Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

SIFAT DASAR MARKETER DALAM ISLAM

sifat dasar marketer
1 Pendahuluan

       Pada dasarnya dalam diri manusia melekat sifat khas yang diberikan oleh allah swt. Dan berbeda-beda antara manusia satu dengan manusia lainya. Sifat adalah karakteristik yang melekat pada diri manusia. Allah menciptakan manusia dengan penuh kedasyatan. Akan tetapi, dibalik kedasyatan itu manusia juga dianugrahi beberapa karakter buruk maka banyak kegiatan marketing yang mulia dan penuh etika itu berubah  dengan penipuan dan manipulasi. Fenomena itulah yang sering kita jumpai di lapangan. Para marketer dalam melakukan entertaint marketing selama ini banyak sekali melakukan penyimpangan serta etika moral. Apabila fenoma itu terus di pertahanakan akan merusak dunia peradaban marketing.

       Saat ini tatkala bisnis syariah sedang banyak digandrungi, ada beberapa pendapat yang mengatakan pasar syriah adalah pasar yang emosional(emotional market) sedangkan pasar konvensional adalah pasar yang rational (rational market). Maksutnya orang tertarik untuk berbisnis pada syariah karena alasan-alasan keagamann yang lebih bersifat emosional.

 Febriani,(2012) mengemukakan beberapa kerakter buruk manusia yang disebut dalam al-qur’an antara lain:
       Pertama, mengeluh dan kikir. Allah berfirman.”sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan lagi kikir.:(qs al ma-ma’arij /70:19). Tanpa disadari, menegeluh adalah sifat dasar manusia yang timbul saat tertimpa masalah atau dalam kesempitan. Sedangkan kikir dalam bahasa arab disebut bakhil ,secara detail alla menguraikan dalam qs al israa’/17:100 “... dan adalah manusia itu sangat kikir.: sehubungan dengan hal tersebut maka, rasullah saw.menganjurkan agar kita selalu berdoa, agar selalu terhindar dari sifat kikir.
       Kedua, lemah. Dalam al-qur’an allah swt. Mendeskripsikan dua kelemahan manusia, yaitu lemah secara fisik dan lemah  dalam melawn hawa nafsu. Firman allah swt.” Allah, dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah...”(qs ar-rum /30:54) .
        Ketiga, zalim dan bodoh. Firman allah swt.”...sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.”(qs al-ahzab/33:72). Kezaliman dan kebodoan manusia dalam ayar ayat diatas disebabkan karena rusak dan kotornya bumi, karena pertumapahan darah dan ulah manusia itu sendiri yang tidak yang tidak merawt bumi dan seisinya sesuai dengan ketentuan allah.
       Keempat, tidak adil. Berlaku adil adalah tindakan tidak mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, namun begitu mudah untuk diucapkan dan diucapkan dala memotivasi. Azab allah yanga terkait dengan perilaku tidak adil dapat dicontohkan dalam firmanya” dan syu’aib, hai kaumku cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganla kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kerusakan.”(qs hud/11:85.

       Watak atau sifat inilah yang menjadi dasar dalam pembentukan karakter manusia sebagai khalifah yang akan menjalankan praktik muamalah berupa praktik pemasaran disebut dengan marketer dengan tujuan mewujudkan kejahteraan masyarakat. Karakter merupakan sifat yang melekat pada diri seseorang. Karakter atau watak mencerminkan kepribadiaan seseorang karena dengan karakter yang ia miliki seseorang akan menunjukan sifat dan tindakan nyata dalam berbuat dan berkata. Dalam islam, karakter seseorang melekat pada perilakunya atau dikenal dengan sebutan akhlak. Seorang marketer dalam islam selalu identik pada tiga pilar utama, yaitu karakter, akhlak, dan islam. Jika sinergi ketiga pilar tersebut dapat berjalan dan selalu menempel pada seseorang maka sesuailah kepribadian yang diinginkan islam.

2 Pola Pikir Marketer Muslim

       Berfikir secara rasional bagi marketer merupakan aspek penting karena pola berfikir akan menetukan bentuk perilaku dan perkataan yang di sampaikan. Singkatnya ungkapan yang di sampaikan mencerminkan hati dan pikiran. Berpikir adalah aktivitas yang dimulai dari mendapatkan informasi atas sebuah fakta melalui pancaindra (membaca, melelihat, mengingat dan bermimpi), kemudian menghubungkanya dengan informasi yangbtelah disimpan sebelumnya didalam otak, kemudian dikeluarkan melalui tindakan. Oleh karena itu, menurut sulaiman dan zakaria(2010), ada tiga hal mendasar yang menentukan kualitasnya: (1) kualitas informasi fakta (2) informasi yang di simpan sebelumnya (3) bagaimana menghubungkanya.

       Menurut amhar (2020), profesor riset bidang sistem informasi spesisal di badan koordinasi dan survei pemetaan nasional mengemukakan bahwa pola berpikir yang digunakan oleh marketer muslim adalah pola pokir yang berada pada level tertinggi yaitu pola pikir yang berada di atas berpikir ilmiah,berpikir ideologis, baru kemudian pada level tertinggi berpikir islam.

       Menurut syaik an- nabhani memberikan suatu metode yang khas dalam memcahkan persolan sesuai syariat islam. Metode ini digunakan untuk menentukan status hukum syara atau fakta. Metode tersebut secara garis besar menggunakan 3 langkah yang harus ditempuh: (1) memahami fakta/problem secara apa adanya. (2) memahami nash-nash syara yang berkaitan dengan fakta tersebut. (3) menggali hukum dari nash dan menerapkanya pada fakta (jika fakta itu belum ada hukum syaranya). Atau menerapkan hukum syara yang telah ada pada fakta ( jika sudah ada hukum syaranya).
Pola pikir marketer islam
Input, Membaca, melihat, bermimpi, ingatan
Proses, Berpikir
Output, Kata-kata, tindakan, tulisan
Sulaiman dan zakaria (2010:21-23) mengidentifikasi aplikasi berpikir cara alquran yang harus dilakukan oleh para marketer adalah:

1. Inquisitive thinking (berpikir karena ingin tahu)
       Dengan prinsip hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini maka bagi marketer itu adalah semangat baru yang menguntungkan. Semangat berpikir karena ingin tahu inilah yang melandasi marketer supaya kritis dan berpikir tentang wujud yang diciptakan dan keesaan allah sebagaiana firmanya dalam qs yunus/10:24.
2. Objective thinking (berpikir secara objektif)
      Ciri berpikir yang objektif adalah cara berpikir yang didasarkan pada bukti-bukti dan fakta yang kuat. Sebagai pebisnis berpikir dengan cara seperti itu dapat membantu meminimalkan asymmetrik information dalam menanggapi masalah atau berita. Berlandaskan dalam qs albaqarah 2:111.
3. Positive thinking ( berpikir positif)
        Al-qur’an mengajarkan kita untuk tidak mudah berputus asa dan selalu berharap kepada allah swt. Sebagaimana dalam alauran tersebut maka diharapkan para marketer selalu berpikir positif dan selalu optimis.
4. Intuitive thinking (berpikir berdasarkan insting)
        Allah menganugrahkan kepada manusia kelebihan yang disebutbdengan intuis yaitu kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektual. Dalam terminologi agama disebut had yaitu pemahaman yang secara tiba-tiba saja datang dar dunia lain tanpa kesadaran. Artinya, ilmu ini diperoleh dari pengilhaman atau ilmu ladunni yang semata-mata diberikan oleh allah swt.
5. Rational thinking ( berpikir secara rasional)
        Dalam memahami pola ini adalah cara berpikir yang logis, runtut dan argumentatif. Alquran juga telah memberikan pelajaran tentang pola berpikir secara rasional yaitu adanya hukum kausalita atau sebab akibat. Misalnya dirunkannya qs ar ra’ad ini terdiri 43 ayat, isi terpenting dari surat ini ialah bahwa bimbingan allah swt. Kepada makluknya bertalia erat dengan hukum sebab akibat.
6. Conceptual thinking (berpikir dengan konsep)
       Dengan konsep berpikir secara konseptual diharapkan pelaku bisnis akan mampu memadukan berbagai konsep untuk dijadikan temuan baru yang nantinya dapat memunculkan produk dan jasa yang lebih baru.
7. Analogical thinking (berpikir secara analogi)
       Dengan kemampuan berpikir secara analogi inilah para marketer akan mampu menerjemahkan konsep yang ditulis  dalam alquran untuk dipublikasikan dalam praktik pemasaran. Misalnya konsep halal dan haram yang mampu dipegang secra kuat oleh marketer sehingga marketer mampu menjalankan program  pemasaran secara sustainable tanpa harus melanggar aturan agama.
8. Perceptual thinking ( thinking dengan persepsi)
        Persepsi adalah fungsi psikis yang penting dan menajadi jendela pemahaman bagi peristiwa dan realita kehidupan yang dihadapi manusia. Cara berpikir ini pelaku pemasaran akan sangat bermanfaat khususnya menyikapi lingkungan dan alam semesta sehingga mampu gagasan yang positif.

3 . Sifat yang Harus Dimiliki Marketer Muslim 

       Sebelum membahas secara terperinci tentang sifat yang melekat pada diri marketer, maka terlebih dahulu mengidentifikasi karakter militant yang harus ada pada diri marketer dalam rangka berbisnis dengan sesama manusia maupun bersama Allah SWT.
Sebagaimana dikemukakan oleh Shihab (2008: 29-38) sifat dasar ini adalah:
Tidak cepat puas, prinsip ini mengacu pada semangat untuk memacu prestasi (nafsu ingin menanam kebaikan)
Fleksibilitas atau lentur, sifat ini menuntut pelaku bisnis untul supel (luwes) dengan berbagai kondisi dan relasi.
Ketabahan, kesabaran, keuletan. Tantangan dan hambatan harus dilalui dengan tabah, sabar dan dilarang berhenti berharap kepada Allah SWT.
Kemampuan memanfaatkan waktu dan peluang bahkan menciptakannya. Rasulullah Saw bersabda ‘’ada dua kenikmatan yang sering disia-siakan oleh kebanyakan manusia, yakni sehat dan waktu luang’’ (H.R Muttafa’alaih). Menurut Gomez (2007), seorang marketer dalam islam harus memiliki pola pikiran yang kreatif. Pola pikiran inilah yang dapat diistilahkan dengan kreatifitas yang dapat menjadikan marketer muslim untuk berlomba-lomba dalam melakukan amal kebajikan.
Percaya diri. Sikap ini menuntut hati marketer untuk yakin tentang apa yang dilakukan benar, objek yang diperdagangkan tidak palsu, dan bukan sesuatu yang dibenci Allah SWT.
Optimism. Sikap optimis akan dapat meningkatkan semangat bahkan dapat juga menjadi passion. Sebaliknya, berfikir yang negative, takut gagal dan mengurungkan niat akan menjadi penghambat.
Belajar dari pengalaman. Kesalahan atau kegagalan bila disadari merupakan obat yang sangat manjur untuk mencapai kesuksesan. Manusia memang tempatnya salah dan lupa, tetapi Allah mengingatkan bahwa ciri-ciri orang bertaqwa adalah orang yang tidak mengulangi kesalahan yang telah ia ketahui. 
Ketujuh karakter tersebut merupakan semangat militansi yang ada pada diri marketer. Menurut Krtajaya dan Sula (2006); Rivai (2012) Karakter atau akhlak yang harus dimiliki oleh marketer mulim ada Sembilan, yaitu
1. Memiliki kepribadian spiritual (Taqwa)
       Taqwa terlahir dari kata waqa-yaqi’-wiqayah yang secara bahasa artinya memlihara, ‘’memelihara diri dalam menjalankan hidup sesuai tuntunan petunjuk Allah’’. Taqwa secara definitive berarti memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dalam Al-qur’an Allah mendefinisikan taqwa melalui surat Al-Hujurat [49]: 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

‘’Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.’’

Sehingga dapat dikatakan bahwa esensi manusia yang memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditetapkan Allah adalah manusia yang taqwa, sedangkan esensi taqwa yang sesungguhnya ialah manusia yang selalu hati-hati dalam memerankan khalifatullah dengan cara selalu taat dan menjalankan perintah Allah serta menjauhi secara konsisten larangan-Nya.

2. Berkepribadian baik dan simpatik (Shiddiq)
        Secara bahasa Shiddiq berasal dari kata shadaqa yang memiliki arti yaitu benar, jujur, dapat dipercaya, sesuai apa yang dikatakan dengan apa yang diamalkan (integritas), ikhlas, tulus, keutamaan, kebaikan dan kesungguhan. Adapun dari segi istilahnya, para ulama memberikan definisi yang beragam. Meskipun demikian, semuanya mengarah pada satu titik makna, yaitu jujur, dapat dipercaya dan memiliki integritas.
Pilar penting dari sifat shiddiq ini yang harus melekat pada diri marketer menurut Kartajaya dan Sula (2006 70-71) antara lain:
Selalu menyampaikan wajah yang manis, sopan, berprilaku yang baik, empati dan simpatik. {Q.S [31]: 18-19}
Sifat lembut dan murah hati sebagaimana sifat Rasulullah Saw. {Q.S [3]: 159, Q.S [21]: 107}
Mampu membuat kesan yang baik sehingga terkenang dengan kebaikan yang dibuat. {Q.S [17]: 28}

3. Berlaku Adil (Al’Adl)
       Adil berasal dari bahasa Arab yang berarti berada ditengah-tengah, jujur, lurus, dan tulus. Secara terminology, adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran. Dengan demikian, orang yang adil adalah orang yang sesuai dengan standar hokum baik hokum agama, hokum positif (hokum Negara), maupun hokum social (hokum adat) yang berlaku.
Dalam Al-Qur’an kata ‘adl disebut juga dengan Qisth (Q.S Al-Hujurat [49]: 9). Degan dmikian orang adil selalu bersikap impersial, suatu sikap yang tidak memihak, kecuali kepada kebenaran. Bukan berpihak karena pertemanan, persamaan suku, bangsa maupun agama. Dengan sangat jelas Allah Swt menegaskan bahwa kebencian terhadap sesuatu golongan atau individu janganlah menjadi pendorong untuk bertindak tidak adil (Q.S Al-Maidah [5]: 8).

4. Melayani dengan rendah hati (Khidmah)
        Khidmah memiliki arti berupa kegiatan, pengabdian, dan pelayanan. Sedangkan pelakunya dinakan Khadim ‘abdi atau pelayan’. Dalam tradisi islam tindakan khidmah biasanya diwujudkan dalam bentuk sikap murid untuk membantu guru demi memperoleh kemanfaatan ilmu. Khidmah merupakan sarana melatih mental agar memiliki dedikasi yang tinggi kala berintegrasi dengan heterogenitas sikap masyarakat. Dengan khidmah pelaku pemasaran akan rendah hati dan tidak egois. Egoism yang terlalu tinggi akan menutupi pandangan yang objektif dalam menyelesaikan sebuah masalah, sehingga tidak akan tercipta suasana pelayanan yang berkualitas, melahirkan pelayanan dan keputusan yang sifatnya tebang pilih. Konsep Khidmah mengandung makna bahwa seseorang yang memberikan suatu khidmah berada dalam keadaan bebas, tidak terikat, melainkan sebagai tuan bagi dirinya sendiri. (Q.S An Nisa’[4]: 125)

5. Selalu menepati janji (Taklif)
      Janji dalam bahasa Arab disebut al-‘ahd. Dalam syariat islam janji merupakan akad (ikatan) yang wajib dipenuhi dan ditepati sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak yang mengadakan akad perjanjian. Baik mengenai waktu mauoun objek yang dijanjiakn. Allah memerintahkan setiap muslim agar menunaikan janji yang pernah diucapkan sebagaimana dalam Q.S An- Nahl [16]: 91

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

‘’Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.’

6. Jujur dan Terpercaya (Amanah)
       Amanah berasal dari kata ‘’ a-mu-na- ya’munu wa amanatan’’ yang artinya jujur atau dapat dipercaya. Secara bahasa amanah dapat diartiakan dengan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Dengan kata lain amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada seseorang untuk disimpan, dijaga dan dipelihara, baik berupa harta, rahasia, pekerjaan ataupun yang selainnya. Seseorang yang menjaga dan memelihara amanah dengan baik disebut ‘al Amin’.

7. Tidak berburuk sangka (Su’udzon)
       Menurut bahasa ‘’ as-suu’u’’ artinya semua yang buruk atau kebalikan dari yang bagus, semua yang menjadikan manusia takut, baik dari urusan dunia maupun urusan akhirat. Su’udzon menurut istilah prasangka yang menjadikan seseorang mensifati orang lain dengan sifat yang tidak disukainya tanpa dalil. Su’udzon adalah akhlak yang sangat tidak terpuji karena mengandung arti berburuk sangka, lawannya adalah Khusnudzan yang berarti berbaik sangka. Jadi setiap apa yang terjadi akan ditafsirkan baik oleh seseorang apabila ia mempunyai sikap khusnudzan.

8. Tidak menjelek-jelekkan (Ghibah)
        Secara bahasa kata ghibah berasal dari kata ghaba ya ghibu atau al-ghibah yang dalam bahasa arab mengandung arti menybutkan kata-kata keji atau meniru-niru suara atau perbuatan orang lain di belakangnya dengan maksud untuk menghinanya. Singkatnya ghibah berarti menggunjing.
Ghibah menurut istilah adalah membicarakan kejelekan dan kekurangan orang lain dengan maksud mencari kesalahan-kesalahannya, baik jasmani, agama, kekayaan, akhlak, maupun bentuk jahiriyah lainnya. Ghibah sejatinya merupakan aktivitas yang sia-sia, membuang-baung waktu, merugikan dan mendatangkan mudharat. Alangkah baiknya jika waktu, usia dan kesehatan yang dimiliki digunakan untuk aktivitas yang bermanfaat, bekerja dengan professional, menjaga silaturrahmi, supaya tetap menjalin sahabat yang baik dan menjaga akhlak.

9. Tidak melakukan suap (Rusywah)
       Menurut Hidayat (2012) risywah menurut bahasa berarti ‘’pemberian yang diberikan seseorang kepada hakim atau lainnya untuk memenangkan perkaranya dengan cara yang tidak dibenarkan atau untuk mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan kehendaknya’’.
Dalam islam sangat tegas melarang adanya praktek suap. Krena dengan suap persaingan sehat akan tiada, praktek sportif akan binasa, potensi berkembang akan hangus dan pengusaha kecil akan kesulitan hidup. Suap akan meruntuhkan sendi-sendi pemasaran dan merusak etika dalam berbinis.
Aktifitas bisnis yang secara tegas dilarang oleh islam yaitu:
  • Jangan melakukan transaksi bisnis yang diharamkan oleh islam
  • Jangan mencari dan menngunakan harta dengan jalan yang tidah halal
  • Jangan bersaing dengan cara batil
  • Jangan memasarkan makanan dan minuman yang dilarang syariah
  • Jangan menjelek-jelekkan produk atau orang lain
  • Jangan menjadi actor pamer aurat.
  • Jangan menipu atau bohong untuk meningkatkan transaksi. 
4. Sifat Marketer yang Disukai Allah Swt. Menurut Al-Qur’an

      Banyak sekali hal-hal yang disukai Allah Swt. Begitu juga sebaliknya. Namun, demikian paparan singkat berdasarkan ringkasan yang dikemukakan oleh ulama terkenal (Shihab, 2008:118-162) tentang sifat yang disukai Allah Swt. akan memberikan pedoman bagi para pemasar dalam membentuk pribadi-pribadi yang tangguh dan menyenangkan bagi Allah Swt.  sifat tersebut dapat diilustrasikan sebagaimana dalam gambar berikut:

1. Al- Muhsisnin
       Dalam Al- Qur’an kata al muhsisnin dikemukakan sebanyak lima kali yaitu Q.S Al-Baqarah [2]: 195, Q.S Ali Imran [3]: 134 &148, Q.S Al- Maidah [3]: 13 & 93. Kata Al- Muhsinin merupakan bentuk jamak dari kata muhsin (terambildari kata ahsana-ihsana). Pengertian dari kata Al Muhsinin adalah perintah melakukan kegiatan positif, seakan-akan Allah melihat atau merasa diawasi oleh Allah Swt. karena mrasa diawasi oleh Allah itulah maka pada diri manusia akan muncul kesadaran untuk berbuat sebaik mungkin dalam menjalankan aktivitas bisnisnya.

2. Al- Muttaqin
       Kata Al Muttaqin merupakan bentuk jamak dari muttaqy yang berasal dari kata taqwa yang artinya menghindar. Dalam Al Qur’an Allah Swt mengemukakan al muttaqin sebanyak tiga kali, yaitu Q.S Ali- Imran [3]: 76, Q.S At Taubah [9]: 4&7. Seseorang dikatakan takwa apabila berusaha menghindari siksaan atau ancaman Allah dengan jalan melaksanakan seluruh perintah-Nya. Bagi para pelaku pemasar bentuk ketaqwaan ini adalah menjunjung tinggi prinsip kejujuran, ksungguhan dalam melaksanakan program pemasaran, merealisasikan strategi secara adil dan terbuka, serta terbuka pada mekanisme pasar dan informasi.

3. Al- Muqsithin
       Al- Muqsithin adalah bentuk jamak dari kata muqsith. Berasal dari kata aqasatha yang bermakna berlaku adil. Al-Muqsithin dikemukakan dalam Alqur’an sebanyak tiga kali, yaitu: Q.S Al-Maidah [5]: 42, Q.S Al-Hujurat [49]: 9, Q.S Al Mumtahanah [60]: 8. Dalam praktek pemasaran implementasi sifat Al Muqsithin adalah terjadi taransaksi kedua belah pihak (produsen dan konsumen) untuk memperoleh nilai dari apa yang ditransaksikan hingga tercipta kondisi saling rela (sepakat) diantara kedua belah pihak.
Implementasi sifat Al-Muqsithin lainnya adalah meringankan beban orang lain dengan cara memberikan bantuan baik materi maupun nomateri tanpa memperhatikan ras, suku dan agama, karena tindakan ini sangat ditekankan oleh Allah melalui firman-Nya dalan Q.S Al-Baqarah [2]: 272.

4. Al- Mutathahhirin
       Dalam Al Qur’an sifat ini disebutkan sebanyak dua kali, yaitu Q.S Al- Baqarah [2]; 222 dan Q.S At Taubah [9]: 108. Kata Al Mutathahhirin merupakan bentuk jamak dari kata mutathahhir yang berasal dari kata tathahhar yang artinya adalah kesucian atau terhindar dari noda baik secara lahir maupun batin. Dalam konteks bisnis upaya pelaku pemasaran dalam membersihkan dirinya dari sifat pamer, iri dan dengki adalah bentuk upaya untuk menghindari perselisihan dan persaingan tidak sehat. Pelaku pemasaran islami hendaknya selalu tertanam dalam jiwanya sifat Al Mutathahhirin baik pada hati, pikiran, dan bukti fisiknya, karena dengan pribadi yang suci akan dapat menentukan kualitas keimanan seseorang.

5. At- Tawwabin
      Kata At Tawwabin merupakan bentuk jamak dari kata tawwab yang terambil dari kata taba yang artinya kembali. Sifat At Tawwabin ini dalam Al Qur’an dikemukakan sebanyak satu kali yakni dalam Q.S Al Baqarah [2]: 222. Manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan dekat dengan Allah, tetapi karena lahir didunia selalu mendapat gangguan dari setan maka dorongan nafsunya menjadikan dirinya menjauh dari Allah. Dengan adanya kesadaran untuk bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Maka manusia akan kembali semula yaitu suci dan dekat dengan Allah, sebagaimana manusia dilahirkan. Sifat At Tawwabin sangat penting bersemayan dalam diri pelaku pemasaran dalam rangka ‘’kembali’’ menuju cara dan jalan yang diharapkan oleh Allah Swt. karena persaingan semakin ketat dengan tuntutan yang semakin berat maka sudah saatnya kembali kepada Allah untuk meminta pertolongan supaya diselamatkan dari persaingan yang tidak sehat dan transaksi yang menyesatkan.

6. Ash- Shabirin
      Kata Ash- Shabirin merupakan bentuk jamak dari kata Ash- Shabir yang berasal dari kata Shabr (sabar). Makna katanya berarti menahan diri disertai dengan kekukuhan jiwa guna mencapai derajat ketinggian yang diharapkan-Nya. Kata Ash-Shabirin dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak satu kali, yaitu dalan Q.s Al- Imran [3]: 146. Seorang pemasar memiliki jiwa yang sabar merupakan syarat mutlak untuk menurunkan kualitas keimanan kepada Allah Swt. persaingan, godaan, praktek kotor, hambatan merupakan suatu fenomena yang ada dan selalu dihadapi. Maka dengan sifat sabar inilah akan melahirkan balasan kebaikan dan semakin menebalkan keimanan seseorang kepada Allah Swt.

7. Al- Mutawakkilin
       Kata Al-Mutawakkilin dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak stu kali, yaitu dalam Q.S Ali Imran [3]: 159. Al Mutawakkilin merupakan bentuk jamak dari kata muatwakkil yang berasal dari kata tawakal dan wakil. Perintah bertawakkal dalam konteks bisnis adalah bentuk memperhatikan hokum sebab akibat. Seorang pebisnis muslim diwajibkan untuk berusaha menjalankan roda bisnisnya, didukung dengan doa merupakan bukti pelaku bisnis tidak takabur kepada Allah Swt.

8. Kerja sama dan Networking
       Berjuang bersama dalam satu barisan yang kokoh juga dikemukakan dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaff [61]: 4. Ini sebagai landasan bahwa islam sangat menekankan pentingnya kebersamaan, networking dan koordinasi. Ciri khas ajaran islam sangat mengutamakan pada sifat dan prilaku tersebut, baik dalam hal ibadah ritual maupun bermuamalah. Networking dan koordinasi dalam bisnis memegang peranan penting sehingga menurut petuah agama upaya terseebut merupakan kunci keberhasilan dan kesuksesan dalam berbisnis.

9. Akhlak mulia
      Salah satu ciri khas islam adalah perhatian dan penekanan prilaku setiap marketer untuk selalu memperhatikan akhlak, terutama harus diwarnai dengan akhlak yang mulia. Dalam Q.S Al- Maidah[5]: 54 terdapat sifat khusus yaitu; 1) bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin. 2) mulai dan memiliki harga diri dan bersikap tegas terhadap orang kafir. 3) berjihad dijalan Allah Swt. 4) tidak takut celaan dari orang lain.

10. Al Ittiba’
       Al- Ittiba’ dalam pembahasan ini berarti meneladani, mengikuti secara sungguh-sungguh. Yang dimaksud Al Ittiba’ dalam konteks bisnis adalah adanya upaya manusia untuk meneladani apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Sebagai suri tauladan yang sempurna.

5. Iktisar

karakter watak yang mencerminkan kepribadian seseorang karena dengan karakter      yang dimilikinya sesorang akan menujukan sifat dan tindakan nyata dalam berbuat dan berkata. Karakter yang melekat dekenal dengan sebutan akhlak. Akhalak merupakan representasi dari islam itunsendiri islam identik dengan akhlak dan akhlak merupakan cerminan karakter seseorang. 
Tiga pilar utama seorang marketer, yaitu karakter, akhlak dan islam. Sinerginya ketiga pilar tersebut  maka sesuialah kepribadian yang diinginkan islam. Tetapi jika salah satu dari ketiga pilar tersebut tidak ada maka orang terseut hanyalah jasad yang tidak melengkapi atau belum sempurna keisklamanya.
Tiga hal dasar yang menentukan kualitas pola berpikir marketer muslim: kualitas informa fakta, informa yang disimpan sebelumnya dan bagaimana menghubungkanya.
Karakter atau akhlak yang harus dimilki oleh marketer muslim ada sembilan, yaitu memiliki kepribadian spriritual (taqwa), kepribadian baik dan simpatik (siddiq), berlaku adil (al’adl), melayani dengan rendahhati (khidmah), selalu menepati janji (tahfit), jujur dan terpecaya (al-amanah), tidak buruk sangka (su’uzdon), tidak mejelek-jelakan orang lain (ghibah) dan menghindari suap (riswah).
Sifat marketer yang disukai allah swt. Menurut alquran antara lain: al-muhsinin, al-muttaqin, al muqsithin, al mutathahhirin, at-tawwabin, ash-shabirin, al mutawakkilin, kerja sama dan network, akhlak mulia dan al- ittiba’.

Nilai-nilai dalam pemasaran syariah yang mengambil konsep dari teladan sifat Rasulullah Saw. Yaitu sifat shiddiq, amanah, fathanah, tabliqh dan istiqamah 

Posting Komentar untuk "SIFAT DASAR MARKETER DALAM ISLAM"

SUBCRIBE VIA EMAIL