Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pengertian Akhlak dan Tasawuf serta Hubungannya dengan Ilmu Lain

Akhlak

    Menurut bahasa akhlak berasal dari bahasa Arab, yaitu isim mashdar dari kata akhlaqa, yakhliqu, ikhlaqan. Sesuai dengaan wazan sulasi mazid af’ala, yuf’ilu, if’alan yang berarti al sajiyah (perangai).
    Dalam bahasa Indonesia kata akhlak sama dengan budi pekerti, adab, sopan santun, susila dan tata kerama. 
Sedangkan menurut istilahnya: 
  1. Seorang pakar bidang akhlak terkemuka dan terdahulu Ibnu Miskawih mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
  2. Imam Al Ghazali yang dikenal dengan Hujjatul islam mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
  3. Ibrahim Anis mengtakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa  yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan  baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran ataupun pertimbangan.

   Akhlak ialah institusi yang bersemayam di hati tempat munculnya tindakan-tindakan sukarela, tindakan yang benar atau salah. Menurut tabiatnya, institusi tersebut siap menerima pengaruh pembinaan yang baik ataupun yang salah. Apabila institusi dibina dengan pembinaan yang baik, seperti melakukan dan mencintai segala sesuatu yang hasan dan membenci segala keburukan, maka akhlak yang muncul akan baik pula. Namun apabila sebaliknya, institusi dibina dengan pembinaan yang buruk atau salah dan membenci segala hal yang baik,maka akhlak yang muncul akan buruk.

Dalil-dalil atau dasar hukum tentang akhlak
  Islam memuji akhlak yang baik, menyerukan kaum muslimin membinanya dan mengembangkannya di hati mereka. Islam menegaskan bahwa bukti keimanan ialah jiwa yang baik. Allah Ta’ala menyanjung Nabinya karena akhlaknya yang baik dalam firman-Nya,

وَاِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمٍ (٤)
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam:4)


Allah Ta’ala menyuruh Rasulullah SAW. berakhlak baik dalam firmannya,

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلاَ السَّيِّئَةُ  اِدْفَعْ بِلَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَ بَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهُ وَلِيٌّ
حَمِيْمٌ(٣٤)

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang ntaramu dan di antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fusilat: 34)

Allah Ta’ala menjadikan akhlak yang baik sebagai sarana untuk mendapatkan surga tertinggi dalam firmannya,

وَسَارِعُوْا اِلى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّموتُ وَالْاَرْضُ  اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ (١٣٣) الَّذِيْنَ
 يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ  وَاللَّهُ يُحْسِنِيْنَ (١٣٤)

Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa .(Yaitu) Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali-Imran: 133-134)

Rasulullah SAW. bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا.

Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan orang yang paling dekat duduknya dengan ku pada hari kiamat ialah orang yang paling baik akhlaknya diantara kalian.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)

Rasulullah bersabda,

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِىيُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَصْبِرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ َعَطَاءً
خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.

Dan barang siapa menahan diri (dari hal-hal haram dan dari meminta-minat manusia), maka Allah membuatnya suci. Barang siapa meminta kaya maka Allah mengkayakannya. Dan barang siapa meminta sabar maka Allah menyabarkannya. Seseorang tidak diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada pemberian berupa sabar.” (Diriwayatkan Muslim)

Pengertian Tasawuf
     Menurut Harun Nasution  ada lima istilah yang berkenaan dengan kata tasawuf:
  1. Al-suffah : yaitu orang yang ikut pindah dengan nabi dari mekkah ke madinah
  2. Saf     : Barisan
  3. Sufi     : Suci
  4. Sophos     : Hikmat
  5. Suf     : Kain wol

  Jadi dari segi  bahasanya dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana.
  Sedangkan menurut istilahnya adalah sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia, dan memusatkan perhatian hanya kepada allah SWT. 
Tasawwuf sebagai salah satu tipe maitisisme, dalam bahasa Inggris disebut sufisme. Kata tasawwuf mulai dipercakapkan sebagai satu istilah sekitar akhir abad 2 hijriyah yang dikaitkan dengan salah satu jenis pakaian kasar yang disebut shuff atau wool kasar. Kain sejenis itu sangat digemari oleh para zahid sehingga menjadi simbol kesederhanaan pada masa itu. Menghubungkan sufi dan tasawwuf dengan shuff, nampak nya cukup beralasan. Sebab, antara keduanya ada hubungan korelasi, yakni antara jenis pakaian yang sederhana dengan kebersahajaan hidup para sufi. Kebiasaan memakai wool kasar juga sudah merupakan karakteristik kehidupan orang-orang sholeh sebelum datang nya islam,sehingga mereka dijuliki dengan sufi, orang yang memekai shuff. Sebagian umat Islam yang kemudian disebut sufi dan ajarannya dinamai Tasawwuf. 

Asal Usul Tasawuf
   Pembicaraan mengenai asal-usul tasawuf merupakan persoalan yang sangat kompleks, sehingga tidak bisa dikemukakan jawaban serta merta (sederhana)terhadap pertanyaan asal usulnya. Bayak ilmuwan dan para pengamat tasawuf yang dengan tegas mengemukakan bahwa sumber-sumber tasawuf secara otentik  berasal dari dalam islam sendiri.
   Muhammad Fayqi Hajjaj menjelaskan bahwa “tasawuf islam tumbuh dan berkembang sendiri dalam atmosfer ajaran-ajaranislam sendiri sebagaimana pendapat para pakar yang objektif”. 
    Menurut para ahli sejarah tasawuf, zuhud atau asketisme merupakan fase yang mendahului lahirnya tasawuf pada abad pertama dan kedua hijriah. Asketisme bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan duniawi, melainkan hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya  mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana mereka tetap bekerja dan berusaha namun kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecendrungan kalbu mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari tuhannya.
    Tasawuf dalam islam didorong oleh kehidupan zuhud nabi SAW, para sahabat, tabi’in, tabi’ al-tabi’in dan ulama setelahnya. Menurut abu al-wafa’ taftazani, aliran asketisisme abad pertama dan kedua hijriyah dapat disimpulkan pada berbaagai karakteristik, diantaranya:
  1. Asketisisme berdasarkan ide-ide menjauhi hal-hal dunuawi. Demi meraih pahala akhira, dan memelihara diri dari azab neraka.
  2. Asketisisme ini bercorak praktis, dan para pendirinya tidak menaruh perhatian untuk menyusun prinsip teoritis atas asketisismenya tersebut.
  3. Motivasi asketisisme ini adalah rasa takut, yakni rasa yang muncul dari landasan amal keagamaan secara sungguh-sungguh.
  4. Asketisisme sebagian asketisme yang terakhir, khususnya di khurasan, dan pada rabi’ah al- adawiyah ditandai kedalaman dalam membuat analisa yang bisa dipandang sebagai  pendahuluan tasawuf.

  Pada abad ketiga hijriyah, tasawuf mengalami perkembangan pesat. Pada era ini telah banyak ulama yang diberi gelar as-shufi. Dan pada permulaan abad ketiga ini sudah terlihat adanya peralihan dari zuhud menuju tasawuf. Para zahid pada abad ketiga ini tidak lagi dikenal dengan gelar tersebut, tetapi mereka lebih dikenal dengan sebutan sufi (al-shufi).
  Para sufi pada era tersebut mulai cenderung memperbincang-bincangkan tentang akhlak, jiwa tingkah laku, pembatasan arah yang harus ditempuh seorang penempuh jalan menuju allah, yang dikenal dengan istilah tingkatan (maqam) serta keadaan (ahwal), ma’rifat dan metode-metodenya, tauhid, fana, penyatuan atau hulul.
   Sehingga dapat dikaatakan pada abad ketiga hijriyah ini merupakan mulai tersusunnya ilmu tasawuf dalam arti yang luas. Semua sufi pada abad ketiga dan ke empatb hijriyah menaruh perhatian terhadap pembahasan ahklak maupun pembahasan yang berkaitan dengannya, seperti latihan jiwa, taubat, kesabaran, ridho, tawakkal, takwa, rasa takut, rasa heran, cinta, ingat allah, jiwa dan penyakit-penyakitnya, dan tingkah laku maupun etika-etika serta fasenya.  Karya-karya biografi mereka penuh dengan pendapat-pendapat mereka tentang hal itu semua.
   Abu al-ala afifi berpendapat bahwa ada empat faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan tasawuf dalam islam, diantaranya:
  1. Ajaran-ajaran islam itu sendiri. Kitab suci al-quran yang mendorong  manusia agar hidup shaleh, takwa kepada allah, menghindari dunia beserta hiasannya, memandang rendah hal-hal duniawi, dan memandang tinggi kehidupan akhirat.
  2. Revolusi ruhaniah kaum muslim terhadap sistem sosio-politik yang berlaku.
  3. Dampak asketisisme masehi.
  4. Pertentangan terhadap fikih dan kalam.

Kondisi sosio-politik terlihat puncaknya pada zaman dinasti bani umayyah terjadi kelaliman dan penindasan sehingga banyak orang cenderung pada asketisisme. Penguasa bani umayyah yang hidup dalam kemewahan duniawi mengundang reaksi paea zahid yang menginginkan kesederhanaan hidup dan terciptanya kesetaraan hidup umat islam.
   Pada zahid pertamanya khalifah umayyah bertingkah laku  sama sekali bertentangan dengan kesederhanaan empat khalifah yang pertama. Para khalifah, keluarga dan pembesar istana hidup dalam keewahan sebagai akibat dari kekayaan yang diperoleh setelah islam meluas ke syiria, mesir, mesopotamia, dan persia. Muawwiyah hidup sebagai raja-raja roma dan persia dalam kemewahannya.
   Melihat fakta-fakta tersebut, orang-orang yang tidak mau terlena dalam hidup kemewahan dan mempertahankan hidup sederhan, mrnjauhkan diri dari kemewahan dunia tersebut. Bahkan diantara sebagian sahabat ada yang melakukan protes secara keras.

Relevansi tasawuf dengan ilmu lain
   Karena ilmu tasawwuf merupakan ilmu yang pokok dan syarat utama bagi disiplin ilmu yang lain, sebab tidak akan ada ilmu dan amal kecuali dengan maksud pendekatan diri kepada Allah. Jadi nisbah imu tasawwuf terhadap ilmu yang lain bagaikan nisbah ruh bagi jasad. Ilmu tasawwuf adalah ruh, sementara ilmu yang lain adalah jasad. Jasad tidaklah dapat hidup tanpa ruh, sebaliknya ruh bisa hidup tanpa jasad.

1. Tasawuf dengan sosial politik
      Kaitan tasawuf dengan sosial-politik bukan hanya masalah etis saja, asumsi dasar yang melatar belakanginya adalah kelahiran model tasawuf merupakan misi  kemanusiaan yang menggenapi misi islam secara holistik, mulai dari dimensi iman, islam, dan ihsan. Dalam praktek umat islam sehari-hari dimensi ihsan diwujudkan dalam bentuk dan pola beragama yang tawassuh(moderat),  tawazun (keseimbangan), i’tidal(jalan tengah), dan tasamuh(toleran).
Bukti-bukti historis  juga dapat diartikan bahwa model tasawuf sebagai kritik sosial  bukan hanya muncul belakangan ini saja sebagai  reaksi perubahan zaman, melain kan telah ada setidaknya secara embrionik pada masa awal kelahiran tasawuf sendiri.

2. Tasawuf dengan ilmu akhlak
     Menurut Harun Nasution ketika mempelajari tasawuf ternyata Al-quran dan Hadist mementingkan akhlak. Alquran dan hadist menekankan nilai-nilai kejujuran,kesetiakawanan,  persaudaraan, rasa kesosialan, , keadilan, tolong menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, dan lainnya. Nilai-nilai yang seperti ini harus dimasukkan dalam dirinya dari semasa ia kecil.
Ibadah yang dilakukan dalam rangka bertasawuf berhubungan erat dengan akhlak, karna ibadah dalam al-quran dikaitkan dengan takwa, dan takwa berarti melaksanakan perintah allah dan menjauhi larangannya. Tegasnya bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang berakhlak mulia.

DAFTAR PUSTAKA

Alba, Cecep. 2014. Tasawuf dan Tarekat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Bakr Jabir Al-Jazairi, Abu. 2012. Ensiklopedia Muslim. Bekasi: PT. Darul Falah.
Fauqi Hajjaj, Muhammad. 2013. Tasawuf Islam dan Akhlak. Jakarta: Amzah.
Rivay, Siregar. 2002. Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Suhayib. 2016. Studi Akhlak. Yogyakarta: Kalimedia

Posting Komentar untuk "Pengertian Akhlak dan Tasawuf serta Hubungannya dengan Ilmu Lain"

SUBCRIBE VIA EMAIL