam Syafi’I adalah sebagai berikut:
  • Menerangkan ke-mujmal-an alQur`an, seperti menerangkan kemujmal-an ayat shalat
  • Menerangakan ‘am al-Qur`an, yaitu ‘am yang dikehendaki khash
  • Menerangkan fardu-fardu dari fardu-fardu yang telah ditetapkan alQur`an
  • Menerangkan mana yang nasikh dan mana yang mansukh dari ayat-ayat al-Qur`an.

   Berdasarkan penjelasan tersebut, tergambar dengan jelas, bahwa Imam Syafi’I dalam menetapkan hokum menempatakn sunnah sejajar dengan al-Qur`an. Menurutnya, kedua dalil itu sama-sama berasal dari Allah dan keduanya meruapakan sumber ajaran Islam. Imam Syafi’i memakai ijma’, qawl sahabat dan qiyas dengan merujuk pada kedua sumber ajaran Islam tersebut. Selanjutnya, Imam Syafi’i menerima hadis ahad sebagai hujjah dengan syarat, harus dari periwayat yang dapat dipercaya dan memenuhi kriteria tam al-dhabit. Imam Syafi’i menerima juga hadis mursal dengan syarat, periwayatnya banyak berjumpa dengan  sahabat dan sanad-nya dapat dipercaya. Menurutnya, posisi hadist mutawatir lebih tinggi dari pada hadis ahad dan hadis mursal.
     Pemikiran Imam Syafi’i tentang kehujjahan hadis dalam kitab Ar-Risālah dapat ditarik kesimpulan menjadi beberapa point, Pertama, Hadis wajib dijadikan hujjah atau dasar hukum (ad-Dalil asy-Syar’i) sama dengan al-Qur’an, dikarenakan adanya dalil-dalil syari’ah yang menunjukkannya. Kedua, al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman hidup, sumber hukum dan ajaran dalam Islam, antara yang satu dengan yang lainya tidak dapat dipisahkan. Ketiga, al-Qur’an adalah pokok hukum syari’at, pegangan umat Islam yang secara rinci menerima penjelasan dari hadis. 

4. Pendapat Imam Ahmad bin Hanbal
      Sumber kedua yang diperpegangi Imam Ahmad bin Hanbal dalam menetapkan hukum terhadap masalah yang dihadapinya, adalah al-sunnah. Imam Ahmad bin Hanbal menegaskan, untuk mencari apa yang ada dalam alQur`an harus melalui al-sunnah. Jika ada orang yang mencari sesuatu dalam al-Qur`an tanpa melalui, maka ia akan menempuh jalan kesesatan. Hal ini karena:
  1. Al-Qur`an mengharuskan kita mengi-kuti Rasul (sunnahnya)
  2. Ada hadis-hadis yang mengharuskan kita mengikuti Rasul dan melarang kita menghadapi al-Qur`an saja dan membelakangi al-sunnah
  3. Hukum yang di-ijma-i oleh paramuslimin banyak yang diambil dari al-sunnah, karena itu menghilangkan al-sunnah, berarti menghilangkan 9/10 hukum Islam.

  Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis ahad hanya dapat digunakan dalam bidang ‘amali (pengamalan) dan tidak boleh digunakant dalam bidang i’tiqadi (akidah). Akan tetapi Imam Ahmad bin Hanbal menggunakan hadis ahad dalam kedua bidang tersebut, baik itu ‘amali maupun i’tiqadi. Imam Ahmad bin Hanbal menerima hadis mursal jika berasal dari seorang sahabi atau seorang tabi’in atau tabi’- tabi’in. Hadis yang datang dari dari luar kelompok tersebut, tidak diterimanya. Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah seorang pembina hukum Islam dan banyak yang mengikutinya. Ia menerima hadis dha’if bila keadaan darurat. Imam Ahmad bin Hanbal memegangi hadis yang berkualitas dha’if, dengan syarat, periwayatnya bukan orang yang sengaja berdusta dan tidak menemukan penjelasan masalahnya dalam hadis, baik dalam hadis shahih maupun dalam hadis hasan.
    Kererangan di atas menggambarkan dengan jelas, Imam Ahmad bin Hanbal mengakui ke-hujjah-an al-sunnah dengan tegas dan jelas, dengan menggolongkan orang-orang yang menolak al-sunnah sebagai orang-orang sesat. Imam Ahmad bin Hanbal ber-hujjah dengan hadis mutawatir, hadis ahad, hadis mursal dan hadis dha’if. Bahkan ia mendahulukan hadis dha’if dari pada qiyas. 
Berdasarkan penjelasan-penjelasan yang telah dikemukakan tersebut, dapat dikatakan, bahwa para Imam Mazhab Empat dalam kegiatan menetapkan hukum terhadap seluruh masalah yang dihadapi pada masa hidupnya sebagai ulama mujtahid, menggunakan hadis sebagai sumber yang kedua. Namun demikian, di antara mereka menekankan persyaratan persyaratan bagi sebuah hadis yang dapat diterimanya sebagai hujjah.
    Untuk lebih lanjut sumbernya dapat dilihat dibawah!

Posting Komentar untuk "Argumentasi Kehujjahan Hadits"

SUBCRIBE VIA EMAIL