Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

FIKIH MUAMALAH : Definisi, Landasan Hukum serta Hikmah Qardh dalam Islam

Reformasi Pemikiran Hukum Islam


A. Definisi Qardh
        Qardh dalam arti bahasa berasal dari kata: qaradha yang sinonimnya: qutha’a artinya memotong.  Diartikan demikian karena orang yang memberikan utang memotong sebagian dari hartanya untuk diberikan kepada orang yang menerima utang (muqtaridh).
Dalam pengertian istilah, qardh didefinisiskan sebagai berikut:
  1. (Hanafiah) mendefinisikan bahwa Qardh adalah harta yang diberikan kepada orang lain dari ma mitslibuntuk kemudian dibayar atau dikembalikan. Atau dengan ungkapan yang lain, qardh adalah suatu perjanjian yang khusus untuk menyerahkan harta (mal mitsli) kepada orang lain untuk kemudian dikembalikan persis seperti yang diterimanya. 
  2. (Sayid sabiq) mendefenisikan bahwa qardh adalah  harta yang diberikan oleh pemberi utanng ( muqridh) kepada penerima utang ( muqtaridh) untuk kemudian dikembalikan kepadanya (muqridh) seperti yang diterimanya, ketika ia telah mampu membayarnya. 
  3. (Hanabilah)  mendefenisikan bahwa qardh adalah memberikan harta kepada orang memanfaatkannya dan kemudian mengembalikan penggantinya.

Dari defenisi diatas yang telah penulis kemukakan diatas, dapat diambil intisari bahwa qardh adalah suatu akad antara dua pihak, dimana pihak pertama memberikan uang atau barang kepada pihak kedua untuk dimanfaatkan dengan ketentuan bahwa uang atau barang tersebut harus dikambalikan persis seperti yang ia terima dari pihak pertama.   Menurut kompilasi hukum Ekonomi Syariah, qardh adalah penyediaan dana atau tagihan antar lembaga keuangan syariah dengan pihak peminjam yang mewajibkan pihak peminjam untuk melakukan pembayaran secara tunai atau cicilan dalam jangka waktu tertentu . defenisi tersebut bersifat aplikatif dalam akad pinjam meminjam antara nasabah dan lembaga keuangan syariah.

B. Dasar Hukum Qardh

Dasar disyariatkannya qardh adalah Al-qur’an dan ijma’.
  • Dalil alquran adalah firman allah dalam QS. Al-Baqarah/2: 245: “siapakah yang mau memberi pinjaman kepada allah, pinjaman yang baik (menafkahkan harta dijalan allah), maka allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” Sisi dari pendalilan ayat diatas adalah bahwa allah SWT menyerupakan amal shaleh dan pemberi infak fi sabilillah dengan harta yang dipinjamkan dan menyerupakan pembalasannya yang berlipat ganda kepada pembayaran utang. Amal kebaikan disebut pinjaman(utang) karna orang yang berbuat baik melakukannya untuk mendapatkan gantinya sehingga menyerupai orang yang mengutangkan sesuatu agar menapat gantinya. 
  • Dalil hadist adalah riwayat imam muslim yang bersumber dari abu Rafi’ r.a , sebagai berikut: “  sesungguhnya rosulullah saw berhutang seekor unta muda kepaa seorang laki-laki. Kemudian diberikan kepda beliau seekor unt shadaqah. Beliau memerintahkan abu Rafi’ kembali kepada beliau dan berkata, saya tidak menemukan diantara unta-unta tersebut kecuali unta yang usianya menginjak tujuh tahun. Beliau menjawab, berikanlah unta itu kepadanya karena sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar utang.”(HR.Muslim).
  • Dalil ijma’ adalah bahwa semua kaum muslimin telah sepakat dibolehkannya utang piutang. 


C. Rukun dan syarat qardh 

1. ‘aqid, yaitu muqridh dan muqtaridh
       Untuk ‘aqid, baik muqridh maupun muqtaridh diisyaratkan harus orang yang boleh melakukan tasarruf atau memiliki ahliyatul ada’. Oeh karena itu qardh tidak sah apabila dilakukan oleh anak-anak yang masih dibawah umur atau orang gila.
2. Ma’qud ‘alaih yaitu orang atau barang.
       Menurut jumhur ulama yang terdiri dari malikiyah, syafi’iyah dan hanabilah, yang menjadi objek akad dalam al-qardh sama dengan objek akad salam, baik berupa barang-barang yang ditakar(makilat) dan ditimbang (mauzunat) maupun barang yang tidak ada persamaannya dipasaran (qimiyat). Seperti: hewan, barang-barang dagangan, dan barang yang dihitung. Atau dengan perkataan lain, setiap barang yang boleh dijadikan objek jual beli, boleh pula dijadikan akad qardh.
3. Sighat (ijab dan qabul)
        Qardh adalah suatu akad kepemilikanatas harta. Oleh karena itu,  akad tersebut tidak sah kecuali dengan adanya ijab dan qabul, sama seperti akad jual beli dan hibah. Sighat ijab bisa menggunakan lafal qardh(utang atau pinjam) dan salaf (utang), atau dengan lafal yang mengandung arti kepemilikan.
      Contohnya: “saya milikkan kepadamu barang ini, engan ketentuan anda harus mengembalikan kepada saya penggantinya “. Penggunaan kata milik disini bukan berarti diberikan Cuma-Cuma, melainkan pemberian utang yang harus dibayar. 

D. Hukum qardh

     Menurut  imam abu hanifah dan muhammad, qardh baru berlaku dan mengikat apabila barang atau uang telah diterima. Apabila seseorang telah meminjam sejumlah uang dan ia telah menerimanya maka uang tersebut menjadi miliknya, dan ia wajib mengembalikan dengan sejumlah uang yang sama (mitsli), bukan uang yang diterimanya. Akan tetapi, menurut imam abu yusuf muqtaridh  tidak memiliki barang yang diutangnya (dipinjamnya) apabila barang tersebut masih ada.  
Menurut malikiyah, qardh hukumnya sama dengan hibah, shadaqah, dan ‘ariyah. Berlaku dan telah mengikat dengan telah terjadinya akad ( ijab qabul), walaupun muqtaridh belum menerima barangnya. Dalam hal ini muqtarudh boleh mengembalikan persamaan dari barnag yang dipinjamnya, dan boleh pula mengembalikan jenis barangnya, baik barang tersebut mitsli atau ghair mitsli, apabila barang tersebut belum berubah dengan tambah atau kurang. Apabila barang berubah aka muqtaridh wajib mengembalikan barang yang sama. 
       Menurut pendapat yang sahih dan syafi’iyah dan hanabilah, kepemilikan dalam qardh berlaku apabila barang telah diterima. Selanjutnya menurut syafi’iyah, muqtaridh mengembalikan barang yang sama kalau barangnya mal mitsli. Apabila barangnya mal qimi maka ia mengembalikannya dengan barang yang nilainya sama dengan barang yang dipinjamnya. Hal tersebut sesuai dengan hadist abu Rafi’ diatas, dimana nabi saw berutang seekor unta oerawankemudian diganti dengan unta yang umurnya enam masuk tujuh tahun. Setelah itu nabi saw bersabda:” sesungguhnya orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik dalam membayar utang.(HR. Jma’ah kecuali Bukhari). 

E. Hikmah disyariatkan Al-qardh

Hikamah disyariatkannya qardh dapat dilihat pada dua sisi:
  1. Dari sisi orang yang berhutang (muqtaridh) yaitu, membantu mereka yang membutuhkan.
  2. Dari orang yang memberi hutang(muqridh) yaitu, dapat menumbuhkan jiwa ingin menolong orang lain, menghaluskan perasaan sehingga ia peka terhadap kesulitan yang dialami orang lain. 

Adapun hikmah disyariatkan al-qardh menurut syekh sayyid tanthawi dalam kitabnya, fiqih al muyasssar adalah sebagai berikut: 

  • Memudahkan manusia
  • Belas dan kasih sayang terhaap mereka
  • Perbuatan yang membuka lebar-lebar kesulitan yang mereka hadapi
  • Mendatangkan kemaslahatan bagi mereka yang berhutang.

F. Manfaat Qardh

Manfaat qardh dalam praktik perbankan syariah banyak sekali, diamtaranya:
  1. Memungkinkan nasabah yang sedang dalam kesulitan mendesak untuk mendapatkan talangan jangka pendek
  2. Al-qardh al hasan juga merupakan salah satu ciri pembeda antara bank syariah dan bank konvensional yang didalamnya terkandung misi sosial, disamping misi komersial.
  3. Adanya misi sosial kemasyarakatan ini akan meningkatkan citra baik dan meningkatkan loyalitas masyarakat terhadap bank syariah. 


G. Aturan atau ketentuan umum al-qardh:

1. Pinjaman diberikan kepaa nasabah(muqtaridh) yang memerlukan
2. Wajib mengembalikan jumlah pokok yang diterima pada waktu yang telah disepakati
3. LKS dapat meminta jaminan kepada nasabah bila dipandang perlu
4. Nasabah dapat memberikan tambahan(sumbangan) dengan sukarela kepada LKS sepanjang tidak         diperjanjikan dalam akad
5. Jika nasabah tidak dapat mengembalikan sebagian atau seluruh kewajibannya pada saat yang telah disepakati dan LKS telah memastikan ketidakmampuannya, maka LKS dapat:
  • Memperpanjang jangka waktu pengembalian, atau
  • Menghapus seluruh atau sebagian kewajibannya



Daftar Pustaka

Anis, ibrahim. 2010. Al mu’jam al wasit. Kairo:dar ihya’ at turats
Mardani,  Fiqih ekonomi syariah. (jakarta: sinar grafika, 2009)
Sabiq, sayid,  Fiqih as sunnah. (Beirut: dar al fikr, 1983 M-1403 H, jus 3)
Tanthawi, sayid. 2011. Fiqih al muyassar. Jakarta: kencana
Wardi, ahmad muslich. 2010.  Fiqih muamalah. Jakarta: amzah 

Posting Komentar untuk "FIKIH MUAMALAH : Definisi, Landasan Hukum serta Hikmah Qardh dalam Islam"

SUBCRIBE VIA EMAIL