Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

HAKIKAT BISNIS ISLAM : Pengertian, Tujuan, Ruang Lingkup Serta Contohnya

HAKIKAT BISNIS ISLAM : Pengertian, Tujuan, Ruang Lingkup

A. Pengertian Bisnis 

Bisnis dengan segala macam bentuknya terjadi dalam kehidupan kita setiap hari, sejak bangun pagi hingga tidur kembali. Alarm jam weker yang membangunkan kita dini hari dengan lantunan merdunya azan, sajadah alas shalat kita, susu instan yang "aku dan kau" minum, mobil atau sepeda motor yang mengantarkan kita ke kantor, serta semua kebutuhan rumah tangga kita, seluruhnya  adalah produksi yang dihasilkan, didistribusikan, dan dijual oleh para pelaku bisnis. Uang yang dibelikan beragam produk tersebut  juga mungkin diperoleh dari bekerja pada suatu bisnis.  
Contoh di atas yang menunjukkan betapa luasnya cakupan bisnis. Bila semua itu dicoba diterjemahkan dalam sebuah pengertian yang komprehensif, pengertian tersebut  juga akan sangat beragam. 

Kata bisnis masuk ke dalam perbendaharaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, yang antara lain diartikan sebagai: Buyying and Selling, Commerce, Trade, yakni jual-beli, perniagaan dan perdagangan Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata bisnis antara lain diartikan sebagai usaha dagang, usaha komersial dalam perdagangan. Bisnis adalah interaksi  antara dua pihak atau lebih dalam bentuk tertentu untuk memperoleh manfaat, karena interaksi tersebut mengandung resiko maka diperlukan manajeman yang baik untuk meminimalkan sedapat mungkin risiko itu.

Dalam bahasa Arab atau istilah agama tersebut dinamai muammalah. Dalam definisi  lain, bisnis adalah segalabentuk aktivitas dari berbagai transaksi yang dilakukan manusia guna memperoleh keuntuangan, baik berupa barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. 

Adapun pengertian bisnin menurut para ahli ; 

Straub dan Attner (1994), bisnis tak lain adalah suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan penjualan barang-barang dan jasa-jasa yang dibutuhkan oleh konsumen untuk memperoleh laba.  Barang yang dimaksud adalah produk yang dapat dilihat secara fisik memiliki wujud  (dapat diindra), sedangkan jasa  adalah aktivitas  yang memberi manfaat bagi konsumen atau pelaku  bisnis lainnya.   

Menurut M. Azrul Tanjung, bisnis bisnis didefisinikan sebagai  keseluruhan aktivitas yang menyediakan dan / atau menghasilkan produk (barang dan jasa) guna menciptakan manfaat dan nilai yang baik bagi diri sendiri ataupun orang lain. 

Ebert dan Griffin (2011) adalah suatu organisasi yang menghasilkan barang/jasa yang kemudian dijual dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan (profit). Profit adalah selisih dari pendapatan (revenue) dengan biaya (cost). Profit inilah yang mendasari para pelaku bisnis menjalankan bisnisnya dan melakukan serangkaian aktivitas ekspansi-bisnis. 

Pengertian Bisnis Islami 

Setiap manusia memerlukan harta untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Karenanya, manusia akan selalu berusaha memperoleh harta kekayaan itu. Salah satunya melalui bekerja, sedangkan salah satu dari ragam bekerja adalah berbisnis. Islam mewajibkan setiap muslim, khususnya yang memiliki tanggungan, untuk "bekerja". Bekerja merupakan salah satu sebab pokok yang memungkinkan manusia memiliki harta kekayaan. Untuk memungkinkan manusia berusaha mencari nafkah, Allah SWT melapangkan bumi serta menyediakan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan manusia untuk mencari rezeki.

Dalam islam bisnis dapat diartikan sebagai serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah (kuantitas) kepemilikan hartanya (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara perolehan dan pendayagunaan hartanya (ada aturan halal dan haram). 

B. Tujuan Bisnis

Secara umum, ada beberapa tujuan dari bisnis, yaitu:

a. Menyediakan barang atau jasa.  
Terkait, suatu usaha atau bisnis di- dirikan untuk menghasilkan berbagai produk, baik dalam bentuk barang atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat luas.  Berbagai produk yang dihasilkan harus mengutamakan kualitas. Madura (2007) dalam bukunya menuliskan bahwa suatu bisnis didirikan untuk menyediakan produk yang diinginkan oleh pelang- gan atau untuk melayani kebutuhan pelanggan, sehingga dapat memperoleh keuntungan bagi bisnisnya

b. Keuntungan (profit). 
Setelah produk dihasilkan, kemudian dipasar- kan kepada pembeli, maka selanjutnya yang diharapkan keuntungan dari penjualan produk tersebut. Keuntungan (laba) merupakan selisih antara pendapatan dan biaya operasional suatu bisnis

 c. Kesejahteraan pemilik faktor produksi dan masyarakat. 
Keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan, maka keuntungan tersebut digunakan untuk membiayai berbagai operasional perusahaan, sebagai bentuk kesejahteraan bagi pemilik modal (investor), untuk membayar upah tenaga kerja yang berasal dari masyarakat sebagi bentuk imbal jasa tenaga dan pikiran yang diberikan kepada perusahaan.

d. Menjaga keberlangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang.
 Setiap usaha atau bisnis tentunya memiliki visi, tujuan, dan sasaran yang ingin dicapai. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuh- kan komitmen dan kerja keras dari pemilik modal beserta para karyawannya:

 e. Kemajuan atau pertumbuhan. 
Suatu usaha atau bisnis yang didirikan diharapkan dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Pemilik usaha tentunya tidak ingin bisnisnya, dari waktu ke waktu hanya begitu saja kondisinya. Oleh karena itu, dibutuhkan keseriusan dalam mengelola bisnis yang didirikannya tersebut. 

f. Prestise atau prestasi. 
Suatu usaha atau bisnis didirikan sebagai bentuk prestise dari pemilik modal (investor). Misal, seseorang memiliki modal yang besar berkeinginan mendirikan perusahaan yang bertujuan untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang se- luasluasnya kepada masyarakat, membantu meningkatkan tingkat pendapatan masyarakat sekitarnya, atau sebagai bentuk kepuasan (aktualisasi) diri. 

Tujuan bisnis syariah 

Aktivitas perdagangan (bisnis) diperlukan, karena manusia tidak mampu memenuhi keperluannya sendiri tanpa bantuan orang lain. tujuan bisnis syariah adalah untuk mengembangkan harta dan memperoleh keuntungan dengan jalan yang halal dan diridhai oleh Allah SWT. 

Selain itu, menurut Veithzal Rifai, bisnis dalam Islam bertujuan untuk mencapai empatal, yaitu sebagai berikut :

 1. Target Hasil 
Tujuan bisnis tidak selalu mencari profit (qimah madiyah atau nilai materi), tetapi harus dapat memperoleh dan memberikan benefit (ke- untungan dan manfaat) nonmateri, baik bagi si pelaku bisnis sendiri maupun pada lingkungan yang lebih luas, seperti terciptanya suasana persaudaraan, kepedulian sosial dan sebagainya. 
Di samping untuk mencari qimah madiyah, juga masih menjadi dua orientasi lainnya, yaitu qimah khuluqiyah dan ruhiyah. Qimah khuluqlyah adalah nilai- nilai akhlak mulia yang menjadi suatu kemestian yang muncul pada kegiatan bisnis, sehingga tercipta hubungan persaudaraan yang islami, baik antara majikan dengan buruh, maupun antara penjual dengan pembeli (bukan hanya sekadar hubungan fungsional maupunQimah ruhiyah berarti, perbuatan itu dimaksudkan untuk mendekat- kan diri kepada Allah. Dengan kata lain, ketika melakukan suatu aktivitas bisnis, maka harus disertai dengan kesadaran hubungan dengan Allah. Inilah yang dimaksud, bahwa setiap perbuatan Muslim adalah ibadah. Amal perbuatannya bersifat materi, sedangkan kesadaran akan hubungan dengan Allah ketika melakukan bisnis dinamakan rohnya. 

2. Pertumbuhan. 
Jika profit materi dan benefit nonmateri telah diraih, maka diupayakan pertumbuhan akan kenaikan akan terus-menerus meningkat setiap tahunnya dari profit dan benefit tersebut. Upaya pertumbuhan ini tentu dalam koridor syariah. Misalnya dalam meningkatkan jumlah produksi, seiring dengan perluasan pasar dan peningkatan inovasi agar bisa menghasilkan produk baru, dan sebagainya

3. Keberlangsungan. 
Pencapaian target hasil dan pertumbuhan terus diupayakan keber langsungannya kurun waktu yang cukup lama dan dalam menjaga keberlangsungan itu dalam koridor syariat Islam

4. Keberkahan. 
Faktor keberkahan atau upaya menggapai ridha Allah, merupakan puncak kebahagiaan hidup Muslim. Para pengelola bisnis harus mematok orientasi keberkahan ini menjadi visi bisnisnya, agar sen- antiasa dalam kegiatan bisnis selalu berada dalam kendali syariat dan diraihnya keridhaan Allah. 

C. Ruang Lingkup Aktivitas Bisnis

1. Lingkungan internal, yaitu lingkungan yang memengaruhi bisnis dari internal perusahaan itu sendiri, di antaranya sebagai berikut:
  • Lingkungan fisik. 
  • Lingkungan SDM. 
  • Lingkungan organisasional. 

2. Lingkungan eksternal, yaitu lingkungan yang memengaruhi bisnis dari eksternal perusahaan, terbagi atas hal-hal berikut ini. 
a) Lingkungan Eksternal Mikro Penjelasannya dalam konsep keunggulan bersaing Michael Porter, yaitu hal-hal yang memengaruhi dari sisi eksternal mikro perusahaan, yaitu sebagai berikut: 
  1. Intensitas pesaing perusahaan yang sudah lebih dahulu ada. 
  2. Masuknya pesaing baru. 
  3. Munculnya barang substitusi.
  4. Adanya daya tawar supplier.
  5. Adanya daya tawar konsumen.

b) Lingkungan Eksternal Makro Hal-hal yang memengaruhi bisnis Δ‘ari sisi lingkungan eksternal makro, antara lain sebagai berikut: 
  1. Faktor ekonomi.
  2. Faktor sosial dan budaya.
  3. Faktor teknologi.
  4. Faktor politik, hukum, dan keamanan. 
  5. Faktor global alam. 

Contohnya

Posting Komentar untuk "HAKIKAT BISNIS ISLAM : Pengertian, Tujuan, Ruang Lingkup Serta Contohnya"

SUBCRIBE VIA EMAIL