Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Prinsip Transaksi Syariah

Manajemen Keuangan Syariah


A. Antara Wa'ad dan Akad Wa'ad

       Dalam perdata islam, janji disebut dengan wa’ad, sedangkan kontrak atau perjanjian disebut dengan kontrak (al-‘aqd). Dalam kontrak terdapat pernyataan atas suatu keinginan positif dari salah satu pihak yang terlibat dan diterima oleh pihak lainnya yang menimbulkan akibat hukum pada objek perjanjian, serta hak dan kewajiban atas masing-masing.
Berikut ini pendapat para ulama mengenai wa’ad:
  1. Mayoritas fuqahah (ahli hukum islam) dari kalangan mazhab hanafi, syafi’i, hanbali, dan salah satu pendapat sari mazhab maliki berpendapat bahwa wa’ad adalah bahwa janji itu hanya mengikat secara agama dan tidak mengikat secara hukum sehingga dapat dituntut dipengadilan.
  2. Sebagian ulama mazhab maliki berpendapat bahwa wa’ad adalah mengikat secara hukum apabila dikaitkan dengan suatu sebab, walaupun orang yang berjanji tidak menyebutkan sebab dalam perjanjiannya.
  3. Sebagian ulama mazhab maliki berpendapat bahwa wa’ad itu dikaitkan dengan suatu sebab dan sebab itu ditegaskan dalam pernyataan janji.

   Dari penjelasan tersebut, nampak jelas bahwa wa’ad(janji)  hanya mengikat menurut agam, tidak mengikat secara hukum. Sedangkan mazhab maliki yang memiliki empat pendapat , dan pendapat yang terkuat adalah pendapat yang ke empat, yaitu mengikat secara hukum, sama dengan kontrak, yakni janji itu dikaitkan dengan suatu sebab dan sebab tersebut dikemukakan dalam pernyataan janji.
Janji (wa’ad) dalam islam hukumnya wajib dilaksanakan/ditunaikan, seperti yang terdapat dalam qur’an dan hadist.
1. Qs: Al-Maidah:1
يايهاالذينءامنوااوفوابالعقود.........

Artinya: hai orang-orang yang beriman, tunaikanlah akad-akad itu.........

2. Qs: Al-Isra’:34
…..واوفوابالعهدان العهدكان مسئولا……..

Artinya: ......... “Dan tunaikanlah janji-janji itu, sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggung jawaban”...

3. Hadist nabi riwayat ibnu majah: dari ubadah bin shamit, riwayat ahmad ibnu abbas, dan riwayat imam malik dariyahya: dari abdullah ibnu mas’ud sesungguhnya rosulullah saw bersabda: “janji adalah utang”.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam fatwa DSN:
     Janji(wa’ad) dalam transaksi keuangan dan bisnis syariah adalah mulzim (mengikat) dan wajib dipenuhi oleh wa’id dengan mengikuti ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
  1. Wa’id (orang yang berjanji) harus cakap hukum
  2. Dalam berjanji dilakukan oleh pihak yang belum cakap hukum, maka keberlakuan janji tersebut bergantung pada izin wali
  3. Wa’id harus memiliki kemampuan dan kewenangan untuk mewujudkan mau’ud bih (sesuatu yang dijanjikan oleh wa’id)
  4. Janji harus dinyatakan secara tertulis dalam kontrak perjanjian.
  5. Wa’ad harus dikaitkan dengan sesuatu (syarat) yang harus dipenuhi


B. Akad

       Menurut bahasa akad adalah ar-rabbath (ikatan), sedangkan menurut istilah akad memiliki dua makna, yaitu :
  1. Makna khusus akad yaitu ijab dan qabul yang melahirkan hak dan tanggung jawab terhadap objek akad (menurut hanafiyah). 
  2. Makna umunya akad adalah setiap prilaku yang melahirkan hak, mengalihkan, mengubah, atau mengakhiri hak baik bersumber dari satu pihak atau dua pihak  (menurut malikiyah, syafi’iyah, hanabila)


    Ijab dan qabul dimaksud untuk menunjukkan adanya dan keinginan kerelaan timbal balik para pihak yang bersangkutan terhadap isi kontrak. Oleh karena itu ijab dan qabul menimbulkan hak dan kewajiban atas masing-masing pihak secara timbal balik. Ijab adalah pernyataan pihak pertama mengenai isi perikatan yang diinginkan, sedangkan qabul adalah pernyataan pihak kedua untuk menerimanya.
    Didalam akad, bentuk dan kondisinya sudah ditetapkan  secara rinci dan spesifik, bila salah satu atau kedua pihak yang terikat dalam kontrak itu tidak dapat memenuhui kewajibannya, maka ia menerima sanksi sesuai yang telah disepakati dalam akad. 

Perbedaan antara wa’ad dan akad
  1. Wa’ad adalah janji antara satu pihak kepada pihak lainnya Akad adalah kontrak antara dua belah pihak
  2. Wa’ad hanya mengikat satu pihak, yakni pihak yang memberi janji berkewajiban untuk melaksanakan kewajibannya. Sedangkan yang diberi janji tidak memikul kewajiban apa-apa. Akad mengikat kedua belah pihak yang saling bersepakat
  3. Dalam wa’ad syarat dan kondisinya belum ditetapkan secara rinci dan spesifik Dalam akad syarat dan ketentuannya sudah ditetapkan secara rinci dan spesifik
  4. Bila pihak yang berjanji tidak dapat memenuhi janjinya, maka sanksi yang diterimanya lebih merupakan sanksi sosial Bila salah satu pihak atau kedua yang terikat kontrak itu tidak dapat dipenuhi kewajibannya, maka mereka menerima sanksi yang telah disepakati dalam akad.

C. Antara Tabarru' dan Tijarah

Akad tabarru
     Dalam bahasa arab tabarru berasal dari kata birr yang artinya kebaikan. Akad tabarru adalah segala macam perjanjian yang menyangkut not-for profit transaction (transaksi nirlaba). 
     Transaksi ini pada hakikatnya bukan transaksi bisnis untuk mencari keuntungan komersial. Akad tabarru dilakukan dengan tujuan untuk tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan. Dalam akad tabarru pihak yang berbuat kebaikan tersebut tidak berhak mensyaratkan imabalan apapun kepada pihak lain. Imbalan dari akad tabrru adalah dari Allah SWT, bukan dari manusia.
     Dengan demikian pihak yang berbuat kebaikan tersebut boleh meminta kepada counter partnya untuk sekedar menutupi biaya yang dikeluarkan dalam melakukan akad tabarru. Tapi ia tidak boleh sedikitpun mengambil laba dari akad tabarru. 
     Contoh yang menggunakan akad tabarru adalah: qardh, rahn, hiwalah, wakalah, kafalah, wadiah, hibah, waqf, shadaqah, hadiah, dll.

Akad tijaroh
      Seperti yang telah disinggung diatas, berbeda dengan akad tabarru maka akad tijaroh adalah segala macam perjanjian yang menyangkut for profit transaction. Akad ini dilakukan dengan tujuan mencari keuntungan karna itu bersifat komersil. 
Contoh yang menggunakan akad tijaroh adalah: investasi, jual beli, sewa menyewa, dll.

Berdasarkan keuntungan yang diperoleh akad tijarah dapat dibedakan menjadi dua:
1. Keuntungan pasti, pendapatan yang pasti dapat terjadi pada transaksi:
  • Murabahah atau jual beli
  • Salam atau kerja sama atau bagi hasil
  • Isthisna’ atau upah mengupah
  • Ijarah atau sewa menyewa

2. Keuntungan tidak pasti, oendapatan yang tidak pasti dapat terjadi pada transaksi:
  • Mudharabah
  • Syirkah
  • Muzara’ah
  • Muzaqah


D. ANTARA NATURAL UNCERTAINTY DENGAN NATURAL CERTAINTY CONTRACK

        Berdasarkan tingkat kepastian dari hasil yang diperolehnya, akad tijaroh dapat dibagi menjadi dua kelompok :
1. Natural uncertainity contracts, yaitu kontrak atau akad dalam bisnis yang tidak memberikan kepastian pendapatan, baik dari segi jumlah, maupun waktunya. (Adiwarman Karim, 2003. Disini keuntungan dan kerugian ditanggung bersama.
Yang termasuk dalam transaksi ini adalah:
  • Musyarakah
  • Muzara’ah
  • Musaqah
  • Mukhabarah

2. Natural certainty contract, yaitu kontrak yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk saling mempertukarkan aset yang dimilikinya, karna itu objek pertukarannya harus ditetapkan diawal akad secara pasti, baik jumlahnya, mutunya, harganya, dan waktu penyerahannya.  Yang termasuk dalam kategori ini adalah kontrak:
  • Jual beli (Al bai’ naqdan, Al bai’ muajjal, Al bai’ taqsith, salam, istishna)
  • Sewa menyewa ( ijarah,dan ijarah muntahia bittamlik).


E. TEORI KETIDAK PASTIAN (UNCERTAINTY)

     Uncertainty adalah sebuah kondisi dimana terdapat kemungkinan munculnya hasil yang lebih dari satu, tetapi probabilitas masing-masing hasil tersebut tidak diketahui besarnya.
     Istilah uncertainty sering diterjemahkan dari kata bahasa arab Taghrir yang berarti: akibat, bencana, bahaya, risiko, dan ketidakpastian. Dalam istilah fiqih muamalah Taghrir berarti melakukan sesuatu secara membabi buta tanpa pengetahuan yang mencukupi, atau mengambil resiko sendiri dari suatu perbuatan  yang mengandung resiko, tanpa mengetahui dengan persis apa akibatnya, atau memasuki kancah resiko tanpa memikirkan konsekuensinya. 
    Taghrir sama seperti Tadlis, keduanya terjadi karena adanya incomplete information. Namun berbeda dengan tadlis, dimana incomplete information ini  hanya dialami oleh satu pihak saja,( misalnya: pembeli saja atau penjual saja), sementara dalam Taghrir , incomplete information ini dialami oleh kedua belah pihak ( pihak pembeli ataupun pihak penjual). Oleh karena itu kasus Taghrir terjadi bila ada unsur ketidak pastian  yang melibatkan kedua belah pihak.

KESIMPULAN

  1. Dalam perdata islam, janji disebut dengan wa’ad, sedangkan kontrak atau perjanjian disebut dengan kontrak (al-‘aqd). Dalam kontrak terdapat pernyataan atas suatu keinginan positif dari salah satu pihak yang terlibat dan diterima oleh pihak lainnya yang menimbulkan akibat hukum pada objek perjanjian, serta hak dan kewajiban atas masing-masing.
  2. Didalam akad, bentuk dan kondisinya sudah ditetapkan  secara rinci dan spesifik, bila salah satu atau kedua pihak yang terikat dalam kontrak itu tidak dapat memenuhui kewajibannya, maka ia menerima sanksi sesuai yang telah disepakati dalam akad.
  3. Akad tabarru dilakukan dengan tujuan untuk tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan. Dalam akad tabarru pihak yang berbuat kebaikan tersebut tidak berhak mensyaratkan imabalan apapun kepada pihak lain. Imbalan dari akad tabrru adalah dari Allah SWT, bukan dari manusia.
  4. Akad tijaroh adalah segala macam perjanjian yang menyangkut for profit transaction. Akad ini dilakukan dengan tujuan mencari keuntungan karna itu bersifat komersil.
  5. Natural uncertainity contracts, yaitu kontrak atau akad dalam bisnis yang tidak memberikan kepastian pendapatan, baik dari segi jumlah, maupun waktunya.
  6. Natural certainty contract, yaitu kontrak yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk saling mempertukarkan aset yang dimilikinya, karna itu objek pertukarannya harus ditetapkan diawal akad secara pasti, baik jumlahnya, mutunya, harganya, dan waktu penyerahannya
  7. Uncertainty adalah sebuah kondisi dimana terdapat kemungkinan munculnya hasil yang lebih dari satu, tetapi probabilitas masing-masing hasil tersebut tidak diketahui besarnya.Istilah uncertainty sering diterjemahkan dari kata bahasa arab Taghrir yang berarti: akibat, bencana, bahaya, risiko, dan ketidakpastian.


Jika Ingin dalam Bentuk File Dapat DOWNLOAD DISINI



DAFTAR PUSTAKA

Muhammad. 2014. Manajemen Keuangan Syariah. Yogyakarta: UPP STIM YKPN
Antonio, Muhammad Syafi’i. 2001. Bank Syariah Dari Teori ke Praktek, Jakarta, Gema Insani.
Kasmir, S.E. M.M.2011. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: Rajawali Pers.
http://Blogbinlahuri.blogspot.com/2013/11/teoriuntercainty-ketidakpastian-dalam.html?m=1

Posting Komentar untuk "Prinsip Transaksi Syariah"

SUBCRIBE VIA EMAIL