Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

FIKIH MUNAKAHAT : Jenis-jenis Pernikahan yang Rusak dalam Islam

Fikih Munakahat


A. Nikah Mut’ah 
    1.  Pengertian nikah mut’ah 
         Nikah mut’ah merupakan pernikahan sementara yang disepakati antara dua pihak, dikenal dalam pengertian sebagian negara timur dengan nama “Ash-Shighah”. Mut’ah telah menjadi kebiasaan antara kabilah-kabilah arab dalam setiap waktu, sebagaimana pernikahan yang dilakukan sebagian laki-laki saat permulaan islam, ketika mereka jauh dari istri-istri mereka karena peperangan.
Dari Abdullah bin Mas’ud  SAW bahwa ia berkata: kami berperang bersama rosulullah SAW dan tiadalah bersama kami para perempuan, lalu kami mengatakan: “tidaklah kami memiliki kekhususan?”
      Maka kami melarang dari hal itu kemudian kami diberi kemurahan untuk bersenang-senang, maka salah seorang kami menikahi perempuan dengan memberi pakaian sampai masa tertentu, lalu Abdullah bin Mas’ud membaca ayat berikut.

يايهاالذينءامنوالاتحرمواطيبت مااحل الله لكم ولاتعتدوا ان الله لايحب المعتدين

"Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagimu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas". Qs. Al-maidah :87.
Aku berkata :”Abdullah bin Mas’ud membaca dalam akhir hadisnya, ayat ini sebagai dalil atas kebolehan nikah mut’ah pada waktu itu, kehalalan rasulullah dianggap untuk menikah mut’ah sebagai kehalalan baginya dari Allah yang menggambarkan sifat Nabi. 

     Nikah muat’ah tersebut pada awal islam mubah. Dalam hadist dijelaskan bahwa nabi pernah mengizinnkan pada suatu peperangan dan sahabat dalam kondisi berat membujang (meninggalkan istri berbulan-bulan), namun kemudian ditetapkan secara pasti bahwa beliau melarang pernikahan mut’ah dan me-nasakh (menghapus kebolehanya). Larangan kemudian ini melalui periwayatan yang mencapai tingkat mutawatir. Beliau melarang nikah mut’ah ini terjadi sampai 6 kali dalam 6 peristiwa untuk memperkuat penghapusan tersebut oleh karna itu mayoritas umat dari kalangan fuqoha berpendapat batal dan tidak sah nya nikah mut’ah. Tidak ada yang berbea pendapat tersebut kecuali syi’ah imamiah yang masi memperbolehkanny. 
     Nikah mut’ah telah menjadi kebiasaan orang Arab pada masa jahiliah, maka tidak termasuk hikmah keharamannya kecuali dengan perlahan-lahan, sebagaimana aturan islam dalam memutuskan adat jahiliah yang berbeda dengan kemaslahatan dunia manusia.
Dapat diketahui bahwa nikah mut’ah tidak disepakati untuk kebaikan manusia, karena dengan ini hilanglah keturunan, pemanfaatan perempuan hanya terbatas untuk pemenuhan syahwat oleh laki-laki dengan merendahkan kepribadian perempuan, maka wajib keharamannya. Pernikahan ini hukumnya batal dan haruslah dibatalkan ketika terjadi. Haruslah memberi mahar jika telah bercampur, dan jika tidak maka tidak ada kewajiban baginya. 

2. Dalil jumhur tentang batalnya mut’ah 
     Jumhur ulama membatalkan nikah mut’ah dengan beberapa dalil yang diambil dari alqur’an , sunnah, ijma’ ulama yang diantaranya sebagai berikut

a. Dalil QS.Annisa (25)
فانكحوهن باذن اهلهن
"Karena itu kawinlah mereka dengan seizin tuan mereka" 
Ayat ini mewajibkan nikah dengan seizin keluarga, yaitu nikah syar’i yang harus ada izin dari wali dan disaksikan dua orang saksi. Nikah mut’ah tidak melakukan ini.

b. Dalil sunnah
     Diriwayatkan dari ibnu Abbas bahwa ia memberi fatwa tentang halalnya nikah mut’ah, maka ali berkata kepadanya:
انك تائه ان النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن متعة النساء

"Engkau bingung bahwa nabi saw telah melarang mut’ah pada wanita. (HR. Al-Bukhari), kemudian ia menahan tidak menfatwakan lagi".

c. Dalil Syiah Imamiyah tentang bolehnya Mut’ah
      Kaum syi’ah imamiyah memperbolehkan nikah mut’ah dengan beberapa dalil sebagai berikut.
فمااستمتعتم به منهن فئاتوهن اجورهن

"Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) diantara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna)" Qs. An-Nisa’: 24

     Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits tersebut diatas  ulama sepakat bahwa memang telah dibolehkan oleh nabi dan telah terjadi secara kenyataan perkaminan mut’ah tersebut pada waktu tertentu. Namun dalam kebolehannya nikah mut’ah itu sudah dicabut dengan artiansekarang hukumnya telah haram.

Penolakan dalil syiah 
     Dalil mut’ah mereka adalah surat An-nisa ayat 24 diatas, ayat ini tidak menunjukkan bolehnya mut’ah tetapi menuju kepada pernikahan yang abadi, karena ayat sebelumnya menjelaskan orang-orang yang haram dinikahi, yakni firman Allah Qs. An-nisa’: 23
حرمت عليكم امهتكم وبناتكم واخوتكم

"Diharamkan atas kamu mengawini ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan'"
Bentuk hakiki dari nikah mut’ah itu sebagaimana terdapat dalam literatur fiqih syiah imamiyah sebagai berikut: 
  1. Ada nikah dalam bentuk ijab dan qabul antara pihak yang berakad, baik menggunakan lafaz: na-ka-ha, za-wa-ja yang ke duanya digunakan untuk lafaz akad dalam perkawinan biasa, juga digunakan lafaz :ma-ta-‘a 
  2. Ada wali bagi perempuang yang belum dewasa, sedangkan yang telah dewasa tidak perlu ada wali dan wali itu diutamakan laki-laki sebagaimana berlaku dalam nikah daim. 
  3. Ada saksi sebanyak dua orang yang memenuhi syarat sebagaimana yang ditetapkan dalam syarat perkawinan biasa 
  4. Ada masa tertentu untuk masa perkawinan, baik diperhitungkan denagn tahun, bulan, minggu bahkan bilangan hari, yang masa ini disebutkan secara jelas dalam akad 
  5. Adanya mahar yang ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama, sebagaimana yang diisyaratkan dalam peristiwa biasa. 

    Dari uraian di atas terlihat bahwa dari segi rukun nikah tidak ada yang terlarang, namun dari segi persyaratan ada yang tidak terpenuhi, yaitu ada masa tertentu bagi umur perkawinan, sedangkan tidak adanya masa tertentu itu merupakan saah satu syarat dari akad.perbedaan lainya dari perkawinan biasa adalah tidak terbatasnya perempuan yang dapat dikawini secara nikah mut’ah, sedangkan pada perkawinan biasa di batasi 4 orang dengan syarat dapat berlaku adil.

B. Nikah Asy-Syighar
       Kata syighar berasal dari bahasa arab yaitu mengangkat kaki dalam kondisi yang tidak baik, seperti anjing mengangkat kakinya waktu kencing. Dalam arti defenitif ditemukan artinya dalam hadis nabi dari Nafi’ bin Ibnu Umar Muttafaq Alai yang dikutip Al-Syan’aniy dalam kitabnya subul Al-salam (III: 121) “seorang laki-laki mengawinkan anak perempuannya dengan ketentuan laki-laki lain itu mengawinkan pula anak perempuannya kepadanya dan tidak ada diantara keduanya mahar”
Nikah Asy-syighar yaitu seorang wali yang menikahkan ke walinya seorang laki-laki dengan syarat ia menikahkannya juga sebagai kewaliannya, baik mereka menikah menyebutkan keharamannya ataupun tidak. Hal ini berdasarkan hadis nabi:

عن ابي هريرة قال نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الشغارزادابن نميروالشغاران يقول الرجل للرجل زوجني ابنتك وازوجك ابنتي اوزوجني اختك وازوجك اختي

"Dari Abu Huraira ra ia berkata: Rasulullah saw melarang syighar, syighar yaitu seorang laki-laki yang mengatakan nikahkanlah aku dengan anak perempuanmu dan aku menikahkanmu dengan anak perempuanku, atau nikahkanlah aku dengan saudara perempuanmu dan aku menikahkanmu dengan saudara perempuanku."

    Dalam bentuk nyatanya ialah sebagai berikut : seorang anak laki-lakiberkata sebagai ijab kepada seorang laki-laki lainnya : “saya kawinkan anak perempuan saya bernama si A kepadamu dengan mahar saya mengawini anak perempuan mu yang bernama si B “ laki-laki lain itu menjawab dalam bentuk qabul : “saya terima mengawini nak perempuan mu yang bernama si A dengan maharnya kamu mengawini anak perempuan saya bernama si B”. 
     Dalam bentuk perkawinan tersebut diatas yang menjadi maharnya adalah perbuatan mengawinkan anaknya kepada seseorang, dalam arti kehormatan anaknya yang dirasakan oleh orang yang mengawini itu. Kedua anak perempuan yang dikawinkan oleh walinya itu sama sekali tidak menerima dan merasakan mahar dari perkawinan tersebut, sedangkan mahar itu adalah untuk anak perempuan yang dikawinkan itu, bukan untuk wali yang mengawinkannya. 
    Yang tidak terdapat dalam perkawinan itu adalah mahar secara nyata dan adanya syarat untuk saling mengawini dan mengawinkan. Oleh karna itu, perkawinan dalam bentuk ini dilarang, larangan itu terdapat dalam hadis nabi dari Nafi’dari ibnu umar dalam kualitas muttafaq alaih  ang bunyi nya :
Rasul Allah melarang perkawinan syighar. Perkawinan syghar  itu ialah bahwa seorang laki-laki mengawinkan anaknya dengan ketentuan laki-laki lain yang mengawinkan anaknya pula kepadanya dan tidak ada di antara kedua mahar. 
     Imam syafi’i menurut yang dikutup dalam subul al-Salam mengatakan tidak mengetahui secara jelas apakah definisi nikah syighar sebagaimana terdapat pada baris kedua hadis yang disebutkan diatas langsung dari nabi, atau dirumuskan oleh nafi’atau dari ibnu umar sebagai salah satu sanad , namun takrif nikah syighar tersebut begitu populer dalam kitab fiqih. 

   Hukum nikah ini haruslah dibatalkan sebelum bercampur, dan jika telah bercampur maka dibatalkannya selama tanpa adanya mahar, dan apa yang diberikan baginya untuk masing-masing mahar tidaklah batal. Ulama sepakat tentang keharaman hukum perkawinan syighar karena jelas adanya larangan nabi tersebut diatas dan nabi pun menjelaskan illat hukumnya, yaitu tidak terdapatnya mahar dalam perkawinan tersebut sedangkan mahar itu merupakan salah satu syarat dalam perkawinan. 
     Tetang sahnya perkawinan yang dilakukan syighar ini terdapat berbeda pendapat dikalangan ulama. Perbedaan pendapat tersebut didasarkan kepada dua pandangan:
Pertama : tidak bolehnya syighar itu disebabkan oleh larangan itu sendiri. Setiaplarangan menyebabkan tidak sahnya perbuatan yang dilarang itu kalo dikerjakan, bila larangan itu mengenai perbuatan itu sendiri. Berdasarkan pandangan ini perkawinan syighar termasuk perkawinan yang tidak sah . jumhur ulama berpendapat seperti ini. (ibnu Qudamah, 176) 
Kedua : dilarang nya perkawinan syighar tersebut karna alsan yang terdapat didalamnya, yaitu tidak tedapat padanya mahar, berdasarkan pandangan ini, maka yang tidak sah dalam perkawinan tersebut adalah maharnya, bukan perkawinan itu sendiri yang sudah terpenuhi rukunnya. Bila maharnya tidak sah, maka sebagai penggantinya adalah mahar mitsl.pendapat ini dipegang oleh ulama hanafiyah dan beberapa fuqaha, seperti ‘atha’, makhul, al-Zuhri, dan al-Tsauriy. 

   karena yang menjadi halangan disini tidak di sebutkannya mahar. Bagaimana sekiranya dalam akad perkawinan itu disebutkan maharnya secara tersendiri, seperti  :” saya kawinkan anak saya kepada mu dan kamu mengawinkan anak mu kepada saya dengan mahar masing- masing sekian”. Dalam hal ini terdapat pula pandangan dikalangan ulama. Ibnu Qudamah menukil pendapat imam al-syafi’iy dan imam ahmad yang menyatakan sahnya perkawinan tersebut. (ibnu Qudamah :176) 
     Baik UU perkawinan maupun KHI tidak membicarakan tiga bentuk perkawinan tersebut diatas, karena memanng ketiganya termasuk perkawinan yang dilarang agama, oleh karna itu tidak perlu diataur pelaksanaanya dalam peraturan yang resmi. 

C. Nikah Al-Muhallil
      Secara etimologis tahlil yaitu menghalalkan sesuatu yang hukumnya adalah haram. Orang yang dapat menyebabkan halalnya orang lain melakukan perkawinan itu disebut muhallil, sedangkan orang yang telah halal melakukan perkawinan disebut muhalla lah.
Nikah Muhallil adalah seorang perempuan dicerai tiga kali (talak ba’in qubra) maka haramlah menikahinya berdasarkan firman Allah swt:

فلاتحل له من بعدحتى تنكح زوجاغيره

"Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain." (Qs. Al-Baqarah: 230)
     Maka ia dinikahi laki-laki lain dengan maksud kehalalannya bagi suami yang pertama, pernikahan ini batil.Suami tersebut telah mengawini perempuan itu secara biasa dan kemudian menceraikannya dengan cara yang biasa sehingga suami pertama boleh kawin dengan mantan istrinya itu sebenarnya dapat disebut muhallil. Namun tidak perkatakan dalam hal ini, karna perkawinannya telah berlaku secara alamiah dan secara hukum. Suami yang telah menalak istrinya sebanyak 3 kali itu sering ingin kembali lagi kepada mantan istrinya itu. Kalau di tunggu dengan cara yang biasa menurut ketentuan perkawinan yaitu mantan istri kawin dengan suami kedua dan hidup secara layaknya suami istri, kemudian karnum suatu hal yang dapat dihidarkan suami yang kedua itu menceraikan istrnya,dan habis pula iddahnya, mungkin menunggu waktu yang lama.
   Untuk mempercepat maksudnya itu ia mencari seorag laki-laki yang akan mngawininya bekas istrinya itu secara pura-pura, biasanya dengan satu syarat bahwa setelah berlangsung akad segera diceraikan sebelum sampai digaulinya. Ini berarti kawin ini akal-akalan untuk cepat menghentikan suatu yang diharamkan. Atau sengaja melakuka perkawinan secara akal-akalan untuk mempercepat berlangsungnya perkawinan suami pertama dengan mantan istrinya. Perkawinan akal-akalan seperti inilah yang disebut perkawinan tahlil dalam asrtian sebenarnya. Suami kedua disebut muhallil dan suami pertama yang merekayasa perkawinan kedua disebut muhallal lah.  
     Hukum pernikahan ini batal dan tidak halal atasnya istri yang telah ditalak tiga, ia harus memberi mahar bagi istrinya jika menginginkan berkumpul, kemudian keduanya dipisahkan.
Orang Melayu menamakan “Cinta Buta”, yaitu perkawinan seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya tiga kali. Setelah habis ‘iddahnya perempuan itu diceraikan supaya halal dikawini oleh bekas suaminya yang telah menthalaqnya tiga kali. Nikah ini hukumnya haram bahkan termasuk dosa besar yang dikutuk Allah Ta’ala. Rasulullah saw bersabda: 

لعن الله المحلل والمحلل له

"Allah mengutuk muhallil (yang menikahi) dan yang menyurhnya menikah". (Riwayat Ahmad dari Abu Huraira)
   Rasulullah menamai laki-laki yang nikah dengan maksud agar perempuan yang ia kawini dapat dirujuk oleh bekas suaminya dengan sebutan “bandot sewaan”. Dalam hadis dikatakan:

الااخبركم بالتيس المستعارقالوابلى يارسول الله قال هوالمحلل لعن الله المحلل والمحلل له

"Tahukah kalian apakah bandot sewaan itu? Mereka menjawab. “Tidak ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Endot sewaan adalah muhallil, Allah melaknat muhallil dan orang yng menyuruhnya". (Riwayat Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Nikah ini haram dan termasuk dosa besar apabila maksudnya untuk menghalalkan perkawinan seseorang dengan bekas istrinya yang telah dithalaq tiga, baik dengan persetujuan bekas suaminya ataupun tidak, sebab semua perbuatan itu dinilai menurut niatnya. Apabila diniatkan untuk menghalalkan maka kawinnya haram dan batil, karena maksud perkawinan yang sebenarnya adalah untuk pergaulan abadi, untuk memperoleh keturunan, mengasuh anak dan membina rumah tangga yang sejahtera, sedangkan perkawinn muhallil ini meskipun namanya perkawinan tetapi dusta, penipuan yang tidak diajarkan Allah dan dilarang bagi siapapun. Dalam perkawinan ini ada unsur-unsur yang merusak dan bahaya yang diketahui oleh siapapun.

Pandangan Ibnu Taimiyah Tentang Nikah Tahlil
     Ibnu Taimiyah berkata: “Agama Allah bersih dan suci dari aturan yang mengharamkan kehormatan seorang wanita kemudian dihalalkan dengan bandot sewaan yang tidak ada niat untuk menhawininya, tidak akan membentuk ikatan kekeluargaan, tidak menginginkan hidup bersama dengan wanita yang dinikahinya, kemudian diceraikan lantas perempuan itu halal bagi bekas suaminya. Perbuatan tersebut adalah pelacuran dan zina seperti yang dikatakan oleh para sahabat Rasulullah saw. Bagaimana mungkin barng yang haram menjadi halal, yang keji menjadi baik dan yang najis menjadi suci?”
      Nyata sekali bagi orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah untuk menerima Islam dan hatinya mendapat cahaya iman, bahwa perkawinan semacam ini adalah keji sekali, tidak dapat diterima oleh akal dan syari’at para nabi. 
   Demikian pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah r.a. yang jami’ dan mani’nya mencakup segalanya. Tetapi ada sebagian ualam yang memperbolehkan, karena menurutnya dalam akad perkawinan itu tidak ada syarat akan cerai dan hukum diputuskan berdasarkan zhahirnya bukan menurut maksud niatnya dan akad tidak memerlukan niat.

 Kawin dengan Istri yang Pernah DiThalaq Tiga
      Apabila seorang laki-laki menceraikan istrinya sampai triga kali, bukan tiga kali dengan satu ucapan, maka ia tidak halal rujuk kepada istrinya, kecuali bila si istri telah pernah kawin dengan laki-laki lain kemudian dicerai dan habis ‘iddahnya. Perkawinannya harus perkawinan yang benar, bukan untuk maksud tahlil, dengan kawin yang sungguh-sungguh dan sudah bersetubuh dimana masing-masing pihak sudah merasakan madu dari perkawinan yang kedua:

فان طلقهافلاتحل له من بعدحتى تنكح زوجاغيره فان طلقهافلاجناح عليهماان يتراجع ان ظنالن يقيماحدودالله

"Maka apabial suami menceraikan istrinya (setelah thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum ia kawin dengan laki-laki lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya maka tidak ada dosa bagi keduanya (suami pertama dengan istri yang pernah dicerai) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum dari Allah." (Qs. Al-Baqarah: 230)

Dengan demikian maka seorang perempuan tidak halal bagi suami yang pertama kecuali dengan syarat sebagai berikut:
  1. Perkawinan dengan suami yang kedua adalah perkawinan yang sah. Karen perkawinan fasid tidak dapat menghalalkan wanita dithalaq tiga kali suami yang pertama.
  2. Perkawinan yang kedua bagi si perempuan adalah perkawinan atas dasar cinta bukan maksud tahlil (menghalalkan).
  3. Wanita itu sudah dicampuri oelh suami kedua setelah akad dan si laki-laki sudah merasakan madu dari istrinya dan istri juga sudah merasakan madu suaminya. 

Hikmah dari perkawinan ini adalah untuk mengajar suami pertama, biar ia tahu bahwa suaminya tidak halal lagibaginya setelah ia thalaq tiga kali, kecuali apabila sudah kawin dengan laki-laki lain, istri akan ditiduri orang lain, maka perkawinan dengan suami lain akan menimbulkan kerinduan dan kecemburuan bagi laki-laki yang menceraikannya, lebih-lebih kalau suami kedua itu adalah lawan atau saingannya. 

D. Nikah Al-Muhrim
      Nikah Al-Muhrim adalah seorang laki-laki yang menikah, sedangkan ia dalam keadaan ihram untuk haji atau umrah sebelum tahallul. Hukum pernikahan ini batal. 
Jika ia menginginkan nikah dengannya maka ia melaksanakan akad kembali setelah selesai haji atau umrahnya, berdasarkan sabda nabi:

لاينكح المحرم ولاينكح
"Orang yang berihram tidak menikah dan tidak menikahkan."
Maksudnya ia tidak melaksanakan akad nikah baginya dan ia tidak melaksanakan akad untuk orang lain. Larangan ini bersifat haram, yakni mengharuskan kebatalan. 

E. Nikah Masa ‘Iddah
    ‘Iddah menurut bahasa dari kata “al-‘udd” dan “al- ihsha’” yang berrti bilangan atau hitungan, misalnya bilangan harta atau hari jika dihitung 1/1 dari jumlah keseluruhan.
    Dalam kamus disebutkan, ‘iddah wanita berarti hari-hari kesucian wanita dan pengkabungan terhadap suami. Dalam istilah fuqaha’ ‘iddah adalah masa menunggu wanita sehingga halal bagi suami lain. ‘iddah sudah dikenal sejak masa jahiliah dan hampir saja mereka tidak meninggalkannya. Tatkala datang islam ditetapkan islam karena maslahah. ‘iddah diantara kekhususan kaum wanita walaupun disana ada kondisis tertentu seorang laki-laki juga memiliki masa tunggu, tidak halal menikah kecuali habis masa ‘iddah wanita yang dicerai. 
   Nikah masa ‘iddah yaitu laki-laki yang menikahi perempuan yang masih ‘iddah baik karena perceraian ataupun kematian.
   Pernikahan ini batil hukumnya, yaitu hendaknya mereka berdua dipisahkan karena batalnya akad dan ketetapan mahar tetap bagi perempuan meski ia tidak bercampur dengannya. Diharamkan baginya menikahinya sehingga setelah habis masa ‘iddah-nya sebagai hukuman baginya. Hal ini juga berdasarkan firman Allah swt:

ولاتعزمواعقدة النكاح حتى يبلغ الكتب اجله

"Dan janganlah kamu ber’zam (bertatap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya". (Qs. Al-Baqarah: 235)
     Nikah wanita yang sedang ber’iddah, nikah seperti ini jika sempat bersenggama setelah masing-masing mengetahui maka nikahnya batal, maka berbuatannya dianggap zina. Dan jika keduanya benar-benar belum mengetahui batalnya pernikahan itu atau tidak mengetahui adanya larangan menikahi wanita yang sedang ber’iddah karena baru masuk islam misalnya, maka perbuatan ini tidak dianggap zina tetapi senggama subhat.
    Dari penjelasan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa sifat pernikahan yang fasid disebabkan tidak sempurnanya rukun dan syarat sah nikah seperti pernikahan yang dilangsungkan pada masa ‘iddah yang belum habis, maka hukumnya haram. Adapun langkah hukum yang diambil untuk menuntaskan masalah ini adalah fasakh nikah. 
     Kemudian ada sisa kewajiban ‘iddah yang belim selesai untuk dilanjutkan oleh perempuan tadi, dengan memperhatikan kewajiban adatnya ketika ‘iddah kembali berlangsung. Selanjutnya jika masa ‘iddahnya sudah berakhir, maka barulah perempuan tersebut bisa melangsungkan pernikahan dengan akad baru sesuai dengan tuntunan agama dan hukum perkawinan di Indonesia. 
Bila ternyata ada yang melanggar larangan ini, maka perwakilan keduanya harus dibatalkan. Setelah dibatalkannya perkawinan tersebut dan habis masa iddah apakah boleh mantan suami mengawininya. Dalam hal ini berbeda pendapat ulama. (ibnu rusyd:35 )
      Imam malik, al-awza’iy, dan al-laits berpendapat bahwa pasangan yang kawin dalam masa iddah tersebut dipisahkan dan tidak boleh keduanya melangsungkan perkawinan sesudahnya itu untuk selamanya. 
      Ulama lain di antaranya abu hanifah, imam al-syafi’idan al–tsausriy berpendapat keduanya boleh melangsungkan perkawinan setelah keduanya dipisahkan dan habis masa iddahnya, dalam arti keharaman mengawininya perempuan itu bagi si laki-laki tidak berlaku untuk selamnya. Alasan mereka kiranya adalah perkawinan itu hak seseorang selama tidak ada dalil yang pastii untuk melanggarnya. Atsara sahabi tersebut di atas tidak cukup kuat untuk menghalangi perkawinan tersebut.
      Menurut tujuan hukum islam atau maqasid Asy-Syari’ah mengenai pernikahan bahwa pernikahan dilakukan untuk mencegah terjadinya mufsadat seperti zina. Pernikahan dalam masa ‘iddah tidak hanya berdampak pada pasangan suami istri tadi, tapi juga berdampak pada status anak, status harta, warisan dan lain sebagainya. Dalam ketentuan hukum perkawinan di Indonesia ada Undang-Undang No 1 Th 1974 tentang perkawinan dan kompilasi hukum islam (KHI). Hal ini menegaskan bahwa ‘iddah bersifat prinsip dan tidak bisa ditinggalkan bagi orang-orang yang memiliki tanggungan terhadapnya. ‘Iddah merupakan salah satu pokok dalam hukum islam, dimana dalam menjalankannya adalah bentuk kesempurnaan tujuan hukum islam khususnya dalam hal talak.

F. Nikah Tanpa Wali 
     Nikah tanpa wali yaitu laki-laki yang menikahi perempuan tanpa izin walinya.
Nikah ini bathil karena kurangnya rukun pernikahan yaitu wali. Berdasarkan hadis Nabi saw:

لانكاح الابولي
"Tidak ada pernikahan tanpa wali."

Hukumnya adalah hendaknya mereka berdua dipisahkan, suami tetap memberikan mahar jika menyentuhnya, dan setelah berpisah, ia menikahinya dengan akad dan mahar jika walinya merelakan dengannya. Sedangkan hadis menunjukkan bahwa pernikahan harus dilakukan dengan wali antara lain:

عن عائشة ان النبي صلى الله عليه وسلم قال لانكاح الا بولي وايماامراة نكحت بغيرولي فنكاحهاباطل باطل باطل فان لم يكن لهاولي فالسلطان ولي من لاولي لها

"Dari Aisyah bahwasannya Nabi saw bersabda, tidak ada nikah melainkan dengan adanya wali, dan siapa saja wanita yang nikah tanpa wali maka nikahnya batal, batal, batal. Jika dia tidak punya wali, maka penguasa (hakimlah) walinya wanita yang tidak punya wali "(HR: Abu Daud). 
1. Perempuan yang tidak mempunyai wali
     Menurut Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya, Al-Jami’li Ahkamil Qur’an (Al-Qurthubi, III: 76), seorang perempuan yang berada di daerah yang tidak ada penguasaannya dan ia tidak mempunyai wali, jika akan menikah supaya menyerahkan dirinya kepada tetangganya yang yang dapat dipercaya untuk menikahkannya. Tetangganya itu yang akan menjadi walinya. Karena orang harus kawin, maka ia harus berbuat sebaik mungkin. 
      Atas dasar ini, wanita yang lemah kondisinya, Imam Maliki berkata: Wanita itu supaya dikawinkan oleh orang yang diserahi oleh perempuan itu untuk menikahkannya, sebab ia termasuk orang yang tidak punya penguasa (hakim), keadaannya seperti perempuan yang tidak mempunyai wali. Kembali kepada asas bahwa orang islam lain adalah walinya (Qs. At-Taubah: 71)
Asy-Syafi’i berkata: Apabila disuatu daerah ada perempuan yang tidak mempunyai wali, kemudian menyerahkan persoalannya kepada seseorang lantas mengawinkannya, perbuatan itu dibenarkan. Masalah ini seperti bertahkim (meminta keadilan) kepada hakam dan hakam menepati posisi sebagai hakim.
     Pada dasarnya hak untuk menjadi wali dalam perkawinan ada ditangan wali aqrab, atau orang yang mewakili wali aqrab atau orang yang diberi wasiat untuk menjadi wali. Hanya wali aqrab saja yang berhak mengawinkan perempuan yang dalam perwaliannya dengan orang lain. Demikian pula ia berhak melarangnya kawin dengan seseorang apabila ada sebab yang dapat diterima, misalnya suami tidak sekufu atau karena si perempuan telah dipinang oleh orang lain atau jelek akhlaknya, atau cacat badan yang dapat menyebabkan perkawinannya dapat difasakhkan. Dalam hal semacam ini wali aqrab adalah yang berhak menjadi wali dan haknya tidak dapat berpindah kepada orang lain, hingga kepada hakim sekalipun. 
      Tetapi apabila wali tidak bersedia mengawinkan tanpa alasan yang dapat diterima, padahal si perempuan telah mencintai bakal suaminya karena telah mengenal kafa’ahnya, baik agama, budi pekertinya, wali yang enggan menikahkan ini dinamakan wali adhal, zalim.
Para ulama sependapat bahwa wali tidak boleh enggan menikahkan perempuan yang dalam perwaliannya, tidak boleh menyakitinya atau melarangnya kawin, padahal yang akan mengawinkannya itu sudah sekufu (sepadan) dan sanggup membayar maskawin. Dalam hal seperti ini, apabila walinya enggan menikahkan, maka si perempuan berhak mengadukan halnya kepada hakim untuk dinikahkan. Dalam hal semacam ini hak wali yang enggan menikahkan itu tidak berpindah kepada wali lain yang lebih rendah tingkatannya, tetapi langsung berpindah ke tangan hakim.
2. Wali tidak berada di tempat
     Sebelumnya telah dijelaskan tingkatan wali. Wali yang jauh (ab’ad) tidak berhak menikahkan selama masih ada wali aqrab. Misalnya apabila ayahnya masih ada maka hak wali itu tidak dapat berpindah kepada saudara laki-laki, apaman atau lainnya. Apabila saudara laki-laki atau paman menikahkan perempuan yang masih kanak-kanak atau orang yang berada di bawah perwaliannya tanpa izin ayahnya atau tanpa kuasanya berarti pelanggaran wewenang, akadnya mauquf, ditangguhkan berlakunya sampai ada izin dari yang berhak menjadi wali, yaitu ayahnya, demikian apabila wali aqrab itu ada. Apabila wali itu tidak ada dan si peminang tidak dapat menantikan izin dari walinya, maka hak menjadi wali itu harus dipindahkan kemaslahatannya. Wali yang tidak berada ditempat (gaib) apabila telah kembali tidak boleh menolak atau mengingkari pemindahan hak wali tersebut kepada wali lain.  Demikian menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah, Asy-Syafi’i membantah, beliau berpendapat: Apabila wali ab’ad menikahkan seorang wanita kemudian wali aqrabnya datang maka nikahnya batal. Apabila wali aqrabnya tidak berada di tempat, maka hak untuk menjadi wali tidak dapat berpindah kepada wali ab’ad tetapi harus dinikahkan oleh hakim.

G. Nikah dengan Perempuan Kafir 
     Haram bagi seorang muslim untuk manikah dengan kafir majusi baik ia menyembah api, komunisme, atau berhala, berdasarkan firman Allah swt: 

ولاتنكحوا المشركت حتى يؤمن

"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman." (Qs. Al-Baqarah: 221)
Sebagaimana tidak halal bagi seorang muslimah untuk menikah dengan seorang kafir secara mutlak, baik kitab atau bukan kitab.
Perempuan musyrik, yaitu yang percaya kepada banyak tuhan atau tidak percaya sama sekali dengan Allah, kelompok ini haram melangsungkan perkawinan dengan muslim. Begitu pula sebaliknya laki-laki musyrik. 
Mengawini perempuan ahli ktab bagi laki-laki muslim sebenarnya diboleh kan oleh karna ituada petunjuk yang jelas terdapat dalam Al-Qur’an, sebagaimana diantara terdapat dalam surah al-maidah ayat 5 :

اْليَومَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَا تُ وَطَعَمُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلَّ لَكُم وَطَعَامُكُم حِلَّ لَهُم وَالْمُحْصَنَاتُ مِن اْلمُؤمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِن الَّذِينَ أوتُو الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُم إِذَا ءَاتَيتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ.....

"pada hari ini dihalalkan kepadamu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi kitab itu halal untuk mu dan makanan kamu halal untuk mereka. Dan dihalalkan (mengawini ) perempuan yang menjaga kehormatan diantara perempuan-perempuan ahli kitab sebelum kamu, bilakamu telah memberikan mahar untuk mereka." 
Dalam hal ini agama apasajakah yang termasuk ahli kitab dan apakah golongan nasrani dan yahudi saat ini masih termasuk pengertian ahli kitab yang boleh dikawini oleh laki-laki muslim terdapat beda pendapat dikalangan ulama. Jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahli kitab dalam ayat yang di atas tadi adlah seorang yahudi dan nasrani. Selain dari dua agama tersebut tidak termasuk ahli kita (al-nawawiy : al majmu’,17:400) 
Dalam hal apakah hukum mengawini perempuan ahli kitab dalam ayat tersebut juga berlaku untuk kaum orang yahudi dan kristen, terdapat perbedaan ulama fiqh. Mayoritas ulama mengatakan mereka tidak termasuk lagi dalam bagian dari ahli kitab yang boleh dikawini. Mereka dikelompokkan dalam golongan musyrik yang terdapat dalam ayar yang diatas. Adapun perkawinan perempuan muslimah dengan laki-laki ahli kitab disepakati oleh ulama tentang keharamannya, karna tidak ada petunjuk sama sekali yang membilehkannya. 
Larangan perkawinan atau juga yang disebut dalam kitab fiqh dengan al-muharramat min an-nisa’  sepenuhnya diatur dalam undang-undang perkawinan yang materinya mengikuti fiqh yang keseluruhannya bersumber dari surah an-nisa ayat : 22, 23,24,.
 Larangan perkawinan dalam UU perkawinan dikelompokkan dalam bab: syarat-syarat perkawinan. 



DAFTAR PUSTAKA

Al- Hamdani, 2002, Risalah Nikah, Jakarta: Pustaka Amani.
Muhammad, Abdul Aziz dan Sayyed, Abdul Wahab, 2017, FIQIH MUNAKAHAT khitbah, nikah, dan talak, Jakarta: Amzah.
As-Subki, Ali Yusuf, 2012, FIQIH KELUARGA  pedoman berkeluargadalam islam,Jakarta: Amzah. 
Syarifuddin, Amir, 2006, Hukum Perkawinan Islam diIndonesia Antara Fiqih Munakahat Dengan Undang—ndang Perkawinan,Jakarta: Kencana.

Posting Komentar untuk "FIKIH MUNAKAHAT : Jenis-jenis Pernikahan yang Rusak dalam Islam"

SUBCRIBE VIA EMAIL